Home / Berita / Opini / Pilih 1 atau 2, Menangkan Ukhuwah!

Pilih 1 atau 2, Menangkan Ukhuwah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memperkenankan kita mereguk samudera karunia-Nya. Yang saking indahnya, terkadang kita tidak bisa membedakan bagaimana keadaan kita; apakah masih menyelami karunia Allah ini, ataukah sudah tenggelam. Shalawat dan salam senantiasa kita lantunkan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi sebaik-baik qudwah hasanah bagi kita. Semoga shalawat dan salam yang senantiasa kita lantunkan bisa menjadi pertanda kecintaan kita pada beliau. Semoga pula kelak Rasulullah mengakui kita sebagai bagian dari umat yang ia cintai, sehingga syafa’at-nya kita dapati. Amiin.

Saudaraku sekalian, akhir-akhir ini hingga beberapa waktu ke depan, kita akan disibukkan dengan sorak-sorai membahana; “PILIH SATU!!!” dan “PILIH DUA!!!”. Sebagaimana biasanya, suhu di negeri ini pun akan memanas. Apalagi duel besar ini diisi oleh dua kubu yang hampir setara besarnya. Semakin menarik. Semakin seru.

Namun, saudaraku, ada satu hal yang menurut saya amat penting untuk kita perhatikan. Ada satu titik pandang yang harus kita amati. Ada satu bagian yang harus kita periksa. Apa itu? Di dalam dirimu, wahai saudaraku! Segumpal daging itu! Segumpal daging yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadmu. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruh jasadmu. Namanya, hati.

Dalam bahasa lain, sering kita sebut itu nurani. Satu parameter yang akan menuntun kita membedakan kualitas berbagai hal; pantas atau tidak, layak atau tidak, wajar atau tidak, benar atau salah. Begitu seterusnya. Nurani yang sehat akan menuntun lisan kita untuk mengucapkan kalimat yang benar saja. Nurani yang sehat akan menggerakkan badan kita melakukan hal yang benar saja. Sebaliknya, dari ucapan-ucapan yang keliru, dari tingkah laku yang tidak senonoh, nurani kita akan membimbing untuk menjauh.

Saudaraku, di sini, di momentum ini, kita harus mengasah kepekaan nurani kita. Mari bersama kita periksa bagaimana keadaannya. Pasalnya, momentum ini bak lahan lembab yang sangat rentan ditumbuhi oleh pohon-pohon perpecahan, permusuhan, pertengkaran, dendam, dan sebagainya. Saudaraku, kalau kita tidak benar-benar menjaga hati, menjaga nurani, tanpa kita sadari pohon-pohon tadi bisa-bisa sudah berakar kokoh, berbatang besar, dan berdaun lebat.

Saudaraku, mari sejenak kita kembali melihat saudara kita di seberang —yang pilihan dan pendapatnya tidak sama dengan kita. Siapa mereka? Kalau ditanya, agama mereka banyak yang sama dengan kita. Syahadat kita sama. Shalat kita sama. Kitab kita sama. Nah, siapakah mereka? Saudara kita! Kita diikat oleh Allah dengan  hablun (ikatan) Allah. Ikatan Iman. Ikatan Islam. Alangkah celakanya, kalau dikarenakan oleh perbedaan pandangan dan pilihan ini kita bisa berpecah. Alangkah celakanya, kalau dikarenakan ikatan golongan yang kita bentuk, ikatan yang diciptakan oleh Allah untuk menyatukan kita menjadi terputus. Akhirnya, kita pun bercerai-berai.

Saudaraku, biasanya, hati kita akan melemah fungsinya dikarenakan adanya perasaan lebih benar dibanding orang lain. Padahal, saudaraku, perasaan lebih benar dari orang lain ini adalah virus berbahaya. Racun hiperkorosif. Bukan orang lain yang akan dibinasakan olehnya, tetapi diri kita sendiri. Yang rugi pun kita sendiri. Bisa-bisa kita tergolong menjadi orang yang tertipu; merasa benar, padahal tidak.

Dalam pilihan, kita mungkin punya dasar masing-masing yang menyebabkan kita berbeda. Titik pandang yang berbeda kerap menghasilkan penilaian berbeda. Saudaraku, selama tidak bisa memastikan siapa yang benar, tak layak kita menyalahkan orang lain dan membangga diri. Saudaraku, kenalilah kondisi hati kita masing-masing.

Saudaraku, satu hal yang tidak bisa lepas dari dunia politik adalah kabar burung. Ada desas-desus yang tidak berhenti menggaung. Ibarat angin kencang yang silih berganti menyambar. Maka, sebaik-baik sikap adalah tetap dalam positive thinking dan mencari penjelasan. Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan pada kita, “Fa tabayyanuu!” Carilah penjelasan yang utuh! Tidak asal menerima. Tidak asal menilai. Kita harus mempertimbangkan dengan akal sehat dan ilmu yang mumpuni.

Lagi, di atas semua itu, ukhuwah harus kita menangkan. Saudaraku, sebelum saya cukupkan tulisan ini, saya ingin bertanya, “Kalau sekiranya, tidak sampai pada pemilihan Presiden nanti, akhir waktu sudah menjemput kita, sudikah kita kembali kepada Allah dalam keadaan memendam kebencian, berselisih, berseteru, mendendam, dan menyimpan sejuta hujat? Sudikah kita?”

Saudaraku, kenapa saya bertanya seperti itu? Karena waktu  itu sesuatu yang pasti. Tetapi tidak diketahui kapan akan menjelangnya. Siapa yang tahu? Hanya Allah. Hanya Allah.

Saudaraku, mohon maaf apabila ada kesalahan, ‘Afwan Jiddan. Sudilah koreksi saya apabila ada kesalahan. Tulisan ini hanyalah sepenggal catatan untuk kebaikan kita bersama. Semoga barakah Allah menyertai. Sehingga, tercipta kebaikan yang bertambah-tambah.

Wallahu a’lam bishshawwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Donald Trump, presiden AS ke-45. (blogspot.com)

Kemenangan Trump Dipastikan Untungkan Israel

Organization