Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nikmat yang Tak Tersadari

Nikmat yang Tak Tersadari

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Pagi itu, seorang remaja berjalan bersama sang bunda. Hari ini merupakan hari istimewa baginya. Sebab dia diberikan kado oleh bunda. Kado yang sangat diharapkan dari dulu. Akhirnya, kali ini dia pun mendapatkannya.

Berjalan dengan rianglah sang remaja. Tampak kebahagiaan di raut wajahnya. Setelah membuka kado pemberian sang bunda, dia pun langsung memakai kado tersebut untuk menemani bunda pergi ke pasar.

Mereka berdua menuju pasar agak siang. Ketika tiba di pasar, azan Dhuhur  beberapa menit lagi akan berkumandang.  Setelah menelurusi beberapa toko menemani bunda, azan pun berkumandang. Sejenak, dia pamit kepada bunda.

“Bunda, aku shalat dulu ya. Nanti kita ketemu di tempat ini saja. Atau, kalau bunda selesai berbelanja, kita ketemu di masjid.”

“Baik sayangku, hati-hati di jalan ya.”

“Siap, Bunda.”

Sang anak pun dengan suka-ria menuju masjid sambil tetap menggunakan kado yang telah diberikan oleh bundanya. Sesampainya di masjid, dia langsung menuju tempat wudhu putra kemudian mengikuti shalat berjamaah.

Seusai shalat, dia baru tersadar bahwa kado pemberian bunda ditaruh di luar. Berzikir sejenak dan ditutup dengan doa sambil harap-harap cemas dia menuju ke depan pintu masjid.

Astaghfirullah,” gumamnya di dalam hati.

Sandal yang dia pakai telah tiada di tempat semula. Sandal itulah yang menjadi kado istimewa dari bunda pada hari ulang tahunnya. Kini, dia hanya bisa berprasangka baik. Terduduk di serambi masjid.

“Den, ayo pulang,” terdengar suara khas yang selalu mendoakannya seusai shalat.

“Bunda,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Sandalnya hilang, Aden kelupaan membawa masuk buat dititipkan di tempat penitipan.”

Terlihat wajah bunda mulai berubah. Sebelum bunda melontarkan kata-kata, Aden mendahuluinya.

“Tak apa Bunda. Kan, yang hilang sandal, bukan Aden. Jika Aden yang hilang, tapi sandalnya ada, Bunda milih yang mana?”

Bunda pun langsung memeluk Aden sebab dia bangga memiliki anak yang masih menyukuri nikmat yang besar ketika nikmat yang kecil telah dicabut dari dirinya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Bergembira di Dalam Rahmat