Home / Berita / Opini / Inerpower Seorang Perempuan

Inerpower Seorang Perempuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pemilu presiden Juli mendatang menyedot perhatian banyak kalangan. Berbagai media dengan gencarnya memberitakan seputar kampanye dan segala dinamikanya. Tak mau kalah, masyarakat awam sekalipun mendadak menjadi ‘pengamat politik’.  Perbicangan di warung-warung pinggir jalan pun diwarnai dengan isu-isu politik. Begitu juga di sawah. Petani desa yang dengan keterbatasan informasi dan kemampuannya mencoba ikut andil dalam menyemarakkan Pemilu 2014.

Pemilu 2014 terbukti mampu menyedot semua kalangan, termasuk perempuan. Berbagai deklarasi dari kalangan perempuan mengalir bak air bah yang tumpah. Seperti yang dilakukan kelompok perempuan Sayang Prabowo-Hatta. Mereka membagikan bunga mawar secara cuma-cuma di jalanan untuk menarik perhatian masyarakat agar memilih Prabowo-Hatta. Juga istri Hatta Rajasa yang dengan semangat tinggi mengumpulkan para ibu pejabat untuk ikut mendeklarasikan dukungan mereka pada Prabowo-Hatta.

Melihat fenomena ini, penulis teringat sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa di balik kesuksesan seorang laki-laki, ada perempuan hebat yang mendampingi. Di balik suksesi Presiden dan Wakil Presiden (yang kebetulan Capres-Cawapresnya dari kalangan laki-laki semua), ada istri hebat yang mengampanyekannya.

Sebagai ‘makhluk lemah’ yang paling kuat, perempuan (istri) memiliki pengaruh besar terhadap suksesnya karier seorang laki-laki (suami). Sejarah mencatat, rentetan kisah sukses seorang laki-laki yang disebabkan adanya perempuan shalihah di baliknya. Seperti kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam menyebarluaskan ajaran Islam. Beliau didampingi oleh seorang istri shalihah yang selalu menjadi pembela dan pelindungnya. Ia adalah Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad saw. Kesetiaan dan ketulusan Khadijah menjadi kekuatan dahsyat  bagi sang suami.

Sebuah kisah yang telah jamak di telinga kita. Ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu pertamanya di Gua Hira’, beliau pulang dalam keadaan  pucat pasi karena takut. Segera, Khadijah menenangkan Nabi Muhammad saw dengan perkataan bijak, “Allah swt tidak mungkin mengecewakan engkau. Bukankah engkau selalu berkata benar, menyambung tali silaturahmi, menyantuni anak yatim, memuliakan tamu dan meringankan beban orang yang tertimpa musibah?” Perkataan itu membuat Nabi Muhammad saw tenang dan yakin bahwa itu merupakan wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.

Pun pemilu 2014. Keberadaan perempuan dalam pusaran politik menjadi kekuatan tersendiri. Dari sini, kita bisa melihat bahwa perempuan (yang identik dengan kaum lemah) memiliki pengaruh besar dalam sukses-tidaknya seorang Capres-Cawapres melenggang ke Istana. Kalaupun perempuan tidak terjun langsung ke lapangan, motivasi-motivasi yang disuntikkan kepada suaminya mampu memberikan rasa percaya diri pada suami untuk maju ke pertarungan dalam memperebutkan suara rakyat.

Diakui atau tidak, kehidupan seorang laki-laki tak bisa lepas dari ‘cengkeraman’ perempuan. Ketika sang suami telah lenggang ke Senayan misalnya, tak bisa lepas dari pengaruh istri. Seorang pejabat akan melakukan penyelewengan dalam tugasnya karena didorong oleh sang istri. Atau mungkin didorong oleh ‘perempuan lain’ yang memiliki hubungan spesial. Pun sebaliknya. Seorang pejabat yang selalu disiplin dan tidak sedikit pun mengambil yang bukan haknya, pasti ada istri shalihah di baliknya. Dari sini, bisa dipahami bahwa keberadaan perempuan dalam dunia politik, sosial, pendidikan, dll, sangatlah besar. Bahkan, ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa hancur tidaknya sebuah bangsa, tergantung pada baik-buruknya akhlak perempuannya.

Pejabat atau calon pejabat, harus tahu tentang posisi mereka. Ketika sudah tahu posisinya, berarti juga tahu hak dan kewajiban sebagai pejabat atau calon penjabat. Maka, langkah selanjutnya adalah perhatikan istrinya. Istri yang shalihah tidak akan menuntut ini dan itu, melainkan selalu mengingatkan suami untuk selalu berhati-hati dalam menjalankan tugasnya.

Sebaliknya, istri yang memiliki ambisi untuk memperkaya diri, akan mendorong suaminya pada hal-hal yang melanggar hukum, seperti korupsi. Tentunya, suami (baca: pejabat atau calon pejabat) yang sudah tahu posisinya, pasti mampu menampik dorongan-dorongan ‘nakal’ itu dan bisa membimbing istrinya agar lebih baik lagi (akhlaknya). Sedangkan yang tidak tahu posisinya, akan dengan mudah menuruti permintaan-permintaan istri. Sekalipun harus memakan uang rakyat. Dengan begitu, laki-laki yang identik dengan makhluk kuat, berbalik menjadi  ‘manusia kuat’ yang paling lemah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Imron Mustofa
Lahir di daerah pesisir selatan kota Kebumen. Tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan PGMI UIN Sunan Kalijaga, Aktif di LPM Paradigma.

Lihat Juga

Berhasil Memenangkan Pemilu, Trump Akan Segera Dapat Informasi Rahasia Amerika