Home / Narasi Islam / Dakwah / Daya Tahan di Jalan Dakwah

Daya Tahan di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Kali ini kita akan berbicara tentang ketahanan untuk tetap bertahan berjalan di atas jalan dakwah. Sebagaimana karakternya, jalan ini bukanlah jalan dipenuhi oleh “bunga-bunga” pujian. Jalan dakwah bukanlah jalan yang dipenuhi dengan kemudahan sehingga dapat dilalui dengan mudah. Tetapi ini adalah jalan yang sulit dan penuh dengan fitnah. Dakwah adalah jalan yang sulit penuh dengan perangkap dan cobaan. Oleh karena itu, diperlukan ketahanan internal yang kuat, karena dakwah merupakan jalan yang panjang. Bisa jadi, seorang aktivis dakwah tidak akan pernah merasakan “buah” perjuangannya di dunia ini karena singkatnya umur manusia tidak sebanding dengan panjangnya cita-cita yang dibawa dalam misi dakwah. tetapi, dibalik semua kesabaran dalam menghadapi cobaan, dibalik kesabaran menghadapi fitnah dan dibalik kesabaran atas kelelahan karena berjuang dalam waktu yang panjang. Allah swt telah menyiapkan balasan yang setimpal. Yaitu, surga dan seisinya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)

Tidak mudah untuk bertahan di jalan dakwah, karena itulah Allah swt telah menyiapkan balasan yang besar bagi siapa saja yang dengan tulus ikhlas tetap istiqamah berjuang dijalan Allah. Allah swt telah menyiapkan surga untuk mereka yang dengan ikhlas menginfaqkan harta dan jiwanya dijalan Allah.

Tidak sedikit, mereka yang berjuang dijalan dakwah harus minggir dan menepi bahkan berhenti memperjuangkan agama Allah swt karena mereka tidak sanggup untuk bertahan atas cobaan yang diberikan oleh Allah swt. Ada yang harus futur karena alasan tidak sanggup akan cobaan berupa kesulitan-kesulitan tapi, tidak sedikit yang harus insilakh (keluar) dari jalan dakwah karena cobaan yang berupa kenikmatan. Ketika dakwah telah masuk pada pusat-pusat kekuasaan. Ketika harta, tahta dan wanita begitu mudah untuk didapatkan, maka ada sebagian aktivis yang kecele dengan godaan-godaan tersebut. Tak pelak, orientasi pun menjadi berubah. dan akhirnya mengubah perilaku yang ditunjukkannya.

Harus jujur diakui untuk hal yang terakhir, disebabkan mereka yang terlena dengan dunia, mereka yang telah mengubah orientasinya juga mempengaruhi aktivis dakwah yang lain. serta merusak citra jamaah dakwah. Dan tidak sedikit dari aktivis dakwah yang merasa tertipu,kecewa dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari jamaah. Oleh karena itulah, mari kita renungkan lagi firman Allah swt berikut ini:

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun…” (Al-Mulk: 1- 2)

Yang mesti kita pahami bersama, sejatinya ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah swt itu adalah proses “screening” yang dilakukan oleh Allah swt. Ujian dan cobaan adalah “seleksi” tersendiri yang dilakukan oleh Allah swt untuk melihat siapakah di antara hamba-Nya yang memiliki kualitas amal terbaik.  Dan di surat lain, Allah swt juga menegaskan bahwa ujian dan cobaan yang diberikan itu untuk membuktikan keimanan seseorang.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Oleh karena semua ujian yang akan dihadapi oleh setiap aktivis dakwah, oleh karena dakwah ini merupakan jalan yang teramat sangat panjang. Maka setiap dari kita mesti memiliki daya tahan di medan dakwah. Untuk merealisir daya tahan dalam medan dakwah setidaknya 5 (lima) hal yang dijelaskan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan dalam bukunya “Tegar di Jalan Dakwah” yaitu, menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.

Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya   dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.

Untuk mencapai derajat iman kita perlu: memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktivitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.

Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan  pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar.

Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktivis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisasi penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktivis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.

Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Quran dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana’ahtanzhimiyah).

Wallahu a’lam bisshawwab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yoeandha
Mahasiswa jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus NADWAH UNSRI sebagai kepala departemen PPSDM. Mantan ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas Teknik KALAM FT.

Lihat Juga

Guru Persimpangan Jalan