Home / Berita / Opini / UN Menjadi Momok yang Menakutkan Bagi Siswa

UN Menjadi Momok yang Menakutkan Bagi Siswa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Erma Alfaritsi)
Ilustrasi. (Erma Alfaritsi)

dakwatuna.comJudul tulisan diatas seolah-olah mendeskripsikan akan datangnya kehancuran dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pendidikan memang menjadi aspek yang sangat sentral lagi fundamental bagi terbentuknya sebuah peradaban dan kegemilangan suatu bangsa. Perbincangan soal pendidikan pun seperti deburan ombak lautan yang tak pernah surut dari terpaan arus problematika. Masih saja ada yang salah dalam sistem pendidikan negeri ini. Sepertinya, apa yang telah diupayakan pemerintah untuk perbaikan pendidikan bangsa tidaklah pernah benar di mata para pemerhati pendidikan.

Bak busur panah yang melesat mencari sasaran, berbagai kritikan pedas pun kerapkali dilesahkan oleh para pemerhati pendidikan, terutama berkaitan dengan ujian nasional (UN). Memang, jika diperhatikan lebih mendalam, pendidikan negeri ini memang masih jauh dari tataran bagus.

Banyak sekali ketimpangan-ketimpangan pendidikan yang masih terjadi di semua lini pendidikan. Baik itu berupa sistem yang sering gonta-ganti, kapabilitas guru yang jauh dari tataran layak, sarana dan prasarana yang tidak termaksimalkan dengan baik, dan lain sebagainya. Maklum saja jika ada sebuah ungkapan, setiap ganti Menteri pasti ganti kebijakan; padahal kebijakan yang terdahulu belum sempat tersosialisasi secara merata, tiba-tiba diganti dengan yang baru.

Ironis sekali jika melihat fenomena yang ada pada lembaga pendidikan belakangan ini. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat ideal bagi para pengais ilmu, menjadi tempat yang sangat kondusif bagi terciptanya budaya intelektual serta menjadi tempat yang menyenangkan bagi para siswa, sekarang malah berbalik dari kenyataan itu.

Realita yang ada sekarang mendeskripsikan bahwa lembaga pendidikan yang beroperasi hingga saat ini lebih seperti sarang hantu yang ogah untuk dijamah atau dijadikan media belajar, apalagi menjadi tempat yang paling diminati oleh para siswa. Sebagai ilustrasi dari berbagai fenomena yang seringkali kita saksikan belakangan ini, berapa banyak siswa yang lebih gembira ketika berita libur itu dikumandangkan daripada mendengar berita masuknya kegiatan belajar-mengajar? Belum lagi situasi kelas yang membosankan hingga siswa lebih memilih untuk menjadikan kelas sebagai tempat yang nyaman untuk tidur daripada tempat untuk mengais pengetahuan.

Fenomena ini lebih diperparah ketika datangnya berita tentang UN (Ujian Nasional). Ujian Nasional hadir layaknya monster yang menakutkan bagi para siswa. Berapa banyak siswa yang stress gara-gara menghadapi UN? Tidak hanya siswa, bahkan orang tua dan gurupun ikut-ikutan stress.

Monster Pendidikan, Itulah UN (Ujian Nasional)

Pertanyaan mendasar yang perlu diungkapkan dalam menyoroti pendidikan bangsa adalah, mengapa Ujian Nasional menjadi momok yang begitu mengerikan bagi para siswa? Pertanyaan ini pantas muncul jika memperhatikan pada apa yang nampak pada pendidikan bangsa hingga saat ini.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya jika dikemukakan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, yang menyempatkan dirinya untuk menyampaikan pesan sekaligus memberi semangat bagi para siswa yang akan menjalankan Ujian Nasional 2013 pada Senin (15/4/2013) khusus untuk wilayah Indonesia barat dan Indonesia timur. “Yang pertama, tanamkan rasa percaya diri dan optimisme agar dapat mengerjakan soal dengan baik,” kata Nuh sebelum melakukan inspeksi dadakan ke beberapa sekolah di Jakarta.

