Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belenggu Asa

Belenggu Asa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)
Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman

Setidaknya penggalan lirik lagu “Kolam Susu” yang dipopulerkan oleh Koes Ploes tersebut  memberikan gambaran kepada kita bahwa sebenarnya pertiwi ini mempunya hasil bumi yang melimpah dan potensi sumber daya alam yang  memadai. Lagu itu tidak akan tercipta kalau saja Indonesia bukan negeri yang elok tanahnya, bukan tempat yang seimbang iklimnya, dan bukan wilayah yang sempurna berkah alamnya. Tentu saja, lagu itu bukti betapa indahnya rahmat yang Tuhan titipkan untuk zamrud katulistiwa ini.

Berbicara tentang keberlimpahan sumber daya alam Indonesia, berarti berbicara tentang pemenuhan kebutuhan pangan sebagai manifestasi dari sumber daya alam itu. Lihatlah, kita mempunyai banyak penduduk yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Kita mempunyai banyak alternatif jenis makanan pokok, mengingat dari Sabang hingga Merauke negeri ini terdapat lebih kurang dua puluh jenis makanan pokok yang berbeda dan khas di setiap daerah. Kita juga mempunyai sistem dari pemerintahan untuk mengatur jalannya pemenuhan akan pangan penduduk. Namun sayangnya, kenyataan membeberkan hal lain. Alam pertiwi sebagai rahmat Tuhan ini tidak berkolerasi positif dengan keadaan yang dibangun oleh manusia-manusianya.

Singkat kata, ada berkontainer-kontainer masalah yang terpampang di pelupuk mata bangsa ini tentang ketahanan pangannya. Jangankan mencapai level pemenuhan kesejahteraan masyarakat, menyentuh tingkat pengurangan impor komoditi pangan pun kita belum mampu. Bahkan sebagai negara agraris, kita malah menjadi pengimpor bahan pokok seperti beras, kentang, bawang putih, daging, dan susu terbesar di Asia.

Seharusnya, hasil laut dalam teritorial kekuasaan Indonesia itu milik kita. Kita yang berhak memberdayakannya, memanfaatkannya, bukan malah orang seberang pulau sana yang mengolah milik kita. Tapi kenyataannya, sungguh malang nian. Pukat harimau berserakan di sepanjang rentang samudera kita, bom peledak karang bersarang hampir di tiap titik penopang keindahan alam dasar laut milik kita. Pelakunya? Jelas saja mereka yang memikirkan keuntungan sendiri. Pelakunya? Jelas saja orang-orang yang punya banyak main tangan untuk memoles hukum agar memperlancar urusan keserakahan mereka.

Lalu kita? Sejauh ini masih enggan peduli dan lebih sering menutup mata.

Indonesia kaya, itu bukan hanya di negeri impian adanya. Indonesia benar-benar kaya. Karena kayanya, banyak pihak yang ingin menguras habis, mencampuri urusan negeri, membungkam keejahteraan masyarakat.

Mesti ada perubahan. Mesti harus ada pembaharuan. Lantas, siapa yang bisa mengubahnya? Tentu saja kita. Lewat apa? Lewat sistem yang kita miliki. Perbaiki pemerintahan, benahi tatanan masyarakat, bukan berkoar-koar saja. Lakukan dengan tindakan dan perjuangkan dari detik ini juga. Tidak ada kata menunda. Berani tidak peduli, maka kesejahteraan hidup masyarakat negeri ini cepat atau lambat akan terjajah dan hancur bersama puing-puing kekecewaan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: lensaindonesia.com)

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba