Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bersyukur Atas Nikmat-Nya

Bersyukur Atas Nikmat-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kadang mulut ini terlupakan untuk mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Satu kata sebagai ungkapan syukur kepada-Nya. Hati ini pun terkadang lalai untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan. Nikmat yang terlalu banyak untuk disebutkan apalagi dihitung satu persatu. Tak ada yang mampu untuk menghitungnya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl : 18).

Begitu banyak nikmat-Nya sehingga tak mampu manusia untuk menghitungnya. Nikmat sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali. Jutaan, milyaran, triliunan  dan tak terhingga nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia. Tak sadarkah manusia dengan semua itu?

Jikalau dengan uang jutaan dan milyaran, manusia sadar. Mengapa dengan nikmat yang tak terhingga tak sanggup dihitung manusia tak menyadarinya? Apakah karena nikmat itu tak berbentuk?

Mata ini mampu melihat. Telinga ini kuasa mendengar. Hidung ini masih bisa menghembuskan nafas. Tangan dan kaki ini dapat bergerak sesuai perintah pemiliknya. Mulut ini tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata. Apakah itu bukan nikmat?

Sahabat, terdapat banyak nikmat yang bisa kita lihat dan rasakan secara jelas. Namun, masih tak mampukah hati ini mensyukurinya? Mulut bak terkunci sangat rapat sehingga tak mampu mengeluarkan satu kata pujian untuk Sang Pencipta. Tubuh ini pun terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga melupakan urusan akhirat yang jelas-jelas merupakan salah satu cara mensyukuri nikmat diberikannya tubuh yang sehat dan kuat untuk digunakan beribadah mendirikan shalat. Masih diamkah kita dengan semua ini?

Hati telah terkotori dengan berbagai sifat nan tak terpuji akibat tak mampu mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya. Hati sudah terpaut dengan dunia sehingga melupakan akhirat. Benarkah itu suara hati?

Bersyukur tidak hanya cukup dengan lisan. Tetapi, juga diikuti dengan perbuatan dan hati. Rasa syukur dalam bentuk perbuatan yakni dengan melakukan berbagai kebaikan-kebaikan dan amal ibadah yang akan berdampak  pada keridhaan-Nya.

Syukurnya hati yakni dengan membersihkan hati dari segala macam sifat-sifat kotor yang menempel di hati sehingga membuat manusia melupakan Sang Pemilik Hati.

Jika lisan tak kuasa bersyukur. Perbuatan tak bisa melakukannya. Hati pun tak sanggup dibersihkan. Apakah yang bisa kita persembahkan untuk-Nya? Bukankah manusia hidup di dunia ini hanya sesaat saja?

Selayaknya ucapan syukur hanya diberikan kepada Sang Pemberi Nikmat nan tak terhingga. Wajarlah jika kita harus mengucapkan ‘Alhamdulillah’ segala puji bagi Allah, karena memang Dia berhak dan pantas dipuji oleh sekalian umat.

Atas rahmat dan kasih sayang-Nya, manusia diberikan nikmat yang berlimpah ruah. Tak usah jauh-jauh memikirkan nikmat yang ada. Di dalam diri manusia sendiri sudah terdapat nikmat yang tak terbilang jumlahnya. Percayakah kita akan itu semua?

Ada baiknya kita renungkan sejenak. Apakah saja nikmat yang ada di dalam diri manusia? Nikmat yang dikatakan tak berbilang jumlahnya terdapat di dalam diri manusia.

Mata, hidung, telinga, kaki, tangan, jemari, kepala dan semua anggota tubuh lainnya dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bukankah itu juga nikmat yang tak terhingga?

Mari kita telusuri yang ada didalam tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia terdiri dari berbagai jenis sistem, di antaranya ketika bernafas menggunakan sistem pernafasan, ketika makan menggunakan sistem pencernaan, ketika berkembangbiak menggunakan sistem reproduksi, saat mengerakkan tubuh dengan sistem otot, mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit dengan sistem imun, mengeluarkan sisa-sisa makanan dan minuman yang tak terbentuk menjadi energi dengan sistem urin dan berbagai sistem lainnya.

Siapakah yang mengatur dan menjaga keseimbangan sistem itu semua? Apakah manusia? Ataukah ada Zat Yang Maha Mengatur? Jikalau kita merasakan bahwa itu semua diatur oleh-Nya. Kenapa sampai sekarang kita tak mensyukurinya? Mampukah manusia mengatur dan menjaga semua sistem yang ada di dalam tubuh?

Sistem yang satu dengan yang lainnya saling mendukung dan berkaitan sehingga mempermudah manusia dalam melakukan aktivitas. Tak bisa dibayangkan jika sistem pernafasan terganggu? Maka, sistem yang lain pun akan terganggu. Akibat sistem pernafasan yang terganggu, manusia tak mampu memasukkan makanan ke dalam tubuh sehingga sistem pencernaan tak bisa bekerja, saat itu juga sistem otot tak bisa menggerakkan tubuh disebabkan tak ada asupan energi, sisa-sisa makanan dan minuman pun tak ada yang terkeluarkan sehingga sistem urin ‘libur’. Pada akhirnya, tubuh tak bisa dipertahankan dari berbagai penyakit yang hilir mudik masuk ke dalam tubuh manusia, sistem imun tak berfungsi.

Subhanallah, di dalam tubuh manusia dengan jelas Dia tunjukkan ayat-ayat kebesaran-Nya. Tapi, hanya segelintir manusia yang menyadari dan mengetahui itu semua, sehingga masih banyak yang mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya yang ada di dalam tubuh manusia.

Bersyukurlah, kita masih hidup dan diberikan nikmat yang terbesar di antara nikmat-nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bersyukurlah, jika kita masih memiliki iman dan islam. Dua nikmat inilah yang tak terbandingkan besarnya diantara nikmat-nikmat yang lainnya.

Atas nikmat iman dan islam, kita gunakan semua nikmat yang ada hanya untuk kebaikan semata dan  mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Nikmat. Berbagai amal ibadah dan kebaikan dilakukan demi mensyukuri semua yang telah dicurahkan-Nya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini