Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Agus Cinta Misa

Agus Cinta Misa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Sri Wahyuni)
Ilustrasi. (Sri Wahyuni)

dakwatuna.com – Agus cinta Misa. Ini adalah tulisan di papan tulis yang kutemukan di hari kedua Ulangan Akhir Semester I. Tidak ada masalah dengan tulisan ini, jika yang menulisnya adalah seseorang yang telah cukup umur untuk mengenal cinta. Tapi tidak untuk saat ini, penulisnya adalah siswa SD. Masih kelas 2.

Awal kumasuk ke kelas untuk mengawas, aku tidak menyangka akan melihat tulisan ini. Memang sederhana. Tapi belum cocok untuk mereka. Mereka baru berumur delapan tahun. Itupun kalau orang tua mereka mengikuti aturan pemerintah yang menyekolahkan anaknya di SD pada usia 7 tahun. Nah, coba kalau orang tuanya menyekolahkannya di umur lima tahun, berarti disaat kelas 2 SD, mereka masih berusia enam tahun.

Anak-anak hanya tertawa saat aku menanyakan siapa yang menulis “tulisan” itu di papan tulis. Mereka pun menunjuk satu orang anak laki-laki yang sedang berdiri di belakang kelas. Anak itu malah nyengir. Oh tuhan, apa yang terjadi dengan mereka?

Anak-anak menganggap hal ini sepele. Tapi tidak untukku. Saat ini yang harus mereka fikirkan adalah belajar. Belum saatnya mereka memikirkan cinta-cintaan. Mau jadi apa mereka nantinya jika mereka yang masih belum bisa menghapus ingusnya sendiri saja telah berbicara tentang cinta kepada lawan jenis.

Mungkinkah aku saja yang berfikir berlebihan? Tapi apakah salah jika aku mengkhwatirkan kondisi siswa ini? Mereka calon pemimpin negeri ini. Dari kecil mereka sudah harus mulai belajar dengan baik. Mereka sudah harus mulai bersikap yang baik. Kita sama-sama tahu, semuanya sudah harus dibiasakan sejak kecil.

Jadi, kekhwatiranku ini bukan tak beralasan. Aku mendengar dari beberapa guru,  siswa perempuan kelas lima atau kelas enam di SD ini, ada yang dinikahkan oleh orang tuanya. Dan lebih parahnya lagi, belum lama ini, seorang siswi yang saat itu akan mengikuti UN seminggu lagi malah dinikahkan oleh orang tuanya.

Tak habis fikir olehku, betapa piciknya fikiran mereka. Menikah setelah tamat SD bukan hanya sekali dua kali terjadi di kampung ini, tapi sudah kebanyakan seperti  itu. Bagaimana masa depan mereka nantinya? Menikah berarti anak yang masih ingusan ini harus mengurusi sang Suami. Jadi tidak mungkin lagi bagi mereka untuk menyambung sekolah ketingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Dari beberapa informasi yang kudengar, ternyata umur pernikahan anak-anak yang menikah di usia pagi ini tidaklah berjalan aman, tentram, damai dan sentosa. Rata-rata umur perkawinannya hanya bertahan satu sampai dua tahun. Setelah itu, mereka ditinggal oleh suaminya. Ya, berarti banyak janda kembanglah di kampung ini.

Pertama ku mendengar tentang fakta ini, tidak tahu apa yang kurasakan dalam hati. Anak yang kira-kira baru berusia 13 atau 14 tahun sudah harus melayani seorang suami. Alamaaak. Tak terbayang olehku. Aku saja yang sudah berusia dua puluh tiga tahun masih belum siap mengurusi suami. Bagaimana dengan mereka yang usianya jauh lebih kecil lagi dibanding aku? Pantaslah mereka ditinggalkan oleh suaminya. Anak sekecil itu mana mungkin bisa mengurus suami dengan baik.

Sama-sama kita tahu, anak sebelia itu belum “pas” memiliki suami. Pada saat umur sedemikian muda itu, mereka seharusnya masih bermain ke sana ke mari bersama teman-temannya. Seusia itu mereka juga harus masih dalam proses menangguk ilmu di sekolah. Sekali lagi, belum masanya mereka merasakan sesuatu yang belum pantas mereka rasakan.

Jadi karena itulah. Apakah aku salah mengkhwatirkan mereka?

Karena mereka harapan bangsa. Nasib Negara ini ke depannya ada di genggaman mereka. Negara ini takkan maju dengan mereka yang mengenal cinta lebih awal. Sekali lagi, tidak! Justru “cinta” yang mereka kenal pada saat yang tidak tepat membuat jalan kesuksesan mereka menjadi kabur. Gelap tak berarah.

Karena itu,  bagi kita yang masih memiliki kesempatan untuk belajar, tangguklah ilmu itu sebanyak-banyaknya. Kesempatan itu hanya datang satu kali. Jika kita melewatinya, dijamin dengan pasti waktu yang telah tersia-siakan itu tidak akan pernah kembali.

Bersyukurlah atas semua kesempatan yang diberikan Allah kepada kita. Karena itu, buanglah semua rasa malas untuk kebahagiaan kita nantinya. Berusahalah menepiskan semua rasa bosan itu untuk menggenggam sebuah senyuman kelak. Dengan demikian, semoga kita semua bisa menjadi pribadi sukses pada akhirnya. Amin.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang