Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merenungi Nikmat Hidup

Merenungi Nikmat Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

bidadari_azzam-merenungi-nikmat-hidupdakwatuna.com – Bismillah wal hamdulillah. Rasanya belum lama mendengar berita seorang anak asuh kami yang harus mulai kemoteraphy. Dalam hitungan hari, sobatku yang merupakan sukarelawan pendidik anak-anak dengan kondisi penyakit kronis mengabarkan bahwa dua orang “malaikat” kecil (pejuang kanker) pun telah meninggalkan kami menuju ke pangkuan Rabb semesta alam. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.

     Saat yang tepat, mengembun mata ini memperhatikan bait-bait sebuah puisi dari Buya Hamka, dalam satu tajuk Nikmat Hidup. Terharu karena barisan kata itu seolah merupakan isi hati diri sendiri.

Hanya dua tempat bertanya
pertama Tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,

Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,

Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keridhaan Allah, itulah tuju,

Ingatanku melompat ke sana ke mari, tersenyum mengenang masa kecil, dan jutaan momen kehidupan. Betapa beruntungnya diri menjadi muslimah, semua kejadian bertabur hikmah-Nya. Sejenak, tatkala mengingat Kota Krakow dengan ‘keluarga muslim kita’ yang senantiasa bersilaturrahim jarak jauh, ternyata pintu rumahku diketuk oleh seorang tetangga. Alhamdulillah, jiranku ingin berbagi masakan, sejenis sup dengan laksa, komplet dengan irisan ayam dan taburan bawang goreng. Masya Allah. Padahal, baru saja seorang teman dari jauh menyempatkan datang dengan membawa kue yang lezat. Duhai Allah, betapa deras limpahan nikmat-Mu ini.

Satu sobat shalihat memenuhi ruang hatiku pula. Ia mengantarkanku ke rumah usai mengaji. Padahal, jarak tempat mengaji sangat dekat. Biasanya aku hanya berjalan kaki. Namun, penampakan apartemen dengan jalan yang berbukit-bukit, kalau berada di jalur pulang, memang seolah mendaki bukit. Puluhan teman biasanya sibuk bertanya, “Yooook, ikut sama aku sampai ke depan.” Seraya membuka jendela mobil mereka. Kakiku menolak, lisanku berkata lembut, “Enakan jalan kaki, sist. Olahraga, hehehe.” Dan “konvoi” roda empat itu berlalu satu-persatu seraya saling melambaikan tangan.

Tetapi tawaran dari satu sobat shalihat itu, tak dapat lagi kutolak. Karena ternyata, ia akan mampir ke rumah jiranku. “Bareng aja, yoook! Aku kan mau ke blok itu juga.” Masya Allah, lincah nian dirinya. Semenit saja, aku sudah berada di depan pintu rumah. Dan nebeng singkat itu kami saling melempar doa. Begitu tenang jiwa. Betapa beruntung dapat mengenal dirinya. Alhamdulillah, “Orang baik akan berada dalam lingkungan sahabat-sahabat yang baik, yang shaleh akan dipertemukan Allah dengan teman-teman nan shaleh pula. Begitu pun sebaliknya, Dear.” Sejak dulu, dua sistersku di Poland sering mengatakan hal itu.

Mungkin bagi banyak orang, “Ah, gitu doang! Biasa aja lah.” Namun, tidak bagiku. Rasanya belum pernah diriku tidak berbarengan teman sepulang dari suatu acara atau menghadiri majelis taklim. Kalau jam kerja, saat suamiku di kantor dan tak bisa mengantar atau menjemput, maka begitu banyak saudariku yang bisa diandalkan untuk barengan pergi dan pulang ke tempat majelis tersebut. Kurasakan hal ini sebagai anugerah besar. Secuil waktu nebeng itu adalah wujud tanda cinta, melekatkan hati, bentuk empati dan praktek dari majelis ilmu yang diikuti. Allahu Yaa Kariim, “Semoga mobil yang ditebengi ini, pemiliknya, keluarganya, usaha-usaha, cita-cita dan hari-harinya kian berada dalam keberkahan-Mu di dunia dan akhirat, aamiin.” Ruang hati hamba sering berbisik demikian.

Sama seperti seorang penjaga toko di sebelah apartemen sewaktu kami di Kuwait tahun lalu. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih, padahal ‘hanya’ gara-gara sulungku mengantarkan makanan kecil dan minuman dingin buatnya. “Belum pernah ada anak shaleh yang sebaik dirimu, yang mau turun ke kedai ini, padahal cuaca sangat panas. Terima kasih karena memberikan minuman kepadaku.” Ucapnya kepada ananda kami.

Alangkah indahnya Islam dan adab kaum muslimin. Semoga kita selalu bersama menjadi pembelajar, belajar menjadi baik, selalu terus semangat belajar, dan berjumpa sahabat-sahabat baik pula yang dapat berbagi ilmu serta mendekap ukhuwah dalam kecintaan pada-Nya, aamiin.

Dan malam ini, Aku masih berkeringat. Rasanya sungguh malu kepada-Nya. Begitu bertubi-tubi kenikmatan dilimpahkan-Nya, sementara ucapan syukurku tak sampai setitik air. Bayangkanlah teman-teman, kemarin dan kemarin lusa, serta minggu lalu, aku tak diperbolehkan membayar menu pesanan makanan. Pedagang langganan dan seorang sahabat menggratiskannya dengan ucapan, “Gak usah dibayar. Halal. Udah, Dear.” (Waduh, kok begitu? Kenapa, oh kenapa sohib-sohib ini baik sekali? Hal itu berkecamuk dalam pikiranku.)

Malam ini, keringat tanda surprised itu hadir. Karena seorang bunda shalihat (lagi-lagi) menghadiahkan banyak sekali makanan dan minuman. Ya Allah, padahal tadi maksudku adalah membeli. Ternyata tidak diperbolehkan membayar, malah digratiskan. Timbangan insan tidaklah sama. Adakah timbangan amal hamba terlalu sedikit, jikalau hidup bertabur kenikmatan? Hamba takut kalau tiada sisa untuk kubawa sampai Hari Perhitungan kelak.

     Timbangan insan tidaklah sama. Membaca ulang kalimat itu bagaikan bersanding dengan kutipan makna ayat-Nya yang dijadikan papan iklan pengingat masyarakat jika terbiasa berkendaraan melewati jalur ke arah PWTC-Kuala Lumpur (yang kulewati setiap pagi). Ada sebuah himbauan untuk senantiasa berinfaq, sedekah dan membayar zakat. Papan iklan pemberi motivasi untuk rajin bersedekah.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah:261) Masya Allah.

     Subhanallah Walhamdulillah. Merenungi nikmat hidup, hanya menuju keridhaan-Mu, duhai Allah. Saudara-saudariku ternyata menyadari bahwa Ramadhan kian dekat. Rasa takjub akan ketulusan-ketulusan mereka adalah pesona jiwa dalam mengobati kerinduan pada Ramadhan. Semoga kita berkesempatan menjumpai Ramadhan tahun ini. Dan dapat memanfaatkan waktu nan tersisa untuk meraih Ramadhan terbaik dengan optimal, aamiin yaa Allah. Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Apapun yang Terjadi, Nikmatilah