Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beristighfarlah (Bagian ke-1)

Beristighfarlah (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tangis karena Takut Kepada Allah
Tangis karena Takut Kepada Allah

dakwatuna.com – Beristighfarlah. Karena begitu banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Yang disengaja maupun tidak. Kesalahan yang terjadi pada perilaku, gerak laku, ibadah, ucapan dan iktikad kita. Mungkin karena kebodohan. Bisa jadi karena ketidaktahuan. Sering pula akibat kekeliruan.

Kesalahan bisa jadi juga ada pada persepsi kita. Kita memandang sesuatu secara keliru; yang baik dipandang buruk, yang buruk malah dianggap baik. Hal ini bisa terjadi karena minimnya ilmu karena malas belajar dan mencari ilmu. Bisa juga akibat perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam dan kita menjadi korbannya. Akibatnya, kita menilai secara salah terhadap suatu persoalan. Apakah yang terkait hukum, pokok-pokok agama, atau hal-hal yang menyangkut keumatan. Lantas, kita mengemukakan di depan khalayak, opini kita yang jelas-jelas bertentangan dengan kebenaran. Jadinya kita sok tahu. Lalu di-amin-kan oleh mereka yang sama-sama tidak tahu. Mereka yang bodoh. Atau memang busuk hatinya. Padahal, Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Q.s. Al-Isra: 36).

Beristighfarlah. Karena begitu banyak kekurangan. Pada amal dan ibadah-ibadah kita yang jauh dari kelayakan. Apatah lagi kesempurnaan. Sementara kita berharap pahala terbaik di sisi-Nya. Mudah-mudahan dengan istighfar, Allah Tabaraka wa Ta’ala menutupi kekurangan-kekurangan itu. Memaklumi ketidaklayakan itu. Dan melengkapi ketidaksempurnaan itu. Hingga Ia berkenan memberikan balasan pahala yang kita harapkan.

Beristighfarlah. Karena banyaknya dosa yang telah bertumpuk dan bertimbun akibat perbuatan buruk kita. Meski kita telah berusaha menghindar. Tetapi, tetap saja hawa nafsu dan ajakan setan begitu dahsyatnya menjerumuskan kita. Mudah-mudahan Allah Ta’ala berkenan mengampuni kita dan membersihkan kita dari catatan keburukan itu.

Beristighfarlah. Karena dengan begitu berarti kita menyadari kemaksiatan-kemaksiatan yang telah kita lakukan. Saat kita terlalu percaya diri, merasa aman dari pengawasan Allah. Hingga begitu beraninya bermaksiat kepada-Nya. Padahal Dia Tuhan Yang Magaagung. Tuhan Yang Mahaperkasa. Kita lengah dengan keniscayaan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Dia akan membalasi perbuatan kita. Dan kemaksiatan kita, tak mungkin lolos dari catatan-Nya.

Beristighfarlah. Karena dengan ini berarti kita menyadari keburukan, kerendahan, dan kehinaan diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Tuhan Yang Mahatinggi. Mahasuci. Dan Mahaperkasa. Dengan kalimat ini, kita sungguh-sungguh menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah menganiaya diri. Merugikan diri sendiri. Maka bersikaplah seperti Nabi Yunus Alaihis Salam ketika memohon ampun kepada-Nya dengan penuh penyesalan, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Q.s. Al-Anbiya: 87).

Beristighfarlah. Karena dengan cara itu berarti kita menyadari kelalaian dalam menjaga diri, terperosok dalam keburukan yang kita ketahui, terperangkap dalam jerat setan dan teman-temannya. Hingga fitnah menerjang kita. Dan tuduhan orang pun terarah ke muka kita. Akibat kita sendiri yang tidak bisa menjaga diri. Mudah-mudahan dengan istighfar ini, Allah senantiasa mengingatkan dan menjaga kita agar tidak tergelincir pada kelalaian diri.

Beristighfarlah untuk kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Sedikit atau banyak. Karena kesalahan tetaplah kesalahan. Yang akan dicatat Allah sebagai noda hitam dalam catatan amal dan akan ditampakkan di Yaumul Hisab nanti. Di hadapan mata setiap manusia. Di saat tak ada dinding atau tirai tampat menyembunyikan aib. Mudah-mudahan dengan kalimat ini, kita dilindungi Allah dari akibat buruk kesalahan-kesalahan kita. Menutupi aib-aib kita sehingga hanya diri sendiri dan Allah yang melihatnya. Meski Ia Mahakuasa untuk membukanya. Lalu dimaafkan-Nya. Karena Ia memang Maha Pemaaf.

Beristighfarlah untuk kewajiban-kewajiban yang telah kita abaikan. Sekali karena uzur. Kali kedua karena lupa. Berikutnya bahkan sengaja kita membuat uzur. Padahal itu sebenarnya bukan uzur-uzur. Cuma karena malas dan enggan. Hingga jadi keterusan. Alasan tak berkesudahan. Hingga hal kecil pun seolah uzur syar’i yang kita anggap besar. Hingga kita pun tak bisa mengelak. Terkungkung ketidakberdayaan yang kita buat sendiri. Terlewat sudah dari kewajiban yang semestinya kita tunaikan. Seperti yang terjadi dengan orang-orang munafik.

Saat orang-orang beriman bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjibaku menggali parit untuk menghadapi Perang Ahzab, mereka berpura-pura lemas dan kelelahan. Lalu menyelinap pulang. Dengan alasan yang dikarang-karang. Karena mereka sesungguhnya ogah berperang. “Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)’. Padahal rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (Q.s. Al-Ahzab: 13).

Jangankan berperang yang pengorbanan dan resikonya besar, dengan kewajiban shalat saja orang-orang munafik itu malasnya gak ketulungan. Allah Tabaraka wa Ta’ala menyifati mereka dengan firman-Nya, “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.s. An-Nisa: 142).

Seperti itulah tipologi orang munafik. Selalu banyak alasan. Selalu merasa malas terhadap kebaikan. Dan cukup puas dengan ketidakikutsertaannya dalam perjuangan. Mudah-mudahan dengan istighfar,  Allah mengampuni sikap lemah kita. Dan menjauhkan kita dari bibit-bibit kemunafikan. Lalu diberi-Nya kita kekuatan. Untuk bisa melawan antrian panjang alasan yang sudah berdesakan untuk kembali menghambat menunaikan kewajiban.

Beristighfarlah. Untuk keutamaan yang kita sepelekan. Tanpa tertarik untuk meraihnya demi kebaikan. Demi akhirat kita. Bahkan bisa jadi balasan kebaikan itu telah disiapkan Allah sebagai pendahuluannya di dunia ini. Karena Allah Mahaluas karunia-Nya.

Banyak keutamaan yang sesungguhnya telah Allah tawarkan kepada kita. Pada dinginnya air wudhu dini hari. Pada gelapnya jalan menuju shalat jamaah. Pada jauhnya jarak dan banyaknya langkah yang kita ayun menuju masjid. Pada ucapan salam yang kita tebarkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang bisa membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”(HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah Ra.).

Begitu banyak keutamaan pada amalan-amalan yang telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ajarkan. Pada shaf pertama shalat jamaah. Pada jeda waktu yang tersedia antara azan dan iqamah untuk bermunajat. Pada ucapan menjawab azan. Pada shalat dua rakaat qabla Shubuh. Pada air wudhu sebelum tidur. Pada rakaat ganjil shalat Witir sebelum kita beranjak ke pembaringan. Pada wirid-wirid yang kita lantunkan pagi dan petang.

Sungguh, banyak peluang kebaikan dan keutamaan yang sebenarnya bisa kita raih. Tapi kita menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Bukan hal yang terlalu hebat dan bergengsi. Sehingga kita menganggapnya bukan jalan menuju kemuliaan. Bukan jalan menuju surga-Nya. Penyepelean kita terhadap keutamaan-keutamaan itu, sesungguhnya adalah kelemahan semangat dan kebodohan. Maka, dengan istighfar, semoga Allah menguatkan semangat dan gairah untuk meraih berbagai keutamaan.

Beristighfarlah. Untuk kebaikan yang kita lewatkan. Pada sapaan ramah dan muka cerah kepada sesama Mukmin. Pada bantuan kecil yang seharusnya bisa kita berikan kepada orang lain. Kepada penyeberang jalan yang ketakutan menunggu sepinya kendaraan. Kepada nenek tua yang sarat bawaan. Kepada tetangga yang kehabisan garam untuk masak siang. Kepada teman yang kesulitan menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Pada sekian banyak peluang yang semestinya dapat menambah pahala dan kebaikan.

“Bersemangatlah selalu untuk mengerjakan apa yang berguna bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi orang yang lemah.” (HR. Imam Muslim). Semoga sikap acuh kita terhadap peluang-peluang kebaikan itu diampuni Allah dengan istighfar yang kita lantunkan. Semoga Allah tidak segera menutup peluang itu di waktu sekarang. Hingga kita bisa memperbaiki dan segera memanfaatkannya untuk melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan.

 

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Salah Paham yang Berlanjut