Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dari Perjalanan, Menuju Kejayaan

Dari Perjalanan, Menuju Kejayaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (islamweb.net)
Ilustrasi (islamweb.net)

dakwatuna.com – Bulan Rajab merupakan bulan yang memiliki keistimewaan karena merupakan salah satu bulan yang di dalamnya terdapat momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam. Jika hijrah Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah pada tahun 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum muslimin dan perjalanan Haji Wada’ menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Makkah. Maka Isra’ Mi’raj adalah puncak perjalanan seorang hamba (al-Abd) menuju sang Pencipta (al-Khalik).

Perjalan malam itu dimulai. Sepuluh tahun setelah menerima wahyu kenabian, Rasulllah Saw diberangkatkan langsung oleh Rabbnya dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian naik ke langit ketujuh menuju Sidratul Muntaha. Perjalanan penuh berkah yang menunjukkan betapa Mahakuasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Saw bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu satu malam.

Kemahakuasaan Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj juga tercatat dalam sejarah.  Saat itu, Rasulullah Saw sedang mengalami keadaaan yang getir, berat dan mengguncangkan.  Paman dan istri beliau, Abu Thalib dan Khadijah ra, yang merupakan penyangga dakwah Rasulullah Saw pada saat itu meninggal dunia. Roda ekonomi kaum muslimin secara sepihak diembargo oleh kaum kafir Quraisy. Pengusiran, penolakan dan penghinaan dilakukan oleh penduduk Thaif.  Para sejarahwan menyebutkan tahun tersebut sebagai ‘Amm al-Huzn (Tahun Kesedihan). Dalam suasana kesedihan itulah. Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk melakukan Isra’ Mi’raj  Namun dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj bukan hanya sebatas perjalan wisata bagi Rasul. Melainkan sebuah perjalanan suci.

Peristiwa Isra’ Miraj terjadi pada saat Rasulullah SAW berusia 51 tahun. Satu tahun lima bulan menjelang beliau hijrah ke madinah. Maka, perjalanan Isra mi’raj terjadi dalam rangka mempersiapkan Rasulullah SAW untuk mengemban tugas risalah yang tidak kalah beratnya, yaitu menghadapi masyarakat madinah yang heterogen, dari segi agama dan juga etnis. Tugas-tugas tersebut tentu saja membutuhkan sikap mental (EQ dan SQ) dan pikiran (IQ) yang lebih dalam.

Rangkaian perjalanan Isra’ Mi’raj dan berbagai peristiwa yang melingkupinya membuat kita memetik beberapa hikmah sebagai spirit yang kuat untuk dapat diaplikasikan dalam perjalanan hidup kita. Menjadikan perjalanan hidup yang kita lalui tidak sekedar perjalanan biasa, namun menjadi salah satu bagian rangkaian perjalanan dalam titik balik kejayaan Islam.

 “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Isra’ (17): 1)

Me-refresh Jiwa Sebelum Memulai Perjalanan

Perjalanan Isra’ Mi’raj dilaksanakan pada waktu malam hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa malam merupakan rangkaian waktu yang memiliki porsi bagi manusia untuk dioptimalkan.  Setelah melalui hari  yang panjang dan menyibukkan, keheningan malam sangat berguna untuk merefresh kembali jiwa yang letih untuk memulai kembali perjalanan.  Peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan hikmah bahwa kemuliaan tidak akan dicapai kecuali disertai dengan kebersihan jiwa, yang salah satu caranya dapat diperoleh dengan beribadah pada malam hari. Allah SWT berfirman dalam Q.s. al-Isra’ ayat 79,

“Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Ruang-ruang keberkahan

Yang menarik berikutnya dari perjalanan Isra’ Mi’raj yaitu dilaksanakannya perjalanan dari masjid ke masjid.  Dan dua masjid tempat pelaksanaan Isra’ Mi’raj yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Dua masjid yang penuh dengan keberkahan.  Masjidil haram menjadi pusat pelaksanaan ibadah Haji dan setiap tahunnya ramai dipenuhi umat Islam seluruh dunia sedangkan Masjidil Aqsha merupakan kiblat pertama umat muslim, tempat yang juga banyak melahirkan para nabi

