Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membaca Manusia

Membaca Manusia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Engkau belajar di ruang kelas agar bisa menulis membaca, kau lulus dan dapatkan ijazah. Engkau berjalan memerhatikan manusia, lalu mengambil hikmah, kau lulus dapatkan kebijaksanaan.”

                Jika sesekali kembali menjajaki kisah pemimpin dan pemikir dunia yang menyejarah, kita akan mendapati suatu kesamaan pada mereka. Beliau-beliau yang melukiskan perubahan adalah segolongan manusia unik yang punya keistimewaan. Yaitu kemampuan khusus untuk mencermati peristiwa dan subjek yang melakoninya, yang saya namai kemampuan ini: membaca manusia. Membaca manusia? Benar.

Sebelumnya kita akan berkeliling zaman menemui beberapa sampel yang tepat tentang kemampuan membaca manusia ini. Mari kita berangkat ke tahun 1800-an, dan berlayar di masa-masa penjajahan Perancis dan Inggris atas dunia Islam, khususnya bumi Mesir. Tahun itu, dunia Islam dibuat semarak dengan gairah baru pembaruan, dunia Islam diperkenalkan dengan gagasan penyelamatan berskala internasional bagi saentero muslimin dari ujung Maroko sampai ujung Nusantara.

Siapa pembawa gagasan besar pembaruan Islam itu? Dan bagaimana ia memikirkannya? Mari berkenalan dengan beliau, Jamaluddin al-Afghani, Ilmuwan dan Pemikir Muslim yang melontarkan gagasan Pan-Islamisme dan menebarnya di awan-awan jazirah Arab era itu. Ia membaca manusia. Ia membaca peristiwa dan mendapatkan sebuah kesimpulan menggegerkan: kaum Muslimin tak lagi berislam dengan benar.

Jamaluddin, beliau berkeliling benua dan menjajaki banyak peristiwa juga menemui perwakilan muslimin dari banyak belahan dunia. Kemampuan membaca manusia mulai terasah ketika beliau melakukan perjalanan intelektual ke pelbagai negeri. Beliau memulainya di Afghanistan, lalu mengakhirinya di tanah Turki yang menyejarah.

Saat melawat berbagai belahan dunia Islam, beliau menemukan suatu kesalahan yang serentak dilakukan kaum Muslimin. Apa itu? “Ia melihat kemunduran umat Islam bukan karena Islam tidak sesuai dengan perubahan zaman. Melainkan disebabkan umat Islam telah dipengaruhi sifat statis, fatalis, meninggalkan akhlak yang tinggi dan melupakan ilmu pengetahuan,” jelas Herry Muhammad dalam Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20.

Itulah kemampuan membaca manusia. Berjalan melawat kemana-mana, menelusuri jalan, bertemu orang-orang dan membaca keadaan. Lalu menemukan kesimpulan, dan akhirnya menerbitkan gagasan. Lalu mengorbitkannya di langit, dan memancarkannya bersama gelombang pengetahuan. Dan jadilah dari kemampuan membaca manusia ala Jamaluddin al-Afghani, terbitlah suatu gagasan Pan-Islamisme. Yaitu gerakan menyatukan dunia Islam untuk melawan penjajahan dan bangkit menuju kemandirian.

Apa itu kemampuan istimewa membaca manusia? Mereka yang mempunyai kemampuan membaca manusia jangan diartikan orang yang sering blusukan di lorong dan pojok-pojok kota. Jangan juga dimaknai sebagai orang yang ingin tahu segala peristiwa. Bukan, mereka yang saya sebutkan tadi hanya melihat tanpa mendalami, mendengar tanpa memaknai, dan berbicara tanpa memikirkan.

Siapa yang bisa memiliki kemampuan membaca manusia? Dan untuk apa mereka melakukannya? Maka jawaban mudahnya adalah kebalikan dari pernyataan saya sebelumnya. Yaitu, yang mendalami tak sekedar melihat, yang memaknai tak sekadar mendengar, dan yang memikirkan tak sekadar bicara. Mereka itulah pembaca manusia sejati.

Mari berjalan di pasar raya. Berkelilinglah dan cobalah untuk menelisik apa yang terjadi di dalam sana. Orang-orang kebanyakan tak mengerti hal ini. Yang mereka tahu, mereka datang ke pasar, membeli kebutuhan mereka dan beranjak kembali ke rumah mereka. Sudah.

Kini, kita bawakan seorang pembaca manusia ke tempat ini. Apa yang akan mereka lakukan? Mereka berjalan seperti orang berjalan. Mereka melihat seperti orang melihat. Mereka medengar sama seperti banyak orang mendengar. Mereka mencium aroma sama seperti banyak manusia menciumnya. Apa yang berbeda? Orang yang punya kemampuan membaca manusia, mata mereka melihat orang-orang bertransaksi, namun hati mereka berfikir sejauh mana halal haramnya barang yang dijual. Mereka berfikir darimana dan untuk apa barang itu digunakan, dan mereka juga berfikir berapa waktu kosong penjual terbuang hanya untuk menunggu sambil melamun. Padahal, kematian terus mendekat.

Telinga mereka mendengar orang bercakap sambil meminum kopi. Tapi, hati mereka memikirkan dan menangkap sejauh mana intelejensi rakyat dan apa yang mereka tuju dalam gagasan ringan mereka. Para pembaca manusia dengan cepat menilai tinggi rendahnya kualitas kaum dengan sekadar mendengar untuk apa mereka bicara dan bagaimana mereka berceloteh. Apakah orang cerdas yang bicara gagasan? Orang biasa yang bicara peristiwa? Atau orang bodoh yang bicara orang lain? Begitulah mereka, membaca manusia dengan anugerah kecerdasan dan kepekaan.

Dicari: Pembaca Manusia Sejati

Tokoh ini, ketika usianya 12 tahun telah mengasah kemampuannya membaca manusia dengan memutuskan berkecimpung bersama aktivis besar mengurusi tingkah laku moral masyarakat Mesir. Di usianya yang kelima belas, ia telah menjadi pembaca manusia yang tajam menganalisa keadaan dengan memutuskan berdemonstrasi melawan Inggris di pusat-pusat kota. Ia sendiri sebagai komandannya.

Puncak dari kemampuannya membaca manusia Mesir yang memiliki keberagaman masalah dan kemajemukan problematika adalah keputusannya bersama kawan-kawan seperjuangannya mendirikan pergerakan besar yang monumental. Saat itu, usianya baru menginjak 22 tahun. Gagasan, pemikiran dan analisanya memandang umat melahirkan gelombang perubahan dan revolusi pemikiran di hampir 72 negara. Hari ini, pergerakan itu masih berdiri, dan terus melebarkan sayapnya. Ikhwanul Muslimin namanya. Dan pemimpin besar itu adalah Syaikh Hasan al-Banna.

Membaca Manusia hanya bagi mereka yang dengan kecerdasan dan intelegensinya menerawang zaman dan menembus cakrawala. Tapi tak sekedar cerdas, tak sekedar pintar, tak sekedar otak encer, lalu sudah. Tidak! Jauh daripada itu, hatilah yang harus disiapkan. Kita harus memahami. Bahwa hari ini banyak orang pintar, tapi tak bijaksana. Ada saja orang bijaksana walaupun ia tak punya strata.

“Engkau belajar di ruang kelas agar bisa menulis membaca, kau lulus dan dapatkan ijazah. Engkau berjalan memerhatikan manusia, lalu mengambil hikmah, kau lulus dapatkan kebijaksanaan.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Edgar Hamas
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Alhamdulillah, Bantuan Kemanusiaan Akhirnya Dapat Masuk Aleppo