Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Malaikat” di Sekelilingku

“Malaikat” di Sekelilingku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Malaikat” yang rajin menjadi pengingat, sebutan itu kami sematkan buat jundi-jundi yang hadir dalam rumah tangga ini. Bukan saja karena mereka selalu berhasil membuat tangis berubah menjadi senyuman, pun karena kekesalan dan amarah menjadi tawa, atau bahkan lelah dan lara tiada terasa. Mereka juga seolah charger bagi jiwa kedua orang tua, apabila daya tubuh lemah atau sudah nge-drop, “malaikat” bertubuh mungil alias kanak-kanak suci ini senantiasa siap mengisi ‘batere’, rumah tangga kian ramai dan berwarna bak keindahan pelangi usai pergantian terik mentari serta hujan berpetir.

Beberapa peristiwa sering menggelitik diri, untuk kurenungkan dan amat kusyukuri. Betapa Allah Swt amat sayang kepada hamba. Anak-anak seolah menjadi penerus pesan dari malaikat di sekelilingku. Tak hanya kejadian-kejadian istimewa yang membuktikan ada penjagaan terbaik dari-Nya. Semisal ketika terpeleset parah di jalan licin, namun tiada luka. Panas demam yang tiba-tiba tak ada bekasnya. Atau, bayiku pernah jatuh dari ranjang, namun alas kasur di bawah badannya pun turut jatuh menjadi alas pelindung tubuhnya, masya Allah!

Peristiwa yang menohok khilaf diri pun tersentil dari ulah mereka. Misalnya, sikap bang Azzam. Sewaktu emakku datang ke Kuala Lumpur ketika kami baru tiba dari Kuwait, beliau membantu kami berbenah di tempat tinggal yang baru. Beberapa kali diriku, emak, serta anak-anak jalan berbarengan. Berenang dan mendaki aspal berbukit di depan rumah. Seraya bercanda, aku berucap, “Waaaah, emak kalah deh! Di belakang mulu. Jangan lambat banget dong, Mak.“ Bang Azzam, si sulung yang sensitif mendengar ucapanku dengan pandangan yang tidak suka, seolah ingin membela neneknya, spontan ia berkata, “Ummi… Kok bilang begitu sih? Ombay (sebutan bagi nenek dalam bahasa Ogan Ilir) kan sudah tua, Mi. Nanti kalau abang tambah besar, umminya lambat-lambat juga. Bisa-bisa, Abang bilang gitu juga, lho.” Polos sekali kalimatnya, dan emakku pun jadi tertawa kecil sambil berpelukan dengan cucu-cucu kesayangannya.

Astaghfirrullah… “Iya, yah? Ummi nanti tambah usia, abang gede, terus ummi jadi tua dong yah? Aduuuh, kalau umur ummi sampai tua, maunya ditungguin pelan-pelan jalannya bareng abang yah, nak. Astaghfirrullah, Ummi kan bercanda tadi, yah Ombay… (sambil melirik ke arah emakku). Idiiih bang Azzam, kalau Ummi gak sampai tua, yaaah Abang gak perlu capek ngegandeng pelan-pelan. Abang banyak doain ummi aja…” Kali ini kukedipkan mata ke arahnya.

Karena dia sudah mengerti maksudku, ia segera menampakkan mimik muka sedih, bibir bawahnya dimajukan beberapa senti, “Jangan bilang gitu dong, Mi. Abang sayaaaaang sama ummi… hu..hu…hu….” peluknya erat. Masya Allah. Selanjutnya kami dorong-dorongan seperti bermain naik kereta api dalam tiga generasi ; anak, emak, cucu.

Bang Sayyif, si tengah pun demikian. Ia bagaikan alarm tatkala rasa rindu telah membuncah dalam jiwa. Termasuk rindu pada orang tua kami. Suatu kali, Sayyif memencet sendiri nomor handphoneku. Ternyata pulsanya habis. Beberapa hari kemudian, tatkala pulsa kembali diisi, ia menanyakan kepadaku, “Ummi, telepon?” Kalimat pendek itu hanya kujawab singkat, “Siapa, Nak?”

“Telepon Ombay.” Atau, ia bilang, “Telepon Abi.” Ketika ayahnya sedang bertugas di luar. Kalau ia sudah bilang sendiri, artinya ia mau bicara di telepon. Dan ternyata, Sayyif tak cuma bicara -meski kalimatnya pendek. Ia bernyanyi dengan bahasa campuran khasnya sendiri (Sayyif lahir di Malaysia, namun tumbuh kembangnya sejak usia 7 bulan hingga 4 tahun, berada di Polandia). Alhamdulillah, ulah uniknya ini ternyata amat berkesan bagi seluruh anggota keluarga. Nenek-kakeknya serta anggota keluarga lain selalu senang mendengar suara Sayyif kalau bernyanyi, berceloteh, atau pun melantunkan secuil surat pendek (Q.s. al-Fatihah dan Q.s. al-Ikhlas yang paling sering dilantunkannya).

Sayyif dan si bungsu Zuhud pun sudah sedemikian kompak di setiap waktu azan tiba. Sungguh, malu diri ini jika mereka sudah menarik-narik baju atau tangan kami agar segera berwudhu dan melaksanakan perintah Allah Swt nan utama itu. Mereka komat-kamit seraya mencari kopiah, “Allahu Akbar…. Hayya ‘Alashsholaaaah…” Kedua balita itu menoleh ke kanan dan kiri karena mengikuti cara abangnya kalau bersiap-siap shalat berjama’ah dengan melantunkan iqomah.

Alhamdulillah, Fabiayyi Alaa Irabbikumaa Tukazzibaan…”

“Malaikat” kecil di sekelilingku, tak hanya anak-anak kandung dalam keluarga kecil kami. Mereka nan menghapus air mata duka dengan pengalaman hidup yang lebih perih dibandingkan apa yang kualami. Sebagaimana ananda-ananda yang sedang tergolek di rumah sakit dalam persiapan operasi akibat kelainan pada jantung, dalam jadwal terapi kanker, lupus atau penyakit kronis lainnya, Subhanallah! Mereka menularkan pelajaran berharga bahwa hidup bermakna perjuangan. Mereka menginspirasi bahwa makhluk mungil bisa saja memiliki kekuatan yang besar, bahwa orang-orang dewasa harus terus belajar arti ketulusan dan sabar dalam menerima ragam peristiwa, menikmati keindahan rencana-rencana Sang Mahakuasa dengan lafaz syukur yang tak pernah memudar.

Bermohon hamba kepada-Mu, semoga perisai indah dan keanggunan jiwa “malaikat” di sekelilingku senantiasa Engkau jaga dan tercurah taufiq hidayah-Mu sepanjang hayat, cita, dan tapak perjalanan mereka. Semoga prajurit-prajurit “malaikat”-Mu pun meng-aminkan segala doa kebaikan buat mereka. Penuhilah keikhlasan jiwa dan sabar tiada batas dalam diri kami, aamiin. Hanya kepada-Mu kami bersandar, menumpahkan segala asa. Jauhkan kami dari kelalaian. Sungguh, mereka adalah amanah-Mu yang teramat berharga. Terima kasih Yaa Allah. Wallahu A’lam Bishshowwab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Al-Quran yang Shalih LiKulli Zaman Wal Makan Membuktikan Bahwa Li Kulli Zaman Rijaaluhu