Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Jum'at / Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin

Khutbah Jum’at: Tanggung Jawab Muslim Memilih Pemimpin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Islam Masuk Bumi Nusantara

dakwatuna.com Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Sejenak kita merenung perjalanan kehidupan umat Islam di bumi nusantara ini. Saat abad pertama hijriyah atau abad tujuh masehi, para pedagang Arab yang terkenal dengan istilah Gujarat memasuki bumi nusantara ini untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Agama Islam dibawa mereka dengan cara damai dan terbuka, Islam rahmatan lilalamin. Masyarakat pribumi terpesona dengan akhlak para pedagang yang sekaligus Dai ilallah. Mereka masuk Islam dengan suka rela, padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Tuhan, menyembah roh, bebatuan, pepohonan. Agama nenek moyang kita dahulu dinamakan animisme dan dinamisme.

Dakwah Islam itu dilanjutkan oleh para auliyaaullah atau Wali Songo. Terutama di kawasan Jawa. Perlahan Islam dianut oleh masyarakat di seluruh nusantara. Sampai akhirnya Islam menjadi agama mayoritas di negeri ini. Bahkan saat kolonialisme Barat menyerbu bumi nusantara, para pahlawan muslim-lah yang membebaskan negeri ini dari penjajahan dengan pekikan lantang Takbir, Allaaahu Akbar.

Islam masuk bumi nusantara ini berkat sentuhan para Dai ilallah, dilanjutkan oleh para Wali Songo, dimerdekakan oleh para pahlawan muslim. Sampai hari ini faktanya Indonesia menjadi Negara berpenduduk Muslim terbesar di seluruh dunia.

Melanjutkan Perjuangan Pendahulu

Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Alhamdulillah, Indonesia sudah merdeka secara fisik. Hampir 68 tahun kita sudah memperingati kemerdekaan tersebut. Namun, jika kita mau terbuka, ternyata kita belum merdeka secara hakiki. Kita belum merdeka secara ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dan budaya. Ekonomi kita masih dikuasai pihak Asing, kekayaan alam kita masih dinikmati pihak Asing. Pendidikan kita masih tambal sulam dan mahal, bahkan ada lembaga pendidikan Asing yang tidak bisa disentuh oleh pemerintahan kita meski terjadi banyak pelecehan seksual terhadap anak-anak. Secara politik, Indonesia masih belum mandiri dan masih disetir pihak Asing (lihatlah bagaimana kepentingan Asing itu mendekati capres sekarang ini). Secara sosial di negeri ini masih terjadi ketimpangan juga tindak pidana narkoba, sangat mengerikan. Keamanan sekarang ini pada titik nadir, banyak kriminalitas di sekitar kita. Secara budaya, kita di jajah oleh budaya Barat yang mempertontonkan kehidupan materialisme dan hedonisme atau serba boleh.

Tanggung jawab kita sebagai Muslim sekarang ini adalah melanjutkan dakwah para pendahulu kita, agar negeri ini menjadi merdeka secara hakiki. Merdeka secara hakiki itu berarti masyarakatnya mampu melaksanakan ibadah secara baik, mengenyam kesejahteraan dan kemakmuran, dan mendapatkan jaminan stabilitas keamanan.

Itulah yang dirasakan oleh bangsa Arab sampai saat ini. Allah swt berfirman:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ﴿١﴾  إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ﴿٢﴾  فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَـٰذَا الْبَيْتِ ﴿٣﴾

 الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿٤﴾

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy:1-4)

Pengalaman khatib saat studi di Mekah selama satu tahun. Di sana pendidikan gratis, fasilitas dipenuhi, bahkan mendapatkan beasiswa bulanan dalam jumlah lumayan besar. Itu bagi mahasiswa asing, bagaimana dengan mahasiswa pribumi, tentu mereka sekolah dan kuliah mendapatkan beasiswa yang besar. Kesehatan di sana gratis dengan fasilitas maju. Infrastruktur bagus; jalanan lebar dan bagus., seperti jalan tol-nya kita bahkan lebih bagus mereka, tapi tak berbayar. Masyarakat mereka sejahtera. Padahal kekayaan mereka hanya minyak. Gunung mereka bebatuan. Tanah mereka tandus. Lautan mereka tidak seberapa.

Menuju Indonesia Berkah

Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Kita bangsa Indonesia ini kaya raya, memiliki segalanya. Tanah kita subur makmur; tongkat dilempar menjadi tanaman. Gunung kita emas, dieksploitasi sampai anak cucu kita tidak akan habis, seperti yang berada di Papua. Gunung kita pepohonan lebat menjulang, itu berarti kertas dan kayu. Itu semua adalah duit. Lautan kita banyak titik minyak juga jutaan spesies ikan. Minyak kita ada sekitar 150 titik dan yang baru dieksplorasi 60-an titik. Jutaan spesies ikan mestinya menjadikan para nelayan sejahtera, bukan setiap hari ikan-ikan kita dicuri oleh Asing dengan kapal-kapal canggih. Indonesia lebih kaya dibandingkan Negara-negara Timur Tengah, karena Allah sengaja menyiapkan bumi ini untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah swt. berfirman:

إِنَّ الأَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskannya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf:128)

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Ambiya’:105)

Bumi nusantara ini dari Sabang sampai Merauke adalah milik Allah, diwariskan bagi hamba-hamba-Nya yang Beriman, Shalih, dan Bertaqwa. Menuju Indonesia yang baldathun  thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Rakyat bisa sekolah dengan gratis sampai perguruan tinggi. Rakyat bisa berobat tanpa dipungut biasa sepeserpun. Rakyat kita menikmati pembangunan fisik dan infrastruktur dengan nyaman. Rakyat kita mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Rakyat kita merasakan keamanan.

Memilih Pemimpin

Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan menyelengarakan pemilu presiden, tanggal 9 Juli 2014, saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Saat itulah umat Islam wajib menentukan pilihannya sebagai bentuk tanggung jawab dan peran melanjutkan dakwah yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Sebab, presiden dengan pemerintahannya akan menentukan nasib umat Islam dan bangsa ini. BBM naik itu tergantung presiden, cabai naik itu tergantung presiden, narkoba dibasmi itu tergantung presiden, perzinahan dibasmi itu tergantung presiden. Pendidikan gratis itu tergantung presiden, kesehatan gratis itu tergantung presiden, infrastruktur bagus itu tergantung presiden. Indonesia maju makmur sejahtera itu tergantung presiden dan tentu pemerintahannya serta didukung parlemen.

Umat Islam harus memilih pemimpin yang baik agamanya, jelas keberpihakannya pada umat Islam, dan didukung oleh ormas dan parpol Islam. Bukan memilih pemimpin yang tidak jelas agamanya, atau kelompok yang jelas-jelas memusuhi