Kedua masjid yang menjadi tempat persinggahan Rasulullah Saw menjadi petunjuk bahwa perjalanan menuju kejayaan Islam hendaknya senantiasa berada dalam lingkup keberkahan. Indikator dari keberkahan adalah Ziyadatul Khair, bertambah-tambahnya nilai kebaikan. Untuk mencapai kejayaan Islam diperlukan grafik kebaikan yang terus meningkat. Maka, keberkahan merupakan salah satu faktor yang tidak boleh terpisahkan dalam perjalanan ini.

Momentum Isra’ Mi’raj setiap tahunnya bisa menjadi titik di mana kita bisa mengevaluasi kembali perjalanan hidup sejauh yang telah kita jalan. Apakah kita berada di dalam ruang-ruang keberkahan dan sejauh mana usaha kita memperluas ruang keberkahan tersebut? Sehingga dalam merenungkan peristiwa Isra’ Mi’raj tercipta kesadaran baik secara pribadi maupun bersama-sama untuk berupaya memperluas ruang-ruang keberkahan sejauh mungkin.  Sebagaimana jarak terjauh yang ditempuh Rasulullah dalam perjalanan penuh berkahnya pada saat Isra’ Mi’raj.

Menyertakan Allah dalam Perjalanan

Perjalanan Isra’ Mi’raj jauh menembus langit dan hanya dilakukan dalam waktu kurang dari semalam. Belum ada teori yang dapat membuktikan bagaimana proses perjalanan itu berlangsung. Penyebutan kata ‘bi’abdihi’ juga menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah Saw bukan hanya perjalanan ruhani atau mimpi melainkan peristiwa yang melibatkan jasad dan ruh.

Hal tersebut menjadi menarik. Pertama mengenai berapa besar kecepatan yang dimiliki oleh buraq dalam menempuh perjalanan Isra’ Mi’raj.  Jika dikatakan bahwa kecepatan buraq setara dengan kecepatan cahaya, besar kecepatan cahaya dalam sebuah ruang hampa udara didefinisikan dalam standar internasional pada 300.000 kilometer perdetik (Km/h). Jarak dari bumi ke bulan yaitu 450.000 km dapat ditempuh cahaya dalam waktu 1,5 detik dan jarak dari bumi ke matahari sebagai bintang terdekat yaitu 149 juta kilometer yang dapat ditempuh kecepatan cahaya dalam waktu 8 menit. Sedangkan jarak bintang terjauh diperkirakan para astronom adalah 14 miliar tahun.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecepatan buraq bisa saja melampaui milyaran tahun kecepatan cahaya karena bisa menempuh perjalanan sejauh jarak langit dan bumi hanya dalam waktu semalam.

Kedua, berdasarkan hukum Newton semakin besar kecepatan maka tekanan akan semakin besar. Jika kecepatan buraq melampaui kecepatan cahaya, maka itu akan bisa menghancurkan tubuh manusia, sedangkan Rasulullah melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj bersama ruh dan jasadnya.

Sebuah pendapat lain menyatakan bahwa jika kita tidak bisa pergi ke tempat tujuan dalam waktu singkat, tentunya kita bisa sampai ke tempat tersebut melalui jalan pintas.  Dalam teori relativitas Einstein dinyatakan bahwa massa bisa membuat ruang dan waktu melipat, semakin besar massa maka semakin dapat melengkungkan ruang dan waktu. Akan tetapi dibutuhkan energi yang sangat besar untuk dapat menciptakan massa yang besar yang bisa melengkungkan ruang dan waktu.

Beragam teori fisika dan astronomi yang belum juga dapat membuktikan bagaimana proses perjalanan Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang mutlak atas kuasa dan kehendak Allah. Hal tersebut dipertegas dengan lafadz “asraa”  pada Q.s. al-Isra ayat 1 yang berarti “diperjalankan oleh Allah”. Firman Allah dalam surat al-Isra juga diawali dengan kalimat tasbih yang menunjukan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah.

