Home / Berita / Internasional / Asia / Libanon Tak Miliki Presiden

Libanon Tak Miliki Presiden

Ruangan sidang parlemen Libanon (Noonpost)
Ruangan sidang parlemen Libanon (Noonpost)

dakwatuna.com – Beirut. Tanggal 25 Mei adalah hari peringatan kemerdekaan Libanon Selatan. 14 tahun yang lalu, wilayah ini merdeka dari penjajahan Israel. Pada tahun-tahun lalu, hari ini dirayakan dengan penuh kebahagian. Tapi tidak untuk tahun ini, terutama kalangan Kristen. Karena saat ini Libanon resmi tidak memiliki seorang presiden.

Walaupun parlemen gagal memilih presiden yang baru, Presiden Michel Suleiman, tetap berpamitan dan mengosongkan istana kepresidenan, untuk digantikan seorang presiden yang hingga kini belum diketahui siapa dia.

Dalam lima kali sidang pemilihan, parlemen selalu gagal memilih presiden, karena tidak terpenuhinya kuorum menyusul absennya para anggota legislatif dari Free Patriotic Movement (FPM) dan Hizbullah. Absennya mereka adalah untuk menghalangi terpilihnya Samir Geagea dari Lebanese Forces Party (LFP), karena saat ini Geagea sudah mengantungi dukungan 65% anggota legislatif. Sedangkan Hizbullah mencalonkan Michel Aoun.

Di Libanon terdapat persentase etnis yang berimbang. Hal ini membuat Libanon menerapkan pembagian kuota untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu. Pemilihan legislatif diadakan 4 tahun sekali, mereka memilih presiden yang akan berkuasa selama 6 tahun dan hanya untuk satu masa jabatan saja, lalu presiden memilih ketua dewan kabinet.

Adapun pembagian kekuasaannya adalah jabatan presiden diberikan kepada Kristen; ketua parlemen untuk Muslim Syiah; dan ketua dewan kabinet untuk Muslim Sunni. (msa/dakwatuna/noonpost)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Pauline Hanson dalam pidatonya yang bernada Islamofobia di Parlemen Australia, Rabu (14/9/2016). (abc.net.au)

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim