Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Siapa yang Lebih Dahulu Datang, Jodoh atau Maut?

Siapa yang Lebih Dahulu Datang, Jodoh atau Maut?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ada sebuah istilah ‘kampanye hitam’ dalam politik dan sudah menjadi rahasia umum. Siapa diuntungkan atau siapa dirugikan. Begitulah dinamika politik. Tulisan ini bukan tentang politik, sama sekali tidak. Sekarang bolehkah kita ciptakan ‘kampanye merah jambu’?

Mendengar dua kata merah jambu, apa yang terlintas? Sebagian dari kita tertuju pada sebuah bentuk yang biasa disebut love atau cinta.

Soal cinta memang menarik untuk dibahas. Berangkat dari sebuah rasa —sesuatu yang tidak tampak— disampaikan lewat mata dan kata. Tidak semua orang mampu menempatkan cinta dengan tepat. Sedikitnya ada dua sisi, cinta mulia atau tidak mulia. Bagaimana jika kita menginginkan kemuliaan tentang cinta yang kita punya?

“Menikah adalah solusi untuk dua orang yang saling mencintai” dan kalimat ini terdengar melegakan dan juga mendebarkan. Melegakan bagi sepasang kekasih yang benar-benar butuh solusi atas cinta yang ingin mereka jaga, tentu mereka tidak ingin terjadi perzinahan. Menjadi mendebarkan bagi sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi belum siap untuk melaksanakan pernikahan dengan alasan; masih sekolah, masih kecil, masih belum mapan dan masih banyak alasan lainnya.

Menikah memuliakan sunnah. Betul sekali. Pernikahan juga menjadi sesuatu yang wajar untuk ditargetkan. Paling tidak, ada umur yang disebut karena merasa cukup dewasa untuk menikah. Positifnya, kampanye merah jambu pernikahan telah berhasil mendapat perhatian dari anak muda yang memegang prinsip ke-jombloan-nya. Adapula yang baru sadar, kenapa pacaran lebih baik tidak dilakukan? Hasilnya unik, yang ingin menikah tentu belajar dan mencari tahu mengapa menikah jadi solusi untuk cinta.

Sayangnya, ketika seluruh fokus dikerahkan menuju kata pernikahan, masa depan pun mengalami pergeseran makna. Ia seringkali menjadi lelucon. Bukan sesuatu yang terkesan memaksa saat masa depan dikaitkan dengan pernikahan, tetapi apa dan kenapa fokus masa depan itu hanya pada kata menikah? Padahal masa depan itu bisa diartikan dengan keadaan pribadi, orang tua atau lingkungan.

Kajian nikah muda —tidak ada salahnya untuk mengikuti acara bermanfaat macam itu. Benar memang, kalau kita perlu ilmu untuk memahami banyak hal. Karena banyak hal yang tidak bisa semaunya diatur sendiri. Ada poin yang harus diperhatikan kalau memang siap menikah di usia muda. Kita tidak tahu kapan kita siap. Allah telah mengatur segalanya, baik rezeki, jodoh dan maut sejak ruh ditiupkan.

Tunggu, bisakah kita berhenti sejenak jika ini memang terlalu jauh?

Berhenti untuk kembali meninjau pembahasan yang boleh jadi tidak akan kita lewati. Bukan suatu keputusasaan melainkan mendahulukan sesuatu yang lebih pasti.

Apa?

Mati?

Ya, tentang kematian yang datangnya bisa satu menit kemudian setelah tulisan ini Anda baca. Begitu banyak hal yang bisa kita siapkan untuk jodoh —tapi bukankah mati adalah satu hal yang lebih pasti dari pada kedatangan jodoh?

Kajian nikah muda begitu ramai didatangi ikhwan dan akhwat. Tidak menafikkan kalau memang tema pernikahan mudah menarik mereka untuk mendengarkan. Apa jika kajian “mati muda” akan tetap ramai didatangi ikhwan dan akhwat?

Tanpa bermaksud menggurui siapa pun, pemantasan diri untuk seorang yang telah Allah jodohkan terkesan lebih spesial dibanding dengan pertemuan seorang hamba menuju Rabbnya. Lalu bagaimana jika sebelum sempat menikah kita telah didatangi lebih dulu oleh malaikat maut? Bolehkah kita memintanya untuk menunggu? Saat dijemput, bahkan kita tidak bisa memintanya menunggu guna bersiap-siap membawa apa saja yang bisa kita bawa.

Adakah target kita mati? Bukan maksud menantang maut, bukan. Ini lebih kepada meluruskan niat. Hidup kita untuk apa dan karena siapa —kita akan pulang ke mana nantinya. Sudah sebanyak apa perbekalan yang akan dibawa menuju kampung halaman?

Mengapa kita berani menargetkan untuk menikah dan melakukan pemantasan untuk jodoh, sementara kita lupa bahwa akan datangnya kematian. Ingatlah bahwa, ketika kita berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka kita akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Ketika kita berhijrah untuk lelaki atau perempuan yang ingin dinikahi, kita hanya mendapat itu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,53 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shofiyah Qonitat
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Sulung dari 5 bersaudara ini memiliki motivasi yang tinggi dalam menulis. Modal utama menulisnya adalah rasa. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Sedang berusaha membersihkan partikel tidak penting di hidupnya dan ingin sekali membahagiakan orang tua.

Lihat Juga

Jika Allah Telah Memilihkan Jodohmu..