Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Awali Aktivitas Pagi dengan Menyebut Ilahi

Awali Aktivitas Pagi dengan Menyebut Ilahi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)
Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)

dakwatuna.com – Apakah yang disebut ketika  mata ini terbuka kembali setelah merasakan beberapa waktu berada pada  masa tak sadarkan diri? Semoga terucapkan kata syukur tiada tara atas pemberian nikmat yang tak ada satu pun manusia mampu menghitungnya sehingga wajarlah jika saat pertama kali mata ini terbuka terucap doa

“Alhamdulillahil LadziAahyana Ba’da ma Amatana Wailahin Nusyur”

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan dibangkitkan.”

Setelah mematikan, satu kalimat yang perlu digaris bawahi. Mengapa? Memang benar. Pada saat manusia tidur bagai sebuah gambaran dia sedang mati sebab tidak bisa melakukan apapun pada saat tidur. Diajak bicara saja orang yang tidur tidak akan menjawab. Padahal manusia mampu berbicara dan mendengar. Namun, pada saat tidur kemampuan berbicara dan mendengar telah lenyap seketika laksana orang yang mati.

Jika tidur adalah mati sementara. Maka apa yang akan kita lakukan pertama kali ketika diri ini dihidupkan kembali? Sebagai umat muslim tentu yang pertama kali dilakukan saat bangun tidur yakni mengagungkannya lewat doa-doa sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang Pemilik Nyawa ini.

Ketika bangun dari tidur dan mengucapkan doa. Selanjutkanya apakah yang kita lakukan untuk mengawali hari? Syukur telah terucapkan oleh bibir. Kini, badan pun meminta agar kita bersyukur tidak hanya dilontarkan oleh kata-kata. Shalat Subuh itulah salah satu bentuk syukur badan yang pertama kali dilakukan oleh umat Islam. Setelah bangun, berdoa kemudian mengambil air wudhu untuk bersiap-siap mendirikan shalat Subuh.

Bayangkan, pertama kali diri ini setelah bangun langsung menghadap-Nya sebagai wujud syukur anggota badan melaksanakan shalat Subuh dengan penuh kekhusyukan. Shalat Subuh yang tidak semua orang mampu mendirikannya tepat waktu ketika azan berkumandang. Shalat yang hanya dilakukan segelintir orang pilihan yang mampu mengalahkan hawa nafsunya untuk bangun  di pagi yang buta.

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh” (H.r. Ahmad)

Seketika bangun langsung berdiri berkomunikasi dengan-Nya adalah salah satu cara memasrahkan diri agar pada hari ini kita bisa melakukan yang terbaik. Bukankah kita pernah mendengar sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa,

“Manusia hanya bisa berencana, Dia-lah yang menentukan semuanya.”

Apapun yang akan terjadi, di awal hari kita pasrahkan semuanya atas qada dan qadar-Nya yang akan dijalani oleh masing-masing diri manusia.

Di sinilah kita mengakui akan keberadaan dan kebesaran-Nya. Memang benar, manusia tak mampu berbuat apa-apa jikalau Dia tak menghendakinya. Masihkah kita mengingkari akan Dia?

Dengan memasrahkan diri kepada-Nya, itulah yang akan membuat kita mampu melaksanakan segala hal-hal kebaikan yang diperintahkan-Nya selama sehari penuh. Ketika bangun kita sudah merasa akan keberadaan dan pengawasan-Nya maka ketika beraktivitas pun rasa itu akan tetap ada. Dia akan tetap membersamai orang-orang yang sejak bangun langsung mengingat-Nya.

Dia akan menjaga, melindungi dan memelihara orang yang senantiasa mengingat-Nya. Terlebih tidak hanya mengingat di kala shalat. Namun, di kala beraktivitas pun kita dianjurkan untuk selalu mengingatkan-Nya.

Begitu banyak cara untuk mengingat-Nya, tidak hanya sewaktu melaksanakan shalat. Kita ketahui bersama, bahwa Islam itu telah mengatur segala aktivitas manusia dari bangun hingga tidur kembali lewat doa-doa yang tak pernah putus. Pada saat bangun kita membaca doa bangun tidur. Ketika hendak masuk toilet kita membaca doa. Ketika keluar dari toilet pun ada doanya. Saat berwudhu diawali dengan doa. Usai berwudhu berdoa. Bercermin, makanan, saat memakai pakaian, melepas pakaian, bepergian dan aktivitas lainnya. Semua aktivitas yang dilakukan selalu diiringi dengan doa. Begitu lengkap dan sempurna. Namun, terkadang diri ini tak menyadari bahwa setiap aktivitas yang dilakukan ada doa-doa tertentu sebagai bentuk mengingat-Nya.

Segala puji bagi Allah. Tak menyadarikah kita tentang semua itu? Agama kita telah mengajarkannya. Namun, hanya segelintir orang yang mengamalkannya. Padahal itu merupakan salah satu cara untuk mengingat-Nya lewat doa-doa yang tidak begitu panjang tapi memiliki arti yang mendalam.

Coba kita pelajari bersama-sama salah satu doa yakni doa ketika bercermin yang berbunyi,

“Alhamdulillah, Allahumma Kamaa Hasanta Khalqii, Fahassin Khuluqi”

“Segala puji bagi Allah, Ya Allah sebagaimana Engkau telah memperindah tubuhku maka perindahlah pula akhlakku”

Sahabat, di dalam doa tersebut terselip keinginan untuk memperindah akhlak. Bukankah keindahan akhlak akan mengalahkan semua keindahan yang ada di muka bumi ini?

Semoga aktivitas di pagi hari kita awali dengan menyebut nama Ilahi lewat doa-doa yang terlontarkan, lewat ruku’ dan sujudnya di waktu Subuh dan lewat tilawah yang tersenandung seusai shalat Subuh sebagai bukti seorang hamba di kala dia dihidupkan kembali mengucapkan rasa syukur dengan mengingat-Nya.

Di dalam hadits Qudsi terlontarkan sebuah kalimat nan merdu didengar dan diucapkan oleh setiap makhluk,

“Jika hamba-Ku mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pasti mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku di hadapan khalayak ramai. Aku akan menyebut namanya di hadapan khalayak yang lebih mulia daripada khalayaknya. Jika dia menghampiri-Ku sejengkal, Aku akan menghampirinya sehasta. Jika dia mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika dia datang berjalan kepada-Ku, Aku akan berlari kepadanya. Yakni segera menyahut segala permintaannya.”

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Pagi dan Petang