Home / Berita / Profil / Basyar Asad, Diktator Suriah yang Bersembunyi di Balik Penampilan Kalemnya

Basyar Asad, Diktator Suriah yang Bersembunyi di Balik Penampilan Kalemnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Basyar Asad (www.syrrevnews.com)
Basyar Asad (www.syrrevnews.com)

dakwatuna.com – Damaskus. Basyar Asad, kembali menang dalam pemilu yang disebut banyak kalangan tidak memenuhi syarat-syarat demokrasi. Entah berapa tahun lagi dia ingin berkuasa, karena sudah 14 tahun dia menjadi presiden Suriah.

Sekilas lalu mungkin orang akan mengiranya sebagai seorang yang ramah, sopan, penyayang, dan penuh kasih kepada orang lain. Itu karena penampilannya yang perlente, kalem dan penuh senyum. Tapi ternyata di balik penampilan itu, ternyata dia seorang diktator yang memimpin perang tanpa ampun melawan oposisi hingga empat tahun ini. Ratusan ribu orang telah menjadi korban kebiadaban presiden yang merupakan lulusan kedokteran ini.

Presiden berumur 48 tahun ini tak ada bedanya dengan para pemimpin Arab yang memakai tangan besi dalam mempertahankan kekuasaannya. Walaupun tampilannya tak segarang Saddam Husain dan Muammar Qadzafi yang juga dikenal kejam. Basyar berkulit putih, bermata biru, sering terlihat tersenyum malu saat tampil. Tubuhnya yang ramping dan tinggi sangat jarang terlihat dibalut pakaian militer. Dia selalu mengenakan jas necis lengkap dengan dasi yang serasi.

Kehidupan dokter spesialis mata ini berubah total saat kakaknya, Basil Asad, meninggal dunia tahun 1994. Basil inilah yang sebenarnya telah disiapkan oleh sang ayah, Hafiz Asad,menjadi khalifahnya. Kecelakaan lalu lintas di pinggiran Damaskus melenyapkan semua rencana diktator Suriah yang nilai berkuasa sejak tahun 1970 itu.

Basyar yang saat itu sedang berada di London terpaksa harus pulang ke Suriah. Dia mulai masuk kedinasannya di militer, dan belajar poin-poin penting dalam politik Suriah kepada ayahnya. Hingga saat Hafiz meninggal pada tahun 2000, Basyar pun langsung naik menjadi presiden, walaupun umurnya saat itu masih 34 tahun, dan belum mencapai umur yang diperbolehkan konstitusi untuk menjabat presiden.

Di awal kekuasaannya, Basyar membuka kran kebebasan. Rakyat Suriah seakan bebas dari himpitan yang selama ini menekan mereka. Tapi hal itu tak berlangsung lama, Basyar mulai menangkapi para cendekiawan dan reformis. Diktatorismenya memuncak saat gelombang Musim Semi Arab menerpa Suriah.

Saat itu Basyar tidak mau memberikan celah sedikitpun lawan politik mengusik kekuasaannya. Demonstran diperlakukan secara kejam oleh pihak keamanan. Setelah empat bulan berlangsung aksi-aksi demonstrasi, konflik berubah menjadi perang berdarah yang hingga kini masih berlangsung. Sebanyak 162 ribu meninggal, dan jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Moh Sofwan Abbas, MA
S1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. S2 Universitas Al-Neelain, Khartoum-Sudan. Dosen Ma'had An-Nuamy, Jakarta

Lihat Juga

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris