Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tiada yang Abadi

Tiada yang Abadi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: persian-star.net)
Ilustrasi. (Foto: persian-star.net)

dakwatuna.com – Ingatkah engkau dengan pasukan Persia yang kuat bagai gerombolan singa yang lapar? Ingatkah Engkau dengan pasukan Romawi yang gagah berani hingga ditakuti di seluruh pelosok bumi? Ingatkah engkau dengan Gengis Khan yang tiada ampun berperang untuk mengalahkan musuh-musuhnya? Ingatkah engkau dengan pasukan Ottoman yang berani mati membela seruan sang Ilahi?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul ketika saya berdiam diri duduk termenung di atas benteng Van Der Wijck yang mulai rapuh dimakan usia. Semua itu ada masanya, begitu seru dalam hati saya. Dalam gerbang benteng tertulis suatu tulisan “Aku Dibangun Tahun 1818.” Kalau dihitung-hitung, hampir dua abad bangunan merah marun heksadiagonal mendiami tanah yang sekarang menjadi milik TNI itu.

Betapa kokohnya benteng itu menghalau musuh-musuh sang penjajah negeri ini, mengisyarakan betapa besarnya kekuatan Belanda di ibu pertiwi. Tetapi, itu terjadi pada masa sekitar dua abad lalu yang sekarang hanya berupa seonggok bangunan yang mirip penjara. Semua ada masanya.

Persia yang kuat pun dapat dikalahkan oleh pasukan Romawi. Romawi yang dalam sejarah kehidupan manusia belum ada yang menyaingi kebesaran pasukannya akhirnya dapat hancur. Ottoman Turki yang menguasai hampir sepertiga bagian dunia hancur juga. Dalam masanya, kebesaran kekuatan imperium sebelumnya akan hilang termakan kebesaran penguasa yang baru.

Dengan meniti sejarah, kita akan melihat betapapun kuatnya kerajaan, negara atau kekuatan  lainnya, pasti akan hancur juga. Yang membuat miris adalah kesombongan penguasa dunia saat ini. Alih-alih mereka mau membaca sejarah justru unjuk gigi memperlihatkan kebolehan kekuatannya. Berlomba-lomba membuat senjata dan manusia-manusia tak bersalah yang akan menjadi kelinci percobaannya. Bukankah ini berulang kali dan berulang kali menimpa berbagai kerajaan dan negara sebelumnya?

Selain dari semua itu, kita juga dapat belajar dari sejarah. Ternyata, tidak hanya dalam tataran negara atau kerajaan saja tetapi juga pribadi. Banyak di antara kita yang menyombongkan kekuasaan dan pengaruh yang mereka miliki, banyaknya harta yang katanya dapat membeli semua.

Ingatlah, semua ada masanya. Semua akan hancur. Semua akan mati. Semua akan binasa. Semua tidak ada yang abadi dari semua yang kita miliki. Allahlah yang abadi. Dengan menengok sejarah, kita akan mengetahui betapa kecil kita ini, betapa lemah tak berdayanya kita ini. Selayaknya, kita memuji kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dan tidak menjadikan diri kita sombong dengan apa yang dimiliki karena selayaknya, semua hanyalah titipian. Titipan yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemiliknya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
hamba Allah yang selalu mencari ridhonya

Lihat Juga

CNN: Saudi Siap Menyambut Hari Bersejarah