Home / Pemuda / Essay / Topik Menggelitik, Sejarah Dilirik

Topik Menggelitik, Sejarah Dilirik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 - (lensaindonesia.com)
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 – (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Dua kandidat calon Presiden dan calon Wakil Presiden menjadi sorotan saat ini. Topik paling hangat di berbagai kalangan. Tak jarang, halaman depan koran Ibu Kota menampakkan dua calon tersebut. Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, semakin mengerucut bukan?

Ketika Pemilu Legislatif lalu, masyarakat menggunakan hak pilih. Hasilnya kita telah ketahui bersama, tapi kini masyarakat dihadapkan dengan kenyataan bahwa partai pilihan mereka bergabung dalam koalisi. Partai yang tergabung sudah sepakat pada tokoh-tokoh yang dicalonkan.

Unik, tidak semua partai Islam bergabung dan memunculkan satu tokoh. Melainkan beberapa partai Islam bergabung dengan beberapa partai nasional yang ada. Hasilnya adalah dua kubu; Pro Jokowi-JK dan Pro Prabowo Hatta. Kedua kubu akan mempromosikan Capres dan Cawapres yang diusungnya.

Bagi masyarakat yang belum lupa dengan sejarah, sosok Prabowo bukanlah wajah baru. Namanya disebut-sebut terlibat dalam peristiwa ’98, sementara Jokowi merupakan sosok yang muncul beberapa tahun belakangan ini. Beliau memenangkan Pilgub DKI Jakarta dan saat ini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Bagaimana dengan pemuda? Sebutlah usia mahasiswa tingkat satu dan dua yang masih tergolong dalam pemilih pemula. Sejarah? Ketika SMA memang ada pembahasan tentang peristiwa ’98, tapi tidak memuaskan. Penjelasan guru tidak cukup sampai di situ. Kedua capres boleh dibilang belum dikenal betul oleh anak muda. Hanya bagi Pro Jokowi, mungkin sosoknya sudah dikenal. Ya, keadaan ini membawa banyak pemuda dengan naluri penasarannya mencari tahu sedikit demi sedikit lewat media dan teknologi yang ada.

Mencoba mengingat-ingat, pada tahun 1998 ada kejadian apa? Kerusuhan? Penyebabnya apa? Awalnya sangat sederhana. Pertanyaan itu dilanjut dengan “Pas kerusuhan 98, gue lagi ngapain ya? Waktu itu gue umur empat tahun. Masih TK. Cuma di rumah aja deh.”

Memang itu kenyataannya. Ketika harus bertanya pada orang tua, tidak semua hal terjawab dan masih ada sisa-sisa pertanyaan bahkan menggerutu di kepala.

Singkat cerita, ada sebuah grup komunikasi LINE yang tersedia di ponsel pintar sekumpulan mahasiswa tingkat dua —bisa ramai obrolan politik— tumben. Ibu dan anak yang biasanya membicarakan hal sepele bisa mendapat quality time dengan obrolan menyangkut pemerintahan. Apa ini bisa disebut kemajuan? Kemajuan dalam berpikir?

Sebab biasanya grup LINE itu dibuat mengobrol lelucon konyol —hanya mereka dan Tuhan yang mengerti. Tahun politik ini begitu mudahnya memasukkan opini menggelitik di masyarakat. Amat berpengaruh. Ketika pemilihan calon legislatif, tidak begitu menarik karena yang menjadi sorotan adalah partainya. Kali ini menuju pemilihan presiden, semua mata tertuju pada tokoh dan rekam jejaknya.

Pemuda yang tergabung di grup LINE belum menentukan pasti siapa yang mereka pilih. Oleh karena itu, mereka berdiskusi dengan cara berpikir mereka. Cerdas, sebelum mengutarakan pendapat paling tidak sudah membaca beberapa artikel dan pengamatan tentang beberapa media yang memberikan informasi untuk diserap. Salah seorang di antara mereka mengirimkan link sebuah tulisan tentang Prabowo dan Jokowi. Apapun yang mereka baca sebenarnya membuat mereka semakin penasaran. Tidak membuat mereka puas, ada saja yang ingin terus dibicarakan tentang dua tokoh itu.

Begitu juga di kampus, di sela-sela jam mata kuliah beberapa mahasiswa sempat membicarakan perihal dua tokoh yang menjadi capres. Dengan mengamati dan nantinya memilih dengan hati. Seperti halnya capres dan cawapres yang akhirnya mengerucut, arah berpikir mereka masing-masing pun mengerucut. Ketika topik hangat yang beredar di masyarakat mengharuskan mahasiswa menjadi rajin membaca artikel lalu berdiskusi, berusaha cerdas melihat dari berbagai sisi. Bukan isu yang melenakan tetapi memastikan isu yang beredar itu sebabnya apa? Dari keingintahuan mereka sendirilah jawabannya ditemukan oleh mereka.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shofiyah Qonitat
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Sulung dari 5 bersaudara ini memiliki motivasi yang tinggi dalam menulis. Modal utama menulisnya adalah rasa. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Sedang berusaha membersihkan partikel tidak penting di hidupnya dan ingin sekali membahagiakan orang tua.

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Sejarah Al-Quran: Dari Tradisi Lisan Hingga Kodifikasi