Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Yang Sering (Sengaja) Dilupakan

Yang Sering (Sengaja) Dilupakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hqdesktop.net)
Ilustrasi. (hqdesktop.net)

dakwatuna.com  “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Sebagai mahasiswa, jelas bahwa kita memiliki kewajiban untuk belajar ilmu dunia yang kita geluti. Belajar adalah cara terbaik untuk mempertahankan eksistensi kita sebagai akademisi di kampus. Walaupun sebenarnya, tujuan kita kuliah adalah mencari ridha Allah dengan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa nilai adalah salah satu faktor acuan kesuksesan seorang mahasiswa di ranah akademis.

Banyak aktivis dakwah kampus yang aktif berdakwah dengan mengesampingkan tanggungjawabnya sebagai seorang akademisi. Mereka kadang mengabaikan tugas-tugas akademis demi memenuhi kewajiban mereka dalam hal organisasi seperti mengikuti syuro (rapat), acara, kajian, serta berbagai macam tanggungan dakwah lainnya. Sejatinya, memenuhi kewajiban tersebut dengan sebaik mungkin adalah tuntutan kita sebagai seorang aktivis dakwah. Namun idealnya, kewajiban-kewajiban dakwah tidak boleh sampai mengganggu performa akademis kita sebagai seorang mahasiswa.

Seorang aktivis -termasuk di dalamnya aktivis dakwah- harus senantiasa sadar dan disadarkan bahwa mereka memiliki waktu senggang yang lebih sedikit dibanding orang lain. Karena itu, memanfaatkan waktu dengan segala aktivitas yang dapat mengembangkan potensi diri adalah suatu kewajiban yang harus selalu ditaati. Alangkah baiknya jika belajar menjadi salah satu hal yang kita prioritaskan di waktu-waktu senggang yang dimiliki. Terlebih, banyak orang-orang di luar sana yang mungkin tidak lebih beruntung dari kita, mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk kuliah.

Mempertahankan nilai dan menjadi teladan dalam cakupan hal akademis adalah hal yang cukup penting dalam langkah gerak kita sebagai seorang aktivis dakwah. Dengan menjadi teladan dalam hal akademis, persuasive communication seorang aktivis dakwah akan meningkat, pun tentu kita akan lebih disegani. Di dunia kerja, setelah mahasiswa lulus dari kampus, spesialisasi keterampilan yang dikuasai akan sangat dibutuhkan, selain skill-skill yang bisa didapatkan di organisasi. Tentu, hal ini sangat berkaitan dengan kondisi akademis yang kita miliki.

Sejatinya, kejayaan Islam di muka bumi adalah suatu keniscayaan. Akan datang suatu masa dimana Islam menjadi teladan bagi umat manusia di segala aspek kehidupan. Dan, masa kejayaan Islam, tidak akan tercapai jika kaum Muslim hanya fokus di pengembangan ilmu-ilmu keislaman seperti fiqih dan aqidah. Harus ada orang-orang terbaik dari umat Islam yang turut andil mengembangkan ilmu-ilmu ‘dunia’. Seperti ilmu sains dan humaniora dan menjadi ahli di bidangnya, seperti ilmuwan, doktor, tokoh politik, ahli bahasa, ahli ekonomi, dan berbagai macam profesi-profesi penting yang dibutuhkan dunia.

Sudahkah kita -sebagai seorang akademisi- berkontribusi di dunia akademis? Sudahkah kita berusaha untuk meninggikan Islam di bidang ini? Minimalnya, sudahkah kita mencoba berusaha untuk mencari ilmu -melalui nikmat kuliah yang Allah berikan ini- sebaik mungkin? Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan dalam kewajiban kita sebagai harapan-harapan terbaik bangsa demi melanjutkan perjuangan dalam membangun negara ini dan kejayaan Islam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Denny Yusuf
Mahasiswa Ilmu Komputer di Universitas Indonesia. Menyukai Matematika namun tidak terlalu suka dengan codingan.

Lihat Juga

STEI SEBI Menyelenggarakan acara Stadium General