Home / Berita / Opini / Selamatkan Muslim Krimea

Selamatkan Muslim Krimea

Semenanjung Krimea (understandinguncertainty.org)
Semenanjung Krimea (understandinguncertainty.org)

dakwatuna.comHasil referendum di Krimea yang secara sepihak dimenangkan oleh kubu pro-Rusia, telah memaksa muslim Tatar kembali membuka lembaran hitam sejarah mereka atas kekejaman yang dilakukan Kekaisaran Rusia dan rezim Komunis Soviet.

Semenanjung Krimea, merupakan wilayah yang berada di selatan Ukraina pada abad 6 H. menjadi bagian dari Dinasti Golden Horde, yang salah satu rajanya bernama Berka Khan, cucu dari Jengis Khan. Berka merupakan pemimpin Mongol pertama dalam sejarah yang memeluk Islam dan berbaiat dengan Khalifah Abbassiyah, Al-Mu’tashim Billah,.

Selain dengan Dinasti Abbasisyah, Kerajaan Islam Mongol ini juga memiliki hubungan baik dengan Imperium Islam setelahnya, seperti dinasti Mamalik di Mesir dan Syam, juga Daulah Utsmaniah di Turki.

Setelah 120 tahun berdiri, Dinasti yang juga dikenal dengan sebutan Mongol Utara ini mengalami masa kemunduran. Perselisihan di internal kerajaan dan serangan dari luar memaksa dinasti ini mengakhiri kejayaannya hingga akhirnya terpecah ke dalam 5 wilayah. Kondisi lemah ini dimanfaatkan oleh Kekaisaran Rusia untuk menguasai kelima wilayah pecahan tersebut.

Empat wilayah berhasil dikuasai, hingga tersisa satu wilayah yang tidak berani ditaklukkan Rusia, yaitu Krimea. Pertimbangannya adalah karena kekuatan Turki Utsmani berada di belakang kerajaan ini. Krimea sendiri pada tahun 1457 M menjadi wilayah otonom di bawah Turki Utsmani yang kemudian menjadi batu loncatan untuk menaklukkan Rusia.

Pada tahun 1571 M Khalifah Daulah Utsmaniah, Sultan Salim II menunjuk pimpinan Khan (penguasa) Krimea yang bernama Dawlet Keray untuk memimpin 120.000 tentara berkuda melakukan ekspansi ke Rusia. Misi ini berhasil, Moskow takluk oleh pasukan Turki Utsmani. Mereka terpaksa membayar pajak kepada umat Islam sebesar 6.000 lira emas setiap tahunnya dan menandatangani perjanjian damai dengan Krimea.

Sejak peristiwa itu, kebencian Rusia terhadap muslim Krimea semakin menjadi. Mereka mencari waktu yang tepat untuk melakukan balasan. Apa yang diinginkan Rusia baru bisa tercapai ketika kekuatan Daulah Utsmaniah semakin melemah, sehingga akhirnya dapat menaklukkan Krimea pada tahun 1783 M. Tragedi berdarah tidak bisa dihindari, lebih dari 350.000 muslim Krimea kala itu tewas dibantai oleh pasukan Kaisar Rusia.

Setelah selama dua abad hidup di bawah kekaisaran Rusia, Krimea terkena dampak dari revolusi Rusia yang berganti pemerintahan menjadi Komunis Soviet yang dipimpin Joseph Stalin. Tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, di era komunis ini muslim Krimea juga mengalami penindasan.

Pada tahun 1928 sebanyak 3500 imam masjid dan cendekiawan muslim Krimea dihukum gantung, karena mereka memprotes keinginan Stalin untuk mendirikan entitas Yahudi di Krimea.

Satu tahun berikutnya, Stalin mengusir 40.000 warga muslim Tatar ke Siberia. Pada tahun 1931 Stalin membuat lapar seluruh warga Krimea sehingga korban tewas mencapai 60.000 orang.

Sebuah data menyebutkan jumlah umat Islam di Krimea pada tahun 1883 sebanyak 9 juta jiwa, namun turun drastis pada tahun 1941 hingga tersisa 850.000 jiwa saja. Ini semua akibat ethnic cleansing yang dilakukan pemerintahan Soviet terhadap muslim Tatar. Dan di masa Komunis ini pula tercatat sebanyak 1558 masjid di Krimea habis dibakar termasuk juga ribuan mushaf Al-Quran.

Sebagai gantinya, Soviet mendatangkan bangsa Rusia dan Ukraina untuk menempati Krimea. Bahkan di tahun 1959, data statistik pemerintah tidak menyebut adanya muslim Tatar yang tinggal di Krimea, tercatat 77% penduduknya adalah Rusia, 22% Ukraina dan sisanya adalah Yahudi.

Muslim Tatar yang terusir hingga mengungsi ke Turki, Siberia, Asia Tengah dan Eropa Barat baru dapat kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 1967, dan kini prosentase mereka meningkat menjadi 20% dari penduduk Krimea.

Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 sempat memberi harapan baru, muslim Krimea yang tergabung dengan negara Ukraina resmi memisahkan diri dari Rusia. Wilayah Krimea sendiri diberikan hak otonomi oleh Ukraina.

Namun pencaplokan Rusia terhadap Krimea yang baru terjadi dalam beberapa bulan kemarin telah mengubah harapan muslim di sana. Bukan mustahil keinginan Rusia ini berangkat dari pijakan sejarah mereka yang dulu sempat menguasai wilayah muslim Tatar dan kini berusaha mereka rebut kembali.

Kalau Rusia saja yang membanggakan sejarah Kekaisaran dan Uni Soviet tidak melupakan sejarah, dan ingin mengambil alih kembali Krimea, mengapa kita umat Islam yang mengetahui Krimea selama empat abad lebih berada di bawah kekuasaan Islam justru mendiamkannya dan melupakan sejarah?

Padahal masing-masing kita memiliki kewajiban untuk memberi perhatian terhadap kondisi saudaranya yang seiman. Sekalipun terpisahkan oleh benua dan samudra.

Dengan kondisi ini, maka SM Krimea telah menambah deretan wilayah Islam yang dulu berkuasa dan kini menjadi penduduk minoritas, seperti halnya Rohingya di Myanmar, Patani di Thailand, Mindanau di Filipina, Xinjiang di Cina dan wilayah muslim minoritas lainnya.

Namun yang menarik adalah, kendati kehilangan kekuatan layaknya kejayaan pendahulu mereka, toh mereka masih bisa bertahan hingga sekarang, ini semua mengisyaratkan kepada kita bahwa keteguhan iman yang mereka miliki melebihi kerasnya intimidasi dan kejamnya penganiayaan yang mengintai mereka setiap hari. Wallahulmusta’an.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Syarief, Lc
Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Peneliti di Pusat Studi Islam Wasathiyah, Redaktur di Majalah Dakwah Islam Al-Intima dan Aktivis Palestina di LSM Asia-Pacific Community For Palestine

Lihat Juga

7 Tahun Kedua: Menyelamatkan Pernikahan Dari Kebosanan