Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saat Handphone Berdering

Saat Handphone Berdering

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi - (123rf.com / Mohd Faizal Mohd Shaupi)
Ilustrasi – (123rf.com / Mohd Faizal Mohd Shaupi)

dakwatuna.com – Sebuah benda kecil yang selalu dibawa kemana-mana. Tak bisa terlepaskan dari kehidupan manusia modern. Siapapun bisa memilikinya tanpa melihat latarbelakang apapun. Entah dia orang kaya, menengah ataupun di bawah rata-rata. Hampir semua orang memilikinya.

Tiada hari tanpa memegangnya. Sebuah alat komunikasi di era modern yang mampu mengirim pesan hanya dengan hitungan per detik dan mampu menghubungkan antar dua orang manusia dalam satu percakapan walaupun terpisahkan oleh jarak dan pulau bahkan benua.

Dulu, benda mungil tersebut hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan dan melakukan percakapan. Kini, berbagai fasilitas telah lengkap di dalamnya hingga dinobatkan sebagai handphone pintar atau lebih dikenal dengan sebutan smartphone.

Terlepas dari berbagai fitur, aplikasi dan fasilitas yang ada pada sebuah handphone. Semuanya bermuara pada dua fungsi utama yakni untuk mengirimkan/menerima pesan dan melakukan/menerima panggilan.

Saat handphone (HP) berdering itulah saat yang dinanti-nantikan oleh setiap orang yang memilikinya. Apakah itu sebuah SMS ataukah panggilan masuk? Intinya, semua orang menginginkan agar HP yang dipunyai berdering agar bisa digunakan sesuai fungsi utamanya.

Bayangkan, pada saat beraktivitas. HP berdering pertanda ada panggilan yang masuk, maka aktivitas tersebut ditinggalkan sejenak untuk menerima panggilan atau membalas SMS.

Sesibuk apapun, ketika HP berdering maka tangan bergerak dengan sendirinya tanpa diperintahkan mengambil HP untuk memperlancar komunikasi dengan orang yang sedang menghubungi.  Apalagi yang menghubungi tersebut adalah orang-orang penting seperti atasan, orang tua, pejabat, pengusaha ataupun orang yang disayangi.

Kita rela meninggalkan sejenak aktivitas ketika orang-orang penting tersebut menghubungi. Tapi, mengapa kita tak rela ketika yang lebih penting dari mereka menghubungi lewat lantunan azan dihiraukan seolah-olah tak mendengarnya?

Saat handphone berdering dinanti-nanti. Saat suara azan berdering di telinga manusia, apakah juga dinanti-nantikan? Suara dering handphone hanya akan menghubungkan manusia dengan manusia. Sebaliknya, suara dering azan yang berkumandang dari rumah-Nya akan menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.

Mengapa diri ini enggan bahkan mengulur-ulurkan waktu untuk menghadap-Nya? Bukankah ketika HP berdering ada panggilan atau SMS masuk, tangan ini dengan segera mengambilnya? Atau ketika letaknya jauh maka kaki ini pun dengan rela melangkah untuk mendekati suara dering HP tersebut. Kenapa kaki ini juga tak mau melangkahkan ketika Dia menyuruh menghadap-Nya dengan deringan suara azan?

Bukankah sebaik-baiknya panggilan adalah panggilan untuk menghadap-Nya lewat ibadah shalat yang ditunaikan? Bukankah sebaik-baiknya pesan adalah pesan yang disampaikan langsung lewat Kalam-Nya di dalam untaian-untaian zikir dan doa ketika shalat?

Diri ini terlalu banyak berlumur dosa. Berapa banyak panggilan-Nya diharaukan? Kita lebih memilih panggilan sesama makhluk-Nya lewat dering sebuah benda yang mungil. Berapa banyak pesan-Nya yang kita acuhkan? Kita mementingkan pesan yang tertera di HP daripada pesan dari Kalam-kalam-Nya.

Sebuah benda kecil nan mungil akankah mengalahkan Zat Yang Mahaagung? Teknologi ditemukan bukan untuk semakin menjauhkan diri dari-Nya, tapi sebaliknya. Agar manusia semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Panggilan manusia bisa ditunda sejenak sebab kita masih memiliki waktu yang luang untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Tapi, panggllan-Nya yang hanya dilakukan sebanyak lima waktu dengan waktu yang telah ditentukan sehingga manusia bisa menjadwalkan sendiri agar mampu menunaikan panggilan-Nya tersebut.

Ketika orang yang penting atau orang yang disayangi menghubungi dengan panggilan masuk, apakah kita rela menolak panggilan tersebut? Panggilan satu ini bukan sembarang panggilan. Ia adalah panggilan kasih sayang untuk semua hamba yang tunduk dan patuh akan perintah-Nya. Panggilan itulah yang akan menghubungkan secara langsung tanpa pulsa ataupun habis baterai dengan Sang Penyayang. Panggilan yang akan berbuah ketakwaan pada tiap-tiap insan yang mampu menjawab panggilan tersebut dengan bersegera menghadap kepada-Nya.

Jika panggilan itu dipenuhi, patuhlah manusia kepada-Nya. Tapi, jika panggilan itu ditolak, maka membangkanglah manusia kepada-Nya. Manusia manakah yang kita pilih? Apakah yang patuh? Ataukah manusia yang membangkang?

Manusia yang patuh dengan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka akan mendapatkan balasan berupa tempat nan indah yang tak pernah dilihat, didengar, dicium dan dirasakan oleh manusia ketika berada di dunia. Sebaliknya, bagi manusia yang membangkang atas perintah dan melanggar atas larangan-Nya maka akan mendapat balasan berupa tempat yang gelap yang dipenuhi oleh jilatan-jilatan api nan membara.

Saat handphone berdering adalah panggilan dunia sedangkan saat azan berkumdang adalah panggilan akhirat.  Panggilan dunia bisa berbentuk kebaikan bisa pula berbentuk keburukan. Tapi panggilan akhirat hanya berbentuk kebaikan berupa amal ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim sebagai bekal kelak yang akan dibawa untuk menyeberangi sebuah titian yang hanya orang-orang tertentu yang mampu menyebranginya. Sebab jika mampu menyebranginya, sebuah kegembiraan akan diperoleh berupa tempat yang dijanjikan-Nya seperti yang tertuang di dalam surah an-Nisa ayat 122,

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI