Home / Berita / Opini / Rasanya, Muhammadiyah ini Belum Indah

Rasanya, Muhammadiyah ini Belum Indah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Muhammadiyah - (rimanews.com)
Muhammadiyah – (rimanews.com)

dakwatuna.com – Keluhan ini tidak datang dari simpatisan biasa atau orang luar Muhammadiyah, tetapi dari orang PDM yang bahkan sudah senior. “Muhammadiyah ini sepertinya sudah benar, sudah baik, tetapi rasanya belum indah. Kalau hanya kajian-kajian seperti ini, materinya sudah kita ketahui semua. Agar Muhammadiyah ini terasa indah, bagaimana kalau kita mengadakan zikir, istigotsah atau shalawatan bersama-sama?”

Seringkali orang luar memandang Muhammadiyah terlalu kering spiritualitasnya, keberagamaanya dirasa hambar.

Seperti yang disampaikan Ketua PWM di sebuah pengajian, “Masing-masing punya kesenangan sendiri-sendiri. Ada yang senangnya zikir, membaca shalawat, betah seharian. Ada yang senangnya mengamalkan sunah-sunah, rajin ibadahnya. Kalau muhammadiyah, disuruh berlama-lama duduk istighotsah, ya tidak betah. Orang muhammadiyah kalau rapat semalaman malah betah, zikir yang dibaca, proposal, proposal, proposal.”

Sampai-sampai ada pengurus NU yang heran dengan Muhammadiyah, “Orang Muhammadiyah itu zikirnya apa, kok ampuh sekali? Jumlahnya hanya segelintir, tetapi punya rumah sakit sebesar itu, universitas, sekolah, pantai asuhan. NU yang sebesar ini masih kalah.”

Begitulah, di antara keragaman umat ini, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dalam suatu bidang, kekurangan dalam bidang lain. Masing-masing memiliki kesenangan berbeda-beda. “NU yang sebesar ini kalau dikelola seperti Muhammadiyah, luar biasa.”

“Orang NU itu kalau atap madrasahnya ambruk, diminta sumbangan sepuluh ribu pasti mengeluh. Tetapi kalau diajak ziarah Wali Sepuluh (Wali Songo plus Gus Dur), kambingnya langsung dijual, berangkat.”

Ketika Muhammadiyah tidak betah berlama-lama zikir dalam majelis-majelisnya, justru memiliki kesempatan untuk lebih banyak mencurahkan perhatian mengurus pendidikan, kegiatan sosial, fakir miskin dan anak yatim.

Memenuhi keperluan seseorang lebih utama daripada iktikaf di Masjid Nabi selama satu bulan. Mendatangi majelis ilmu lebih utama daripada shalat sunah seribu rakaat. Betapa majelis-majelis ilmu jauh lebih utama daripada mejelis zikir. Sebenarnya semua aktifitas sosial itu tak kalah indah dibanding ritual-ritual yang glamor.

Terbatasnya sumber daya yang dimiliki, lebih terarah pemanfaatannya, tidak terjebak pada ritual yang hura-hura. Sebuah keterbatasan menyiasati tuntutan menghidupi amal usaha.

Berawal dari semangat KH Ahmad Dahlan yang sederhana dalam menjalankan agama, tetapi memiliki kepedulian sosial tinggi. Bertahun-tahun menjelaskan surat al-Ma’un tidak selesai-selesai.

Memang, agar keindahan ini lebih sempurna, seharusnya Muhammadiyah tidak hanya mau mendatangi Tuhan dalam keramaian, dalam aktifitas sosial semata. Seharusnya, Muhammadiyah juga mau mendatangi Tuhan dalam kesendirian, dalam keheningan malam, saat tiba giliran bermunajat bermesraan dengan Tuhan lebih utama dari amal sosial. Menjadi seorang muslim yang utuh.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.
  • ilda hardisa

    hablumminallah itu hanya dia dan Allah yg tahu, apakah itu d sepertiga malamnya , zikrullah, d puasa sunat, shalawatnya dan ibdah2 sunah lainya, kalimat terakhir yg anda tulis, seolah2 mereka tak pernah mendekati rabbi dalam kesendirian!

Lihat Juga

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si beserta rombongan PP Muhammadiyah Selasa, 18 Oktiber 2016 lalu menyambangi Negeri Ginseng, Korea Selatan. (Phisca)

Hadir di Korea Selatan, Haedar Nashir Resmikan PCIM ke-18