Home / Keluarga / Kesehatan / Halal Itu Milik Semua Orang

Halal Itu Milik Semua Orang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pameran Produk Halal (ilustrasi) - Foto: republika.co.id
Pameran Produk Halal (ilustrasi) – Foto: republika.co.id

dakwatuna.com – Halal adalah istilah bahasa Arab dalam agama Islam yang berarti diizinkan atau boleh. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi dalam Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas, istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam (aktivitas, tingkah laku, cara berpakaian, dll) (anonymous, 2013).

Ketika kita berbicara tentang makanan dan minuman, tentunya akan muncul pertanyaan, apakah makanan/minuman ini halal atau tidak? Dan belum tentu halal itu baik (thayyib) untuk tubuh. Sebagai contoh, kopi itu halal untuk dikonsumsi, namun apabila dikonsumsi secara berlebihan tentu tidak baik. Oleh karenanya, halalan thoyyiban agaknya menjadi syarat mutlak dalam mengonsumsi sesuatu. Lalu, mengapa saya menuliskan judul Halal itu Milik Semua Orang? Karena pada dasarnya, halal memang milik semua orang. Tidak hanya milik umat muslim saja, tetapi milik semua. Dalam surat al-Baqarah ayat 168, Allah berfirman yang artinya :

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Pada kata “Hai sekalian manusia” yang berarti telah dijelaskan bahwa tidak hanya umat muslim saja yang wajib menjaga yang halal dan thayyib (baik), tetapi seluruh umat manusia wajib memakan apapun yang halal dan thayyib. Allah juga memerintahkan kita untuk menjauhi langkah-langkah setan. Hal ini bisa dimaksudkan apabila kita selalu menjaga segala sesuatunya dari yang haram, maka kita mampu membentengi diri dari langkah-langkah setan.

Halal itu milik semua orang.  Pengertian “makanlah apa yang halal dan baik yang ada di di bumi” di sini tidak hanya berarti  memakan makanan semata melainkan mengonsumsi.  Semua barang yang ada di muka bumi tidak hanya barang yang bisa dimakan saja. Namun banyak barang yang bisa dinikmati. Dari semua itu, maknanya adalah mengonsumsi. Seperti menaiki kendaraan, memakai pakaian dan perhiasan maka juga harus bersifat halal dan baik karena semua itu adalah barang yang sifatnya sebagai barang konsumsi manusia.

Setelah perintah kepada manusia mengenai mengonsumsi yang halal dan thayyib, lalu Allah pun menjelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 172 yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa  Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memakan makanan yang baik atas rezeki yang Allah berikan agar mereka senantiasa dianggap bersyukur atas rezeki Allah yang telah diberikan. Jika benar mereka itu hamba-hamba Allah yang beriman. Mengkonsumsi perkara halal adalah sarana terkabulnya doa dan diterimanya ibadah sebagaimana mengkonsumsi perkara haram menghalangi doa dan tertolaknya amal ibadah.

Halal, thoyyib, wal mubarokah. Dimana ketiganya juga harus selalu kita pertimbangkan. Misal dalam pencarian nafkah. Dimana sudah sepatutnya mencari dengan cara dan di tempat yang halal dan thayyib sehingga mampu menghadirkan keberkahan dalam kehidupan kita. Ketika kita memberikan harta yang tidak halal bagi keluarga, secara langsung maupun tak langsung pasti akan berdampak tidak baik bagi kehidupan keluarga kita.

Susah mencari yang halal? Karena halal juga milik semua orang, dan semua itu adalah pilihan. Bagaimana mau menjaga dari yang haram yang nantinya bisa masuk ke dalam tubuh diri dan keluarga kita? Minimal ketika kita ditanya di Hari Pembalasan nanti, kita sudah mampu menjawab bahwa kita sudah berusaha menjaga segala sesuatunya dari yang haram. Pastikan kita bergerak menjadi pejuang halal. Minimal bagi diri kita sendiri. Karena apapun yang kita makan merupakan cerminan diri kita.

Wallahu A’lam Bishshowwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonita Rizqi Darmawana
Mahasiswi S1 Universitas Brawijaya jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. Jarmusda Malang Raya. Love travelling so much. Perantau dari Jakarta. SD-SMP-SMA Jakarta, lulus tahun 2010.
  • Syahru Ramadhani

    Mengutip Hadits Riwayat Mutafaq’alaih. “Kehati-hatian kita dan keseriusan kita untuk memilih yg lebih halal itu adalah bagian dari jihad kita”. . nice post semoga bermanfaat.. berjuang terus jangan pernah berhenti.. :)

Lihat Juga

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik