Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Mengejar-Ngejar Mimpi

Mengejar-Ngejar Mimpi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Mengejar-Ngejar Mimpi".
Cover buku “Mengejar-Ngejar Mimpi”.

Judul Buku : Mengejar-Ngejar Mimpi
Penulis : Dedi Padiku
Penerbit : AsmaNadia Publising House (ANPH)
Jumlah Halaman : xii & 324 Halaman
Cetakaan pertama : Mei 2014
ISBN : 978-602-9055-24-5
978-602-9055-17-7
Harga : Rp.56.000

 

Autobiografi ‘Calon Penulis’ Terkenal Memotivasi Para Pengejar Mimpi

dakwatuna.comSiapa Dedi Padiku? Belum banyak orang yang tahu- setidaknya sebelum buku ini dilaunching- Tapi bagi members Komunitas Bisa Menulis (KBM), namanya tidak asing lagi. Demikian juga dengan saya, yang mengenalnya setelah bergabung dengan KBM. Sebuah komunitas kepenulisan yang didirikan oleh seorang penulis ternama, Asma Nadia dan dibawah asuhan Beliau bersama suami, Isa Alamsyah serta beberapa penulis lain, diantaranya, Agung Pribadi- first Historivator di Indonesia.

Mambaca aliran cerita dalam buku ini, berasa sedang membaca autobiografi seorang penulis terkenal. Terlupa bahwa ini adalah buku pertamanya. Setiap detail kisah yang dituturkan seolah demikian sederhana tetapi tentu saja tidak sesederhana ketika si penutur sedang menjalani setiap tahap-tahap kehidupannya. Mulai dari percintaan ala remaja putih abu-abu yang merah jambu sampai pada keterpurukan rasa yang mengharu biru.

Mengejar mimpi, bukanlah hal yang mudah, membutuhkan perjuangan dan kebulatan tekad yang kuat untuk tetap fokus pada sasaran. Karena tentu saja banyak hal yang mewarnai dan nyaris membuyarkan semua tatanan mimpi yang sudah terangkai. Apalagi dengan kondisi sulit yang dihadapi. Dari masalah keluarga, percintaan, persahabatan hingga sesuatu yang konyol dan membuat terbahak-bahak.

Dedi Padiku mengemas semua peristiwa yang dilalui dengan caranya. Tanpa melebih-lebihkan kisah sedih dengan mendayu-dayu, tapi cukup membuat hati ikut merasa melankolis dan haru. Bagaimana tidak, diantara sesaknya nafas karena kekecewaan yang sedang melandanya, saya dibuat terpaksa tersenyum dengan cara konyol yang tidak pernah terfikir sebelumnya.

Kepala saya turut berdenyut-denyut membaca bagaimana cara dia mendapatkan dua sentimeter tinggi badannya untuk memenuhi obsesi berangkat ke Jepang. Demi hidup yang lebih baik, terbebas dari kesulitan ekonomi dan tekad mengumpulkan uang serta merengkuh kembali keutuhan keluarganya. Bertemu kembali dengan ibu dan kedua adiknya yang entah berada dimana sampai buku ini terbit pun dia belum tahu.

Sungguh sebuah kisah inspirasif. Banyak ide-ide kreatif yang muncul spontanitas dalam menghadapi masalah-masalah tak terduga. Kenekatannya mengejar mimpi ke Ibu Kota, tanpa sanak saudara, tempat tinggal dan pekerjaan mungkin sudah banyak dilakukan oleh sebagian orang. Tapi tidak banyak yang seunik ini. Selain mimpi yang dikejar-kejarnya adalah menjadi penulis -kebanyakan orang nekat datang ke Ibu Kota untuk menjadi penyanyi, bintang film dan sebagainya- dan karena cara yang dilakukannya.

Bagaimana prosesnya hingga Dedi Padiku akhirnya bisa menelurkan buku ini? Cerita ini sendiri adalah proses itu. Seorang pemuda kampung dengan segala keluguan yang memancing kelucuan natural membuat kita terbahak-bahak meskipun sebenarnya dia sedang mengisahkan kepedihan.

Buku ini sangat memotivasi para pengejar mimpi untuk tetap lari karena mimpi tidak akan terbirit-birit pergi ketika kita mengejar dan menjemput dengan kesungguhan, kegigihan, tawakal, niat baik, tahan banting jiwa dan raga. Maka saya menamai ini sebagai autobiografi ‘calon penulis ternama’, karena buku ini disusun bak sebuah autobiografi tetapi ditulis jauh sebelum si penutur menjadi penulis beneran.

“Setiap kali menulis, semua peristiwa terasa dekat kembali, seolah aku mengalaminya lagi. Sungguh sangat nikmat.”

“Tangis tak terhitung, menulis pun membuat pilu. Dilecehkan membuat pilu semakin dalam. Berkisah tentang mimpiku membuatku kembali menangis.”

“Aku sudah bosan dilecehkan dan direndahkan. Kini saatnya kubuktikan kan kukejar impian!”

Itu beberapa kalimat ungkapan perasaan Dedi Padiku.

Untuk cover, menarik sekali dengan menampilkan gambar Dedi Padiku yang sedang melangkahkan jejak panjangnya, mengepalkan tangan dan berteriak. Langkah panjangnya mewakili kegigihan mengarungi jarak yang dilaluinya menuju Ibu Kota dimana mimpi itu bersemayam. Kepalan tangannya menunjukkan tekad bulatnya untuk menaklukkan segala rintangan yang menghadang. Teriakannya menyuarakan semangat tinggi memanggil mimpi yang bersembunyi untuk diseret dan diajak menjadi miliknya.

Dengan latar belakang Tugu Monas, satu-satunya identitas Ibu Kota yang dikenalnya sejak dia berada di kampung. Tidak ketinggalan gedung-gedung menjulang yang mengitari.

Ada lagi yang menarik. Kita akan menemukan ilustrasi gambar kartun di dalamnya melengkapi senyum simpul kita menikmati jalan cerita sang pengejar mimpi ini.

Inilah kisah inspiratif dari seorang pemuda desa yang berusaha mewujudkan mimpinya sebagai penulis. Bagaimana keseruan-keseruan yang terjadi di dalamnya. Dan bagaimana dia bisa menjadi bagian dari AsmaNadia Publising House serta pertemuannya dengan beberapa penulis seperti Gola Gong, Zara zetira, Habiburrahman, Raditya Dika yang membuat seperti melayang di alam mimpi. Lalu bagaimana sampai buku ini terwujud? Lengkap terjawab di sini, Autobiografi Calon Penulis Terkenal, Dedi Padiku.

Selamat menjemput mimpi bagi pengejar mimpi. Jadikan kisah ini salah satu inspirasi dan motivasi meraih impianmu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Daena Hadi
Guru TPQ di sebuah kota kecil sederhana, Pemalang.

Lihat Juga

cover-buku-mutiara-hikmah-tasawuf-terjemah-kitab-an-nawadir

Mutiara Hikmah Tasawuf (Terjemah Kitab An-Nawadir)

Organization