Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yakinilah Keajaiban

Yakinilah Keajaiban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dalam keseharian, sering kita jumpai wajah yang senang sampi muram. Dari senyum sampai diam. Teman bisa menjadi lawan dan begitu juga sebaliknya. Maka kemudian hari, melalui proses keinsyafan, tampillah kita dengan apa adanya, sangat sederhana. Keyakinan muncul dalam benak, bahwa tidak ada hal yang begitu mengkhawatirkan, dan pribadi tidak sepatutnya merasa tenang tanpa beban.

Kemudian sahabat berkata di tengah perjalanan, “Aku malu punya kawan sepertimu.” Dan, yang menempel pada pribadi yang lain bercap musuh berujar, “Semoga kita dapat berjumpa lain waktu.” Satunya amat bosan dengan pertemuan dan kebaikan, satunya lagi amat rindu dengan jabat, peluk dan salam dari orang yang selama ini terasing dalam diam.

Bergumamlah kita, “Apakah temanku yang akan membawaku pada kebaikan?” Sisi dan waktu yang lain berujar lagi, “Apakah dia musuhku? Orang yang belum aku kenal itu. Suatu hari akan memberiku sebuah pelajaran?” Maka benar, tak ada nikmat yang sanggup didustai. Sebab dengan hati-hati, diri kita menemukan sebuah jawaban. Bahwa tak ada teman yang begitu mengerti, tak ada musuh yang terlalu membenci.

Adalah kita yang mustahil tanpa cela, yang proses perbaikannya seumur hidup sampai ajal menjemput. Menjadi pribadi yang begitu sempurna adalah mimpi-mimpi yang terlukis di benak jiwa. Namun, rasa lain bernama realita berkata lain. Melakukan pemberontakan demi pemberontakan. Maka, muncullah amarah, senyum dan air mata. Baiknya menjaga diri siang dan malam luar dalam. Sebab di balik tabir baik hatinya dunia, mereka membujuk kita agar terlena dan berleha-leha. Dan, itu amat kejam.

Sebaiknya merujuk pada apa yang diujarkan ibu kita, “Nak, di hari kemudian, kau akan menjumpai dua jenis orang.” Dalam balutan selimut terlontar tanya, dan tentu saja seperti ini, “Apa itu ibu?”

Dengan penuh sifat kelembutan, wanita yang mengasihimu itu berujar panjang lebar. Padamu akan datang seorang teman yang jika ia berhasil akan membawamu pada ketakwaan. Jika gagal, ia akan membiarkanmu pada tipuan demi tipuan dunia.

Kemudian hari, datang padamu seorang asing yang beraroma memusuhi. Jika berhasil berlakon, maka ia akan memberikanmu pelajaran. Semoga kau tumbuh sebagai pribadi yang kuat, yang mengucapkan pelan-pelan penuh yakin, “Coba aku!” Bahwa membuang jauh-jauh, “Kenapa aku?” Semoga temanmu hadir dalam pertemuan yang berkah, majlis ilmu yang indah, dan rencana kerja yang bermasa depan cerah.

Sebaliknya, orang asing tadi, musuhmu itu, semoga memicumu untuk berprestasi. Menyulut api emosimu untuk mengalah-telakkan kebodohan, memberangus keragu-raguan dan sedikit memberikan pemaksaan untukmu berprestasi. Bahwa yakinlah, baik dan tidak baik hanyalah dua hal yang dibatasi lapis yang sangat tipis, sekat yang nyaris tanpa batas. Kuatkan keyakinan dan buang jauh jauh keragu-raguan. Sebab semuanya itu ada pada diri kita.

“Nak.. ” sebutnya lagi, “Dalam pribadi yang kau miliki itu, peliharalah daya tahan. Sebab kadang cuaca dalam kondisi baik, tiba-tiba bisa buruk, dan kau masih ada di luar rumah”. Ibu kita berkias sebagai seorang ahli dengan gambaran bahwa baiknya kita menjaga daya tahan dan daya juang dalam laju perjalanan. Di tengah sibuk dunia beralu-lalang, amat sangat ngeri kalau kita berbekal ketidaktahuan. Kuasai ilmu dan bacalah keadaan. Sebab sepanjang jalan, kita mencari pastilah ada keajaiban, dan itulah sebuah keyakinan.

Di manakah letaknya? Mungkin dalam perjalanan hidup. Pelan-pelan, melalui rambu-rambu, dalam kisah sederhana dapat kita jumpai. Apakah itu pandang curiannya yang akhirnya kau dapati di tengah hidangan dan membuatnya tersipu? Apakah itu sungging senyum yang membuatmu demam, meriang, nyeri tak sudah-sudah? Atau, lari-lari kecil nan lincah karena ingin memangkas masa agar tak berlama-lama dalam jarak yang sama?

Simpanlah keyakinan dalam daya tahan di balik gelora daya juang kita. Duhai kawan sesama-sama di perjalanan, yakinilah sebuah keajaiban.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanda Koswara
Pendiri #MakingPeopleSmileProject wadah kreatif untuk berekspresi di bidang sosial.

Lihat Juga

Bekal Pilkada, Sukses Memilih Pemimpin dengan Akal Sehat