Home / Narasi Islam / Sosial / Belajar Bermasyarakat dari Semut

Belajar Bermasyarakat dari Semut

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (therichestimages.com)
Ilustrasi. (therichestimages.com)

dakwatuna.com – Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam ketergantungan dengan sesamanya. Dalam kehidupan manusia perlu adanya aturan dan hukum. Agar manusia hidup dalam ketentraman dan kenyamanan. Tetapi dalam sisi kehidupan yang lain, manusia memiliki rasa mementingkan diri sendiri (egois). Sehingga  dia tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Sikap tercela inilah yang membuat kehidupan manusia tidak harmonis dan banyak menimbulkan bencana kemiskinan  dan kelaparan di masyarakat. Namun, dalam kehidupan lain, ada sekelompok masyarakat yang hidup dalam ketentraman, kenyamanan dan keharmonisan.

Masyarakat ini tidak pernah mementingkan diri sendiri. Akan tetapi selalu mendahulukan kepentingan masyarakat lain terlebih dahulu, sebelum kepentingan pribadinya. Bahkan, setiap individu bekerja untuk kelangsungan kehidupan bersama. Masyarakat tersebut rela berbagi sebagian rezeki yang didapatkan kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan rela mengorbankan nyawanya demi saudaranya. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat tidak ada salah satu sekelompok masyarakatnya dalam keadaan kelaparan dan kemiskinan. Kelompok masyarakat ini sangat peduli. Mereka tidak memandang pangkat dan jabatan, masyarakat ini selalu tolong menolong kepada sesama, tatanan masyarakat seperti ini benar-benar ada di muka bumi. Bahkan, dia berada di sekeliling kita. Siapakah masyarakat tersebut? Dialah semut.

Tatanan masyarakat semut jauh lebih baik dari tatanan masyarakat manusia. Masyarakat semut tidak pernah bersifat mementingkan diri sendiri dalam kehidupannya. Mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan keberlangsungan hidupnya.

Dalam petikan surat al-Maidah ayat 2, Allah Swt berfirman, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertkwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksanya.” (Qs. al-Maidah [5]: 2 ).

Padahal, sudah jelas Allah memerintahkan kepada kita agar selalu tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Tetapi, mengapa manusia selalu egois, serakah, tamak, hanya kepentingan diri sendiri yang didahulukan? Asal perut kenyang, cara apapun dilakukan meskipun dengan merampas hak orang lain demi kepentingannya. Kebanyakan masyarakat kita, saling tolong menolong dalam kebatilan dan permusuhan.

Setiap kali kita melihat media massa, banyak sekali berita-berita yang sangat memprihatinkan hati jika mendengarnya. Betapa hancurnya akhlak masyarakat kita. Kemiskinan akhlak telah melanda masyarakat negri ini. Kita bisa melihatnya secara langsung. Ada banyak orang yang saling tolong menolong dalam keburukan. Entah itu pencurian, pembunuhan, penindasan, kekerasan seks, atau bahkan korupsi yang sudah menjamur di pemerintahan negeri ini. Dan, banyak lagi kebatilan lainnya.

Hanya sedikit orang yang tolong menolong dalam kebaikan. Seharusnya, kita bisa belajar dari tatanan masyarakat semut yang tatanan masyarakatnya sungguh sangat indah, rapih dan teratur. Mengapa semut yang tidak diberi akal oleh Allah lebih dahulu mengamalkan surat al-Maidah? Bagaimana dengan kita sebagai manusia yang paling sempurna, yang diberikan akal oleh Allah tidak mengamalkanya terlebih dahulu?

Sungguh disayangkan, akal yang Allah berikan sangat luar biasa. Akallah yang membedakan manusia dengan binatang. Maka, jika manusia tidak bisa mempergunakan akalnya dengan baik, apa bedanya manusia dengan binatang? Jika manusia sadar akan potensi yang dimiliki akal, niscaya dia tidak akan melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Justru, dia akan melakukan tindakan yang dapat menolong orang lain. Karena pada dasarnya, manusia menyukai kebaikan. Akan tetapi, hawa nafsunya yang lebih dominan.

Maka, untuk membentuk masyarakat yang tenteram, nyaman dan harmonis, kita bisa belajar dari tatanan masyarakat semut yang hidupnya selalu bekerja sama dan saling tolong menolong demi keberlangsungan koloninya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdullah Syarif
Lahir di Kabupaten Bekasi, 12 Mei 1993. Pendidikan SD ditempuh 1999-2005, SDN kedung pengawas 04, MTs ditempuh pada tahun 2007-2010 di MTs Az-Ziyadatul Hasanat, selanjutnya SMK ditempuh pada tahun 2011-2013 di SMK Bina Insan Kamil. Sekarang sedang melanjutkan S1 di Fakultas Green Economi And Digital Comunication, jurusan Technopreneurship di Kampus Surya University Serpong Tangerang.

Lihat Juga

Waspada Istidraj