Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Titip Rindu untuk Penduduk Tanah Anbiya

Titip Rindu untuk Penduduk Tanah Anbiya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (LIFE)
Ilustrasi. (LIFE)

dakwatuna.com – Malam adalah selimut, kadang ia hangat namun bisa pula menjadi dingin…

Sudikah merenung saudara seiman di tanah para anbiya’ berselimut malam..

Sudikah mengingat saudara tercinta di tanah konflik, Suriah kala Assad merobek masa depan rakyat sendiri…

Satu hari kala kami tengah asyik liqaat pekanan, raut wajah murabbi sedikit mengernyit dan beliau mengulang satu frase untuk menasihati kami, bahwa mukhayam takkan tergantikan. Bagi kader dakwah, mukhayyam adalah medan penggemblengan, menguji soliditas, menghentak stamina. Malam ini, aku renungkan lagi bahwa ada satu lagi yang tidak tergantikan, namanya ukhuwah. Ketika mengulang sebuah firman yang berbunyi, “Innamal Mukminuna Ikhwah”, yang teringat adalah senang bahwa kita punya saudara namun sesaat kemudian juga bersedih mengingat masih banyak saudara yang masih dirundung uji.

Aku masih melihat senyum di pipi mereka. Namun, rasa lapar pasti menghantui, rasa harap pasti terus menggunung. Sudikah kita sejenak membawa hati ke Palestina, Suriah, Irak, Afghanistan, Xinjiang, Rohingya? Mereka saudara. Saudara seiman yang senantiasa harus diingat, jangan dilupa. Kini, kita mengingat lagi masa yang menghentak sejarah, sebuah mukjizat dan kedudukan tertinggi di antara makhluk. Kala Isra’ memperjalankan Rasulullah Saw ke Baitul Maqdis, dilanjutkan dengan Mi’raj dari langit demi langit dilewati hingga beliau menghadap Rabb semesta alam.

Saudaraku, ingatkah kita di mana Mi’raj bermula? Di tanah para anbiya’, di masjid suci nan sakral, Masjidil Aqsha. Kini bagaimana kabarnya? Kadang terenyuh mendengar banyak umat tak boleh shalat di sana, tarawih yang hanya diperbolehkan untuk orang lanjut usia, para rabi’ yang bebas menepok-nepok jidatnya, apakah ini yang kita inginkan?

Kadang, hati sakit mengingat. Tapi bukanlah muslim kalau berputus asa. Momen Isra’ Mi’raj sepatutnya menjadi ajang penyegar sejarah, semangat juang Rasulullah pasca ‘amul huzni (tahun kesedihan), awal mula penugasan shalat hingga membangkitkan rasa persaudaraan. Isra’ Mi’raj bagi kita juga harus terus menjadi tempat memampukan diri menghamba, meyakini dan mengamali. Bukankah kala Isra’ Mi’raj diperdengarkan untuk Abu Jahal dan pembesar kafir membuat mereka malah bertambah sesat? Sebaliknya, bukankah ketika Isra’ Mi’raj diceritakan pada Abu bakar, membuat imannya tambah yakin, membenarkan dan akhirnya ia dijuluki as-Shiddiq? Bagi kita, umat yang lemah ini, carilah tempat meraup semangat Isra’ Mi’raj, carilah celah untuk menghamba, dekat dan terus mendekat.

Untuk mereka yang beruntung dilahirkan di tanah kelahiran para anbiya’, saat ini hanya doa dan salam rindu yang bisa kukirimkan. Rabb, menangkan agama-Mu. Tegakkan kebenaran dan hancurkanlah kezhaliman para pembenci.

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina