Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kesan Pertama

Kesan Pertama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)
Ilustrasi. (Foto: konihospitality.com)

dakwatuna.com – Kesan pertama begitu dalam. Senyumnya terkembang khas orang-orang lembut. Lama dan penuh pesona. Kesannya sederhana. Tetapi aroma halus, lembut dan warna santunnya sudah tercium dari caranya melihat. Mengesankan lagi, dari caranya menatap. Dan hebat lagi dari caranya memandang. Ini namanya cahaya di balik mata. Kamu melihatnya seketika itu kamu jadi tentram hatimu. Semacam bait-bait yang tersusun dan kamu membacanya berurutan. Bahasanya jernih, mengalir. Indah benar senyumnya. Bening benar matanya. Seketika itu, kamu benar-benar tersihir.

Kesan pertama sungguh mendalam. Senyumnya adalah bagian dari kearifan. Khas dan penuh pesona. Termasuk di antaranya caranya menghadirkan senyumnya sendiri kepada dirimu. Itulah bagian dari cara kamu melihat sisi lain dari tabiatnya. Sekali lagi, senyumnya sungguh memesona. Dengarkan kata orang-orang yang terpesona. Dengarkan kata orang-orang yang terkesan. Dengarkan orang-orang yang kagum. Dengarkan kata orang-orang ini. seperti kata Ummu Ma`bad tentang Sang Nabi, bisa jadi itulah caranya menyampaikan keterpesonaannya. Katanya, “Aku melihat seorang laki-laki dengan wajah berseri dan bercahaya. Jika ia diam, maka tampaklah kharismanya. Jika ia sedang berbicara, ia tampak begitu agung dan santun. Ia tampak paling muda dan rupawan bila dipandang dari kejauhan. juga paling tampan dan memesona diantara rombongannya. Jika ia sedang tersenyum, paras mukanya bagaikan purnama.”

Kesan pertama begitu dalam. Membekas hingga kini, setelah sekian melewati perjalanan panjang. Setelah usai kesan pertama dari pertemuan pertama. Masih jelas semua potongan-potongan tentangnya. Tentang senyum lembut. Wajah bening. Tentang cahaya di balik mata juga. Dan pesona cara ia memperlakukan dirinya sendiri dan, kamu.

Kesan pertama yang membumi. Sesudah senyum yang lembut dan tenang. Setelah itu adalah kalam. Kesudahan dari semuanya setelah senyum adalah salam sapa. Sesudah senyum maka pesona itu hadir lagi. Lembut katanya. Caranya berbicara yang santun. Takzhim dengan penuh kerendahan hati. dan kisahnya yang mengalir pelan. Tidak meninggikan suara. Lembut katanya. Tiada angkuh.

Kesan pertama begitu dalam. Bahkan setelah pertemuan pertama usai. Kesudahan setelah itu tak ada senyum, memang. Tetapi bayang-bayang dari pertemuan itu telah menvisualisasikan sebagian besar pertemuan yang baru saja usai. Merekontruksi ulang secara penuh hingga memberi ingatan kuat dalam dirimu sendiri. Oh, beginikah cara sebuah kesan pertama membekas begitu kuat dalam jiwa? Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi dirimu sendiri merasakan ada dorongan kuat yang memengaruhi situasi jiwamu. Hanya kamu saja yang tahu. Hanya kamu. Tetapi justru itu kamu juga tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi pada dirimu.

Kesan pertama begitu dalam. Mungkin, itu sebabnya dulu ada seorang pemuda Madinah jatuh sakit gara-gara terpesona dengan gadis yang hanya ditemui sepintas lalu di depan majlis ilmu. Atau, mungkin dengan begitu kamu mengetahui makna dari puisi-puisi para pujangga yang menggambarkan kesan pertamanya. Terkadang memang berlebihan. Tapi itulah fakta yang mereka rasakan. Sama. Sama persis dengan apa yang kamu rasakan.

Kesan pertama begitu dalam. Itu pula yang terjadi pada seorang Khadijah. suatu saat ia dengar nama Muhammad begitu masyhur di telinganya. Tak berapa lama, Muhammad bergabung dalam satuan bisnisnya. Begitu tahu, ah, tiada rasa yang dirasakan selain bahagia. Ia ceritakan hal itu kepada Nafisah, lalu ia ceritakan kepada  Muhammad hingga akhirnya melamarnya.

Kesan pertama sungguh dalam. Sedalam-dalamnya hati. Kesan itu sampai ke hati. Kemudian dari hati masuk lagi ke dalamnya hati. Sampai pada titik paling dasar  dari hatimu. Tetapi, Entahlah, tiada cinta. Tiada rindu. Tiada rasa yang benar-benar bisa dikatakan. Tetapi itulah. Mungkin jawabannya kembali pada salah satu pilihan itu. Atau, bahkan kesemuanya. Entahlah.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
kuliah semester dua di UPI bandung

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang