Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Begitulah Mereka, Perintis Peradaban

Begitulah Mereka, Perintis Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Mereka yang bekerja dalam diam dan tak ingin dikenal banyak orang. Mereka yang mengubah dalam senyap dan tak ingin identitasnya terungkap. Itulah yang banyak terjadi pada mereka; para perintis peradaban.”

                Ada satu episode sejarah Nabi Muhammad yang unik untuk kita telisik. Saat itu sedang musim haji, beberapa waktu setelah Nabi Muhammad dan Zaid bin Haritsah yang menemaninya menerima perlakuan tak manusiawi dari penduduk Thaif. Mereka berdua dilempar makian, digunjing dan ditampar bebatuan. Lalu diarak anak-anak dan diteriaki sebagai orang gila. Hari-hari itu, kesedihan yang dalam sedang menghujam, dan atmosfer Makkah tak lagi mendukung. Semua serba sulit.

Tapi, ada hadiah muncul dari satu kafilah yang berangsur-angsur datang membanjiri Makkah untuk mengunjungi Ka’bah. Dalam kesedihan mendalam itu, tepatnya di tahun 11 kenabian,  sekelompok pemuda Khazraj membuka hati dan fikirannya, terkesima dengan penuturan Nabi, terkagum-kagum dengan keindahan al-Qur’an. Mereka, pemuda Khazraj dari Yatsrib datang menunaikan haji, dan pulang dalam keadaan terinspirasi sembari membawa misi; mempersiapkan Yatsrib jadi kota Nabi!

Tak banyak buku Sirah atau sejarah mengungkap biografi kawanan muda ini. Nama mereka lebih jarang tersingkap dibanding sahabat lainnya. Jumlahnya pun sebagian ahli berselisih tentangnya. Ada yang berkata lima, enam, hingga belasan. Tapi, tetap saja, mereka adalah hadiah. Hadiah besar bagi Nabi, dan aktor baru perjalanan skenario raksasa menuju tersebarnya Islam di muka bumi.

Dari kawanan muda Khazraj ini, kabar kenabian Muhammad terpancar di langit Yatsrib. Suku Aus, Khazraj, bahkan Yahudi mulai berkasak-kusuk dan mencermati segala kemungkinan yang terjadi. Sebagian ada yang ingin bersegera bertemu Nabi dan menyatakan kesetiaannya, sebagian yang lain masih ragu. Tapi bagi Kaum Yahudi, kabar itu menjadi teror yang menakutkan. Mengapa? Karena harapan Nabi terakhir lahir dari rahim wanita Yahudi telah pupus. Dan jika itu yang terjadi, maka tak ada kata bagi mereka selain memusuhinya.

Sungguh, dari kawanan muda yang jarang terekspose sejarah ini, fase berdirinya Islam sebagai sebuah negara bermula. Setelah kabar ini berloncat-loncat dari rumah ke rumah, tahun berikutnya datang 12 orang untuk menyatakan janji setia membela nabi. Lalu, tahun berikutnya lagi, jumlahnya berlipat-lipat menjadi 72 orang. Mereka datang membaiat nabi di Bukit Aqabah. Kini, kita mengenalnya dengan sebutan Bai’at Aqabah.

Lalu? Ke mana gerangan kawanan muda Khazraj itu? Nama mereka hingga kini tak begitu membumbung tinggi. Namun jasanya begitu berarti. Ke mana mereka? Padahal para ahli dan sejarawan siap menuliskan nama mereka di kitab-kitab referensi bagi miliaran kaum muslimin hari-hari ini.

Baiklah kawan, sejarah selalu menarik bagi kita untuk diambil intisarinya. Sejarah selalu menawan bagi kita, karena ia mengajarkan simpul-simpul terbentuk dan terbangunnya peradaban. Mereka, kawanan muda Khazraj yang menerima kabar dan misi dari Nabi untuk menyiarkan Islam di Yatsrib, adalah mereka yang kita akan namai dengan Perintis Peradaban. Ya, kita menamai mereka; Perintis Peradaban!

Mereka Perintis Peradaban

Siapa mereka? Bagaimana mereka? Dan Untuk apa mereka bekerja? Sejauh ini sirkulasi sejarah berbicara dan memberikan kesimpulannya. Setiap peradaban, negara dan peristiwa raksasa selalu bermula dari perintis-perintis yang sebagian namanya membumbung tinggi, dan sebagiannya lagi tetap bekerja. Dalam diam, senyap, tanpa iringan tepuk tangan, tanpa riuh sorak sorai, tanpa berharap pujian, bahkan tanpa berharap balasan.