Peristiwa Isra’ Mi’raj bagi umat muslim menjadi sebuah refleksi, sudah sebesar apa akselerasi kebaikan yang kita lakukan dalam perjalanan hidup ini dan apakah kita selalu mengingat untuk senantiasa menyertakan Allah di dalam setiap urusan-urusan kita. Karena Allah mempunyai Kekuasaan di atas segala sesuatu, melampaui batas-batas nalar manusia.

Ketauhidan Prima sebagai Syarat Kejayaan Islam

Saat ini kita akan sampai pada pembahasan puncak dari perjalanan Isra’ Mi’raj, yaitu diperintahkannya Rasulullah Saw untuk mengemban perintah shalat lima waktu.  Di sinilah puncak hikmah dari perjalanan Rasulullah Saw yang menjadi jawaban dari Allah Swt atas berbagai guncangan yang dialami Rasulullah. Shalat menjadi senjata bagi Rasulullah dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

Hikmah perjalanan Isra’Mi’raj dan diperintahkannya shalat lima waktu ini juga mengajarkan kepada kita  bahwa ketaatan dan hubungan dengan Allah Swt melalui shalat merupakan hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, kualitas shalat sebagai bentuk ketaatan utama terhadap Allah sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Baik buruknya shalat akan dihisab pertama kali yang mengindikasikan bagaimana kualitas amal-amal kita. Mulai dari shalat yang berkualitas menimbulkan amal-amal yang berkualitas dan perjalanan hidup yang juga berkualitas.

Dengan mengulas kembali sejarah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw pada bulan Rajab ini, semoga menjadi momentum yang membekas dalam jiwa untuk kembali merefresh diri agar berada dalam keadaan yang suci dan siap memulai perjalanan, memperluas aktivitas dalam ruang-ruang keberkahan, menyertakan Allah dalam setiap perbuatan, hingga siap menjemput kejayaan Islam dengan ketauhidan yang prima, Insya Allah. Dan termasuk hikmah perjalanan Isra’ Mir’aj adalah isyarat bagi kita sebagai umat Islam untuk membebaskan Masjid al-Aqsha sebagai salah satu hal yang tidak terlepas dari indikator kemenangan dan kejayaan Islam.

Wallahu a’lam Bisshowab.

“Apapun yang terjadi semua dengan izin Allah dan barangsiapa beriman kepada Allah. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. at-Taghabuun (64): 1)

 

Daftar Referensi:

Al-Qur’an Mushaf At-Tartil

Al Qusyairi, I. 2007. Kisah dan Hikmah Isra Mi’raj Rasulullah. Jakarta: 187 Halaman.

Priyatmojo, Kukuh. 2012. Hikmah dibalik Peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW. 1 hlm. http://www.dakwatuna.com/2012/06/18/21114/hikmah-dibalik-peristiwa-isra-miraj-rasulullah-saw/#axzz32PlQQGwh

Alkatantiji, Fathurrahman. 2013. Transformasi Nilai-Nilai Isra’ dan Mi’raj. 1 hlm. http://alislamiyah.uii.ac.id/2013/02/05/transformasi-nilai-nilai-filosofis-isra-dan-miraj-dalam-kehidupan/

Tafsir.web.id. 2013. Tafsir QS. Al Isra ayat 1—11. 1 hlm. http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html

Misbakhun. 2012. Isra Mi’raj sebagai Mukjizat Akal. Religia Vol. 15 No. 1, April 2012. Hlm 14—26.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir pada bulan tahun 1990. Hobbi membaca, menulis, dan membuat design grafis. Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Indonesia. Istri dari Topan Bayu Kusuma, S.Kom dan sekarang beraktivitas di Asia Pacific Community for Palestine

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Empat Teladan Nabi Ibrahim dan Keluarganya