Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mari Berbagi Ilmu di Jalan Perjuangan (Dakwah)

Mari Berbagi Ilmu di Jalan Perjuangan (Dakwah)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ilmu itu Allah Swt berikan kepada siapa yang mencari. Tapi kefahaman terhadap ilmu tidak diberikan Allah Swt   kepada semua pencari ilmu. Tak ayal, meski sudah sekolah tinggi  hingga ke luar negeri atau nyantri hingga lupa usia diri, tapi masih basa-basi dalam mengamalkan ilmu yang ia dapatkan.

Al-‘Ilmu Nuurun, kefahaman yang menjadikan ilmu itu bercahaya. Selain ada perihal keikhlasan dan meninggalkan kemaksiyatan.  Seperti halnya nasehat yang disampaikan Imam as-Syafi’i, “Al-‘Ilmu Nuurun, Wa Nuurullahi Laa Yuhda Lil ‘Ashy,”  Ilmu adalah cahaya dan cahaya (pengetahuan) Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

Tidak semua orang yang berilmu memahami ilmunya. Karena tidak semua orang yang berilmu menjalankan apa yang diketahui. Banyak juga yang hanya sebatas  menjadi fikrah, tanpa berbuah menjadi amal.

Ya Rabb, berikanlah kami hidayah untuk dimudahkan dalam menuntut ilmu dan jadikan kami penuntut ilmu yang diberikan hidayah kefahaman oleh-Mu. Agar kami bisa mengamalkan apa yang kami dapatkan, seperti yang diajarkan baginda Rasulullah, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”(Hr. Bukhari)

Sesungguhnya, ilmu Allah Mahaluas. Entah kapan kami bisa menggenapkan semua ilmu tersebut. Karena, jika para ulama menunggu ilmu itu penuh padanya, maka tak akan ada dari mereka  yang mengajarkan kepada muridnya.

Logikanya,  tak ada tabi’it tabiin, jika tak ada tabi’in. Tak ada tabi’in, jika tak ada para sahabat.  Tak ada murid para ulama, maka tak ada perantara penyambung ilmu pada masa atau generasi setelahnya. Tak ada perantara, maka akan sangat lama ilmu itu sampai kepada kami.

Jadi, tidak ada lagi kata, “Maaf, saya belum pantas menyampaikan (menjadi da’i). ” Bukankah kita percaya dengan sabda Rasul bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang berilmu dan orang yang bermanfaat kepada orang lain?

Diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah Saw bersabda, “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Hr. Thabrani dan Daruquthni)

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik Islamnya kalian adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu.(Hr. Ahmad)

Lantas, kenapa kita tak mau berbagi ilmu? Agar ilmu kita bisa bermanfaat untuk orang lain.
Bukankah kita percaya bahwa ada 3 amalan yang dapat membawa pahalanya terus mengalir meski posisi kita tak lagi hidup di dunia? Saat raga sudah terbujur kaku dalam kubur. Entah dapat nikmat atau siksa kuburkah kita di sana. Tapi, ada pahala yang senantiasa mengalir. Senantiasa pahala ilmu yang bermanfaat, dan akan terus mengalir selama masih ada orang yang melakukan kebaikan karena perantara kita.

Jika ada orang lain melakukan kebaikan melalui perantara kita, maka kita akan mendapatkan pahala yang sama seperti orang tersebut, tanpa mengurangi pahalanya.

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (Hr. Muslim)

Jika ada yang memperoleh hidayah karena perantara kita, hal itu lebih baik daripada unta merah.

Dari Sahl bin Sa’ad, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda (kepada Ali Ra), “Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada satu orang lantaran kamu, itu lebih baik  bagimu daripada kamu mendapatkan unta merah.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Jika ada yang mendapat hidayah karena perantara kita, hal itu lebih baik dari terbit dan terbenamnya matahari. Meski kebaikan sang mentari selalu aktif saban hari tanpa henti selalu menyinari makhluk bumi. Dengan sinarnya, semua makhluk sangat merasakan banyak manfaat.

Demi Allah satu orang memperoleh hidayah lantaran kamu, maka itu lebih baik dari apa yang ada di antara terbit dan terbenamnya matahari.” (Hr. At-Tabhrani).

Imam Hasan Al-Basri pernah berwasiat, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian. Tapi bukan berarti akulah orang terbaik di antara kalian. Bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.

Sesungguhnya akupun telah melampui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup menggerakannya dengan sempurna. Tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam mentaati perintah Rabbnya.

Andai kata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudara, kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan pernah ada orang pemberi nasehat.”

Jadi,  Tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak berbagi dan terlibat dlm perjuangan ini. Tak ada orang yang sempurna dan tak ada orang yang sudah menghatamkan ilmu Allah.

Ya Rabb, tunjukkan dan mudahkan kami mengikuti jalan para ulama’. Teruslah letakan kami dalam jalan kebaikan dan istiqamahkan kami serta ridhai kami di jalan perjuangan ini.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT