Home / Berita / Internasional / Amerika / Karena Konflik Palestina-Israel, Ibrahim Temukan Kedamaian Islam

Karena Konflik Palestina-Israel, Ibrahim Temukan Kedamaian Islam

Jalur Gaza (ilustrasi).  (deseretnews.com)
Jalur Gaza (ilustrasi). (deseretnews.com)

dakwatuna.comIbrahim Long tak pernah berpikir akan memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Sebelum menikah, Ibunya telah berjanji untuk membesarkan anak-anaknya menjadi Katolik yang taat. Tak sehari pun terlewatkan tanpa ia mendengar ibunya menyanyikan doa-doa.

Ibu Ibrahim sangat vokal jika mereka membicarakan agama. Sementara ayahnya, lebih pendiam soal agama dan lebih menunjukkan komitmen diam soal perilaku. Ibrahim tak banyak memikirkan soal keyakinannya hingga ia lulus dari Folsom High School.

Saat itu, keluarganya diuji dengan sakitnya Ibu Ibrahim. Ia menderita semacam tumor di perut yang dokter tak bisa memastikan kesembuhannya. Dengan tekad untuk bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, Ibu Ibrahim menjalani chemotherapy yang membuatnya kehilangan berat badan drastis. Rambutnya pun perlahan rontok.

Ibrahim mendapati ibunya bisa tabah menjalani semua kesulitan karena keyakinan terhadap Tuhan melalui agamanya Katolik. Sayang, optimisme itu ikut hilang bersama wafatnya sang ibu. “Saya tak ingat kapan. Tapi setelah ibu tiada, saya mulai mengkritisi Tuhan yang saya sembah selama ini. Untuk apa memuja-muja manusia sebagai Tuhan?”, ungkap Ibrahim seperti dimuat onsilam.net.

Terinspirasi ibunya, Ibrahim tahu, ketenangan hati hanya bisa ditemukan dengan mencari Tuhan di jalan yang benar. Ia mulai membuka Alkitab. Diakuinya banyak pelajaran yang ia dapat. Tapi, ia masih tidak menemukan dasar mengapa Nabi Isa disembah sebagai Tuhan.

Ia lalu mencoba mendalami agama lain seperti Hindu dan Buddha. Meditasi Buddha tak juga membuat hatinya menemukan kejernihan sebuah agama. Apa yang didapatnya dalam pencarian Tuhan ini tak lebih dari rekaan manusia. Tapi Ibrahim tetap menaruh keyakinan, jika Tuhan ingin Ibrahim mengenal-Nya, Tuhan pasti menunjukkan jalan yang tidak dicampuri tangan manusia.

Ibrahim sempat tinggal di Santa Monica bersama temannya. Saat pulang ke rumah orangtuanya di Sacramento pada usia 23 tahun, hatinya makin terasa kering. Ia memutuskan berhenti mencari Tuhan dan kegiatan keagamaan.

Tak pernah mengenal Islam selain agama yang tidak toleran, Ibrahim justru dibuat penasaran dengan Islam setelah membaca konflik Israel-Palestina di sebuah majalah. Ia pun mulai penasaran dengan ajaran Islam. Tak sengaja, ia malah mempelajari Islam.

Namun ia tidak mendapatkan adanya kekerasan dalam ajaran Islam. Bahkan ia menemukan sebuah ajaran dengan Allah sebagai Tuhan yang ia cari selama ini. Ia mendapatkan ketenangan dengan mempelajari Islam. Kemudian ia memutuskan untuk masuk Islam dan menjadi mualaf. Dari konflik Palestina-Israel, ia menemukan kedamaian dan ketenangan dalam ajaran Islami. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Aksi Solidaritas Palestina oleh LDK SSP STEI SEBI yang berlokasi di Car Free Day, Jakarta. Ahad (27/11/2016).  (Ahmad Jundi Taqiyuddin/LDK SSP STEI SEBI)

Aksi Solidaritas Untuk Palestina di Car Free Day Jakarta

Organization