Tanyakan pada sejarah, berapa ribu manusia jenius yang berjuang merintis berdirinya sebuah entitas bangsa bernama Indonesia? Namun, yang terbit ke permukaan hanya sebagian kecil darinya. Kita mengenal Soekarno sebagai pemimpin revolusi yang namanya harum semerbak di Dunia Timur. Atau, Mohammad Hatta yang kejeniusannya diakui dan dipuji Barat. Tapi kita harus menyelam lebih dalam, ada manusia jenius yang bekerja di lorong-lorong sempit, di malam hari bergerilya dan di siang hari menjadi tukang sapu keliling kota. Ada! Mereka ada. Tapi, mereka memilih menyembunyikan identitas. Mereka; Perintis Peradaban.

Tanyakan pada sejarah,  berapa ratus ribu orang bersimbah luka dan duka mendirikan gerakan-gerakan raksasa? Reformasi Indonesia yang monumental menuntut jutaan tangan dan otak bekerja keras siang dan malam, menumpuk tenaga bersuara di jalanan dan mengumpulkan rakyat untuk menyatukan suara turunkan rezim saat itu. Sebagian nama mencuat sebagai pimpinan, sebagian nama membumbung di panggung sejarah.

Namun, sekali lagi, sebagian yang lain tetap bekerja dalam diam, tetap menata dalam keheningan, merencana dalam lorong-lorong, dan berkarya di balik panggung. Mereka itu, adalah sudut lain dari karakter pejuang. Kehadiran mereka tak dikenal, tapi jasa mereka tak ada yang meragukan. Mereka itu, Perintis Peradaban.

Perintis tak Mesti Dikenal

Ya, bahkan mungkin sebagian besar Perintis Perubahan dan pejuang tak banyak namanya dikenal, atau mungkin tak mau dikenal. Mereka ada dan mengabdikan diri untuk perbaikan, tangan dan kaki mereka telah lelah menata, dan merencana. Lalu berfikir, menggagas, dan tak mengharap yang lain, selain terciptanya mimpi-mimpi besar mereka.

Kawula muda Khazraj telah menjadi teladan. Mereka berenam adalah aktor yang punya pengaruh besar menyampaikan Islam pada rakyat Yatsrib. Tapi benar, para perintis tak mesti dikenal dunia. Cukuplah gagasan dan cita terlaksana. Maka, itu lebih dari cukup bagi mereka yang tulus berjuang.

Kawan tahu, para perintis yang tulus kadang adalah mereka orang-orang miskin yang telantar di pinggiran. Tapi gagasan mereka menjangkau angkasa. Lalu mereka bekerja meraihnya, merintisnya walau mereka paham betul jalan yang mereka tempuh akan sangat panjang. Para perintis itu, kadang adalah mereka yang hidup tidak diperhitungkan. Lalu mereka menjamah kesadaran, dan mencoba mencari jalan terang bagi kebangkitan kaum mereka.

Mereka, perintis peradaban, atau perintis apapun itu, memang tak mesti yang dikenal dunia dengan harum semerbak. Hanya mereka yang punya kepekaan, kesadaran, penglihatan menerawang zaman, yang bisa mendedikasikan jiwa raga untuk berjuang sekuat tenaga merintis terwujudnya cita-cita. Walau mereka tahu jalan yang dilalui akan sangat dan sangat panjang. Bahkan lebih panjang dari usia mereka sendiri.

Mereka, Perintis yang Mencari Ridha

“Mereka yang ikhlas berkarya mencari ridha. Mungkin, di muka bumi tak banyak yang mengenalnya. Namun, di alam langit, namanya disebut-sebut penghuninya.”

Mereka, para perintis peradaban yang tulus mencari cinta Allah. Mereka hidup dengan idenya dan bekerja mencapainya. Apa yang membedakan mereka dengan perintis-perintis lain? Orientasi. Sekali lagi, orientasi. Yang lain punya ide, punya tujuan dan punya semangat meraihnya. Namun orientasinya hanya terlunta-lunta menggapai dunia yang dalam benak mereka begitu rumit.

Para Perintis peradaban yang berorientasi ketuhanan, semangatnya tak bisa diungguli oleh mereka yang tersekat pemahaman duniawi. Mereka yang bekerja dalam diam menuju tujuan ridha, kemauannya tak bisa dikekang oleh apapun termasuk tirani. Ada sebuah kekuatan tak terlukis, tak bisa ditulis, tak bisa dideskripsi, bagi mereka yang merintis peradaban baru dengan semangat rabbani.

Begitulah mereka, Perintis Peradaban!

“Mereka yang bekerja dalam diam dan tak ingin dikenal banyak orang. Mereka yang mengubah dalam senyap dan tak ingin identitasnya terungkap. Itulah yang banyak terjadi pada mereka; para Perintis Peradaban.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Edgar Hamas
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Ilustrasi. (Fadh Ahmad Arifan)

Pekerjaan Utama Dosen