Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kemuliaan Nabi Muhammad Saw

Kemuliaan Nabi Muhammad Saw

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Surat ini merupakan wahyu ke-12 yang diterima Nabi Muhammad Saw. Surat ini terdiri dari 8 ayat, turun sesudah adh-Dhuhadan sebelum al-‘Ashr. Ulama bersepakat bahwa ayat-ayat surah ini turun di Makkah sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

Alam Nasyrah Laka Shadrak

Ayat yang pertama merupakan istifham atau kata tanya yang mengandung makna taqrir atau menetapkan. Menetapkan bahwa Allah Swt telah melapangkan dada (syarhu ash-shadr) Nabi Muhammad Saw dengan kenabian dan lain sebagainya. Al-Imam Qurtuby menjelaskan alam nasyrah juga berarti alam naftah shadroka bil Islam yang artinya Allah telah membukakan (dada) Nabi Muhammad dengan Islam.

Hal ini senada dengan firman Allah  surat al-An’am ayat 125. Allah Swt berfirman, faman yuridillahu an yahdiyahu yasyroh shodrohu lil islam. Riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas r.a alam nasyrah bermakna alam nuliina laka qolbaka yang artinya Allah telah melembutkan (dada) Nabi Muhammad Saw. Al-Baghawi mengatakan alam nasyrah mengandung arti bukankah Kami telah membukakan, meluaskan, melembutkan hatimu wahai Nabi Muhammad dengan keimanan, kenabian, ilmu dan hikmah.

Ayat yang pertama ini sekaligus menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad Saw bahwasanya beliau Saw dianugerahi oleh Allah Swt dengan berbagai kenikmatan. Diantaranya kelapangan dada, ketenangan hati, dan juga kebahagiaan. Meskipun berbagai caci maki, siksaan dan penolakan dakwah dengan berbagai bentuknya, tapi beliau memiliki jiwa pemaaf, tenang dan bahagia.

Syarhus shadr ini merupakan kekhususan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad tanpa beliau memohon kepada Allah. Sementara Nabi Musa a.s memohon kelapangan tersebut kepada Allah yang diabadikan doanya dalam surat Thaha ayat 25-26.

 

Wa Wadha’na Anka Wizrak, Alladzii Anqodho Dzhahrak

Wadha’na artinya menanggalkan. Maksudnya, Allah Swt selain melapangkan juga menanggalkan beban Nabi Muhammad yang selama ini terasa memberatkan punggung beliau Saw.

As-Sa’adi mengatakan bebannya Nabi Muhammad menjadi ringan karena Allah Swt telah mengampuni dosa-dosa beliau Saw, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Hal ini senada dengan penjelasan al-Imam Ibnu Katsir yang merujuk kepada surat al-Fath ayat 2, “Liyaghfira Lakallahu Maa Taqoddama Min Zanbika Wa Maa Ta’akkhor…”

Kata wizro pada mulanya berarti gunung. Gunung memberi kesan sesuatu yang besar dan berat. Wizro juga seakar kata dengan wazieer yang artinya menteri yang memiliki amanah dan tanggungjawab yang besar. Wizro juga seakar kata dengan Wizr yang artinya dosa. Karena yang berdosa merasakan di dalam jiwanya sesuatu yang berat. Sebagaimana Sabda Nabi Saw, “Al Ismu Mahaka Fii Shodrika”, dosa itu apa apa yang memberatkan hatimu.

Sayyid Qutb mengemukakan bahwa ayat ini memberikan kesan adanya kecemasandalam jiwa Rasul Saw menyangkut misi dakwah yang beliau emban serta berbagai hambatan-hambatan yang menghadang perjalanannya, termasuk tipu daya kaum musyrikin. Beliau sangat mendambakan bantuan dan bekal untuk menghadapinya sehingga ayat ini turun untuk maksud tersebut. Meskipun demikian, ada beberapa mufassirin yang tidak sependapat dengan Sayyid Qutb sebagaimana penjelasan di awal, bahwa ayat-ayat ini merupakan kekhususan berupa nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Sehingga apapun yang beliau hadapi, beliau tetap tenang dan lapang dada.

Wa Rafa’na Laka Zikrak

Dan kami juga meninggikan bagimu sebutanmu. Inilah anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu diangkat derajat atau kedudukan beliau Saw di sisi Allah Swt. As-Sa’adi menjelaskan bahwa Allah telah meninggikan sebutan Nabi Muhammad dengan kecintaan umatnya, pengagungan yang tidak diberikan kepada selainnya -setelah pengagungan kepada Allah Swt-.

Dalam Riwayat Abi Sa’id al-Khudri dari Nabi Saw tentang ayat ini, bahwasanya Allah Swt berfirman, “Apabila disebut nama-Ku maka namamu (Muhammad Saw) disebut pula bersamaku.” Dalam syahadat, azan, iqamat, khutbah Jum’at, khutbah nikah dan lainnya banyak disebut nama Allah Swt beserta Nabi Muhammad Saw.

Kemuliaan Nabi Muhammad juga diisyaratkan dengan kata “zikr” dalam ayat ini. Kata zikr di dalam al-Quran terulang sebanyak 76 kali dan salah satunya pada ayat ini. Kesan yang ditimbulkan dari kata ini seringkali digunakan menyangkut hal-hal yang tinggi, agung dan mulia.

Sebagai penutup, mari kita renungkan syair tentang kemuliaan Nabi Muhammad Saw yang tertulis dalam kitab al-Barzanji :

Anta Syamsun Anta Badrun

Anta Nuurun Fauqo Nuuri

Anta Iksirun Wa Ghaalli

Anta Misbahus Shuduuri

Engkau (Nabi Muhammad) seperti matahari yang bersinar di pagi hari. Engkau bagaikan bulan purnama yang bersinar di malam hari. Tetapi sinarmu (Nabi Muhammad Saw) lebih bersinar daripada sinar matahari dan bulan purnama, yang sinarnya bukan hanya di pagi atau malam saja, tetapi pada keseluruhan waktunya. Engkau (Nabi Muhammad Saw) bagaikan seperti kayu iktsir yang nilainya mahal. Sehingga siapa saja yang telah tersinari dengan sinarnya Nabi Muhammad, maka ia telah menjadi hamba Allah dan umatnya yang kaya nan mulia. Dan Nabi Muhammad Saw adalah cahaya penerang hati, yang menerangi setiap relung jiwa yang merindukannya, yang mencintainya dan mengagungkan beliau Saw.

Wa Shallallahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam.

Wallahu A’lam Bishshowwab.

Catatan: Tulisan ini merupakan tadabbur surat al-Insyirah ayat 1 – 4)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Arif Apriansyah
Tinggal di Cibogor Bogor Tengah. Latar belakang pendidikan S1 Syariah UIKA Bogor. Saat ini merupakan seorang Motivator pada ABCo Training Center.
  • Sri Fatimah

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
    menyebut Allah. (QS. Al Ahzab 33: 21)

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Agar Tak Menjadi Thaghut bagi Kader PKS