Apa yang dilakukan oleh Mendikbud beberapa bulan lalu dengan penyampaian pesan serta inspeksi dadakan di beberapa sekolah yang ada di Jakarta merupakan indikasi dari wujud ketakutannya akan hadirnya Ujian Nasional. Jika ditelaah lebih jauh, mengapa Ujian Nasional itu menjadi momok yang begitu menakutkan bagi para siswa, maka akan dijumpai beberapa hal yang seringkali menjadi alasan logis akan ketakutannya pada UN ini. Diantaranya:

1) Jika gagal dalam UN maka siswa akan malu sepanjang hidupnya,

2) UN seakan-akan menjadi ujian finish bagi kehidupan siswa,

3) Siswa yang tidak lulus dalam UN, maka dia tidak bisa melanjutkan belajarnya ke jenjang lebih tinggi.

Melihat fenomena seperti ini, menjadi lucu jadinya. Perwayangan pendidikan bangsa ini sepertinya menjadi mainan para elit penguasa. Bayangkan, para siswa yang menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun untuk mengenyam pendidikan kini masa depannya harus rela untuk dipertaruhkan dengan hanya ujian beberapa hari. Lebih parahnya lagi, pertaruhan yang kerapkali menjadikan para siswa stress itu hanya dihargai dengan selembar kertas. Selembar kertas yang terkadang tidak bisa membantu apa-apa untuk bekal hidupnya, atau bahkan hanya menjadi hiasan yang terpajang di almari saja.

Bagaimanakah Seharusnya UN?

Ujian Nasional seharusnya tidak terlalu mengekang siswa, apalagi menjadikannya paranoid. Ujian Nasional itu tidaklah seperti perampok yang siap untuk merenggut kebahagiaan siswa. Jika dicermati lebih mendalam, UN yang diterapkan di negeri ini menjadi sistem evaluasi yang terkesan timpang bagi para siswa.

UN terkesan timpang karena sudah tersetting sedemikian rupa oleh Pemerintah. Diantaranya dengan menetapkan kriteria soal yang sama bagi semua instansi pendidikan yang ada di Indonesia. Padahal, tidak semua sarana dan prasarana yang ada di setiap instansi pendidikan itu sama. Hal ini terkesan, UN itu hanya menguntungkan segolongan pihak saja, yakni sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta memiliki pengajar yang berkualitas. Umumnya, sekolah berlabel sekolah unggullah yang diuntungkan.

Mungkin ada baiknya jika sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini belajar dari sistem Finlandia yang menjadikan Ujian Nasional bukanlah sebagai momok yang menakutkan. Akan tetapi, Ujian Nasional itu digelar hanya untuk pemetaan. Hasilnya pun kemudian diinformasikan hanya kepada pihak sekolah dalam rangka perbaikan.

Menarik memang sistem yang diterapkan oleh negeri asal Nokia dan Angry Birds ini. Mengingat negeri tersebut adalah termasuk dalam kategori negeri yang memiliki sistem pendidikan yang menjadi sentral perhatian dunia karena keberhasilannya dalam reformasi pendidikan.

Ada baiknya jika para elit penguasa negeri ini melakukan reformasi besar-besaran untuk perbaikan mutu pendidikan bangsa, mungkin di antaranya adalah dengan memperbincangkan kembali sistem Ujian Nasional yang hanya bisa menekan siswa menjadi sistem yang ramah bagi efektifitas pengajaran siswa.

Dari data produk binaan Ujian Nasional yang ada, berapa banyak Ujian Nasional yang mengekang itu melahirkan pengangguran-pengangguran baru di tubuh bangsa. Melihat hal itu, sudah sepantasnya pemerintah negeri ini melakukan reformulasi terhadap konsep Ujian Nasional yang hanya bersifat mengekang seperti yang terlihat dewasa ini menjadi ujian yang ramah bagi siswa. Harapannya, dengan cara yang bersahabat tersebut pendidikan bangsa ini akan menghasilkan produk-produk yang bekualitas.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Angkatan 2011. Aktif dibeberapa organisasi dan forum-forum keilmuan diantaranya adalah LSO-FORSIFA UMM sebagai ketua umum periode 2013-2014, RESIST, Aktivis HPMM (Himpunan Pemuda Muslim Mencorek), Grup diskusi mahzab poros tengah ulil abshar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kajian teori sosial kritis jamaah klandungan. disamping itu, penulis juga tercatat sebagai kader PPUT (Program Pendidikan Ulama Tarjih) UMM angkatan 2011.

Lihat Juga

Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla: Sektor Industri dan Pembangunan