Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menggenggam Kegemilangan Tunas Bangsa

Menggenggam Kegemilangan Tunas Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Nenek pengemis beserta anak dan cucu - detik.com
Nenek pengemis beserta anak dan cucu – detik.com

dakwatuna.com – Matahari nampaknya semakin pongah membentang di langit-langit Buedang. Hari begitu terik. Semakin menjadi-jadi saja rasanya. Benar-benar panas yang menyengat. Aza menyeka peluh yang membasahi wajahnya. Sepanjang perjalanan mengelilingi kampung, tanpa payung, dengan beban yang berat, Aza tak menyerah dengan keadaannya. Dia tetap saja bersemangat menjajakan gorengannya masuk-keluar kampung.

Siang-siang begini biasanya gadis belia seusia Aza bermain di dalam rumah atau tidur siang dalam kamar di atas kasur empuk milik mereka. Sementara Aza di atas bentangan jalan setapak yang juga panas menyengat sibuk bergulat mengadu nasib hidupnya.

Sudah lebih dari setengah jam Aza menjajakan gorengannya. Namun hanya beberapa yang laku. Itupun dibeli oleh ibu-ibu yang merasa perhatian dengannya. Bukan karena mereka benar-benar ingin memakan gorengan. Orang-orang sepertinya lebih memilih berdiam di dalam rumah daripada harus bermain di tengah teriknya mentari.  Makanya, banyak sekali rumah warga yang tertutup. Meski demikian, Aza tetap berteriak dengan suara lengkingnya agar warga tergiur keluar untuk membeli jajanannya.

“Gorengan enak, goreng enak!” pekik Aza.

Dua-tiga kali dia berteriak sambil terus berjalan. Namun tak juga dia mendapati pembeli. Sepertinya lelah mulai menghampirinya. Kaki mungil gadis pemberani ini tak lagi kuat menumpang beban tubuh dan beban barang yang diangkutnya. Perlahan, Aza melambatkan langkah kakinya, demi menghemat energi yang dia miliki.

Pertanyaannya, dari ilustrasi di atas, ada berapa banyak Aza di negeri ini? yang menghabiskan masa-masa bermainnya untuk menghidupi keluarga? Bukan, bukan karena mereka ingin. Tapi karena keadaan memang memaksa mereka untuk berbuat demikian. Ada ratusan, bahkan ribuan Aza mungil yang berserakan di sepanjang hamparan pertiwi ini, menggantungkan masa depan mereka hanya pada hembusan angin, tidak peduli arah angin itu ke barat atau ke timur. Tapi yang jelas, mereka hanya bisa berharap dari belas kasihan arah angin.

Kita tidak perlu  ribut mempertikaikan siapa yang lebih bertanggungjawab akan nasib anak-anak seperti Aza ini. Karena jelas, semakin mempermasalahkan siapa yang lebih bertanggungjawab, maka yang kita dapati hanya kekusutan yang semakin ruwet.

Yang penting kini, adalah melihat sekitar. Jika mereka dekat dengan kehidupan kita, maka rangkullah. Jangan pernah takut. Karena Allah Swt yang Mahakaya tidak pernah memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang sia-sia. Yang urgen sekarang adalah perhatikan kehidupan orang di sebelah kita. Jika mereka seperti itu, maka dekaplah. Sungguh, tidak akan rugi sedikit pun. Karena Allah Swt yang Maha Dermawan akan melapangkan segala mata air rezeki kehidupan untuk kita.

Tunas bangsa yang hanya karena ketidakberdayaan keluarga mereka untuk menjangkaukan impian mereka, tidak seharusnya telantar dan berdebu dimakan masa. Tidak butuh sebanyak apa yang kita ingin berikan. Hadir untuk mereka, berkontribusi bersama demi kelangsungan mereka dan memberi perhatian pada mereka. Sungguh, itu hal yang lebih dari cukup bagi mereka. Jika negara ini belum sanggup merangkul seluruh anak putus sekolah, maka kita yang ada di dekat mereka dapat menjadi perpanjangan negara untuk memberi perhatian kepada mereka.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Jazuli Juwaini, Anggota Komisi I DPR RI.

DPR: Indonesia Memiliki Modal Kuat untuk Selesaikan Konflik Rohingya