Home / Berita / Opini / Menjadi Pemilih Cerdas untuk Pemilihan Presiden 2014

Menjadi Pemilih Cerdas untuk Pemilihan Presiden 2014

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 - (lensaindonesia.com)
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 – (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Rakyat Indonesia kembali dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang akan menentukan masa depan bangsa dalam lima tahun ke depan. Setelah sebelumnya Indonesia memilih anggota legislatif periode 2014-2019. Tak lama lagi pemilu eksekutif yakni pemilihan Presiden 2014 akan menjelang. Perhelatan akbar itu akan dilaksanakan pada tanggal 9 juli 2014. Dimana para calon Presiden yang telah diresmikan, telah berbenah dan menyiapkan diri menuju pemilihan. Adapun kandidat resmi tersebut adalah pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Keduanya diusung oleh beberapa partai berkoalisi yang telah melakukan kesepakatan dan saling memberikan mandat kepercayaan kepada kedua calon Presiden dan Wakil Presiden tersebut.

Hari ini, kita tentu melihat dan menyaksikan pemberitaan di media nasional sedang begitu giat dan gencar membahas tema Pilpres 2014 ini. Mulai dari pembahasan rekam jejak Capres, kehidupan pribadi Capres hingga pada tataran persiapan menjelang Pilpres 2014. Tidak cukup sampai di situ, hal yang menarik juga adalah belakangan kita menemukan kesan media yang saling serang, menunjukkan afiliasinya atau bahkan menjatuhkan pasangan calon yang lainnya. Sehingga, masyarakat dibuat bias antara fakta dan kampanye hitam yang sekarang marak tersebar.

Melihat pada fakta hari ini, pertanyaan mendasar adalah apakah pemberitaan terkait Pilpres sudah cukup memberikan pencerdasan kepada masyarakat? Bagaimana caranya menjadi pemilih cerdas dalam Pilpres 2014 ini?

Menarik memang jika kita melihat kondisi hari ini, dimana masyarakat sedang merasakan fenomena yang bisa kita sebut dengan “Banjir Informasi”. Banyaknya pemberitaan yang kini hadir dalam keseharian kehidupan masyarakat sudah melewati kapasitas atau overload. Sehingga masyarakat cenderung enggan atau bahkan kesulitan menerima ide dan gagasan utama dari masing-masing Capres ini. Selain itu, fenomena pemberitaan beberapa media umum nasional yang masih dipertanyakan independensinya juga menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Sehingga, pada tataran tertentu, afiliasi dari sebuah media itu bisa terbaca dan diketahui masyarakat secara tidak langsung. Oleh karenanya, kondisi-kondisi inilah yang berdampak pada kerancuan informasi yang diterima masyarakat. Sehingga peran media dalam mencerdaskan masyarakat tidak tersalurkan dengan baik .

Adapun penyebab masyarakat belum tercerdaskan adalah karena sampai hari ini arus informasi terkait pemberitaan para kandidat Capres belum masuk ke tataran ideologis dan grand design yang dibawa. Sampai hari ini, pemberitan di media mayoritas hanya membahas bagian luar yang kurang relevansinya dengan konsep, ide dan gagasan yang dibawa kandidat untuk memimpin Indonesia. Sempitnya eksplorasi visi misi dari para calon Presiden ini juga menyebabkan masyarakat sampai hari ini masih terjebak oleh figuritas dan belum memiliki kesadaran yang utuh tentang sejauh mana gagasan dan komitmen yang dimiliki oleh pasangan calon.  Inilah yang menyebabkan masyarakat belum tercerdaskan dan belum terdidik menjadi masyarakat yang objektif dalam menentukan pilihan.

Oleh karenanya, menyaring arus informasi yang masuk haruslah menjadi langkah awal menjadi pemilih cerdas. Pemilih yang cerdas harus selektif mencari sumber informasi dan pemberitaan terkait kelebihan dan kekurangan para Capres. Memilih sumber informasi yang objektif dan terpercaya serta mengendepankan indepedensinya. Selain itu, menggali sebanyak mungkin ide, konsep, gagasan dan grand design yang dibawa oleh Capres juga menjadi hal yang mesti dilakukan oleh pemilih cerdas. Sebab, hanya melalui ide dan gagasan itulah kita dapat menggambarkan bagaimana calon Presiden memimpin negara dan menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

Pada akhirnya, siapa pun yang akan memenangkan pemilihan Presiden 2014 ini harus siap berkomitmen pada janji kampanyenya. Oleh karena kontribusi yang paling penting bukanlah pada masa kampanye seperti sekarang ini. Namun, pada saat Presiden memimpin nanti. Menjadi pemilih cerdas adalah kunci dari terpilihnya Presiden dan wakil Presiden yang berkualitas. Presiden yang siap memimpin negara Indonesia menjadi Negara yang unggul. Presiden yang siap menyelesaikan permasalahan bangsa dan menjawab tantangan global untuk masa yang akan datang.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurfahmi Islami Kaffah
Ketua umum BSO SERAMBI FHUI 2014, Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Lihat Juga

Pilkada DKI Jakarta

Baru Kali Ini Warga Tolak Kampanye Cagub