Home / Pemuda / Essay / Akhi, Bantu Kami Menjaga Izzah Ini

Akhi, Bantu Kami Menjaga Izzah Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dering hand phone di atas meja kamar rasanya tidak pernah lama untuk diam. Baru saja diletakkan di atas meja, hand phone kembali berdering. Spontan tangan ini dengan sigap mengambil kembali benda tersebut.

Assalamu’alaikum, Ukhti… Apa kabar?” Bunyi pesan pertama dari seberang.

Lain waktu, masih dengan nomor yang sama.

Assalamu’alaikum, sudah makan Ukh?” Atau pesan lain, “Tahajjud, Yuk…” dan pesan –pesan lainnya yang tidak begitu penting rasanya.

Ah, mungkin itu hanya sepenggal pesan yang disampaikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bunyi pesan tersebut mungkin terkesan biasa saja. Namun siapa sangka dari pesan yang biasa saja itu menjadi lebih dari biasa ketika disampaikan oleh orang yang sama berkali-kali, atau mungkin hampir setiap hari. Dan hal ini bisa terjadi saat keharusan berkomunikasi yang awalnya hanya sebatas mengingatkan berubah menjadi menginginkan. Ya, yang awalnya mengingatkan untuk datang agenda ini, atau mengingatkan  acara itu. Berubah menjadi kebiasaan yang menginginkan untuk terus berkomunikasi.

Wahai akhi, sekali lagi. Mungkin itu hanya sepenggal kisah yang sering tidak kita sadari terjadi pada diri kita. Sebagian orang merasa komunikasi seperti itu adalah hal yang biasa saja. Tapi tidak seharusnya bagi kita yang mengetahui apa resiko dari intensitas yang kita lakukan. Bukankah hal yang besar itu terjadi karena hal kecil? Bukankah sebuah rasa bisa saja muncul saat seringnya komunikasi yang kita lakukan? Awalnya hanya bertanya kabar. Kemudian saling komentar di media sosial. Bisa jadi, berujung dengan pengharapan.

Maaf, bukan karena aku berada pada posisi seorang perempuan. Tapi, bisa jadi ini benar adanya. Sebagian laki-laki lebih mengedapankan logika dibanding perasaan. Sedangkan sebagian perempuan lebih mengedapankan perasaan dibanding logika. Ada hal yang tiba-tiba muncul ketika seorang perempuan merasa mendapatkan perhatian dari seseorang, apalagi laki-laki. Padahal, menurut si laki-laki, itu bukanlah bentuk perhatian yang dimaksud si perempuan. Aku tidak mengatakan ini sepenuhnya salah laki-laki.

Komunikasi yang salah tidak akan terjadi jika tidak saling bersambut. Tidak akan terjadi jika tidak ada komunikasi dua arah. Hanya saja, perempuan memiliki hati yang sangat mudah tersentuh. Dan sethan senantiasa ada membantu menjerumuskan. Ketika rasa suka  muncul karena seringnya terjadi komunikasi antar keduanya. Rasa suka apalagi cinta muncul karena fitrah manusia. Tapi bukankah menjadi suatu hal yang salah ketika rasa yang katanya bernama cinta muncul pada dua orang yang belum berhak atasnya. Bukankah kita ingin menjemput sakinah itu dengan jalan yang berkah?

Nah, karena perempuan memiliki rasa yang lebih sensitif. Sering salah menafsirkan sesuatu sehingga menganggap itu bentuk perhatian. Kuharap kita bisa saling menjaga agar tidak ada yang merasa terlalu diperhatikan.

Wahai akhi, bantu kami untuk menjaga hati. Jangan sekali-kali kalian berikan perhatian yang mengakibatkan munculnya penyakit hati. Bicaralah sekedarnya saja, dan perlakukan kami sewajarnya saja. Tak mengapa jika kalian acuh dan tak menghiraukan jika sewaktu waktu kita membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting. Jangan kau sambut dengan suka hati apalagi membumbui sehingga ringan sekali lisan ini berbagi. Cukuplah Allah yang tau jika seandainya memang kita sedang memberikan perhatian kepada orang yang kita kagumi. Jadikan kekaguman itu sebagai doa, bukan sesuatu yang merusak berkahnya jalan kita menuju ikatan yang sah. Bantu kami, untuk menjaga diri ini. Agar ketika saatnya tiba, tidak ada yang merasa disakiti karena orang yang kita harapkan bukanlah untuk kita.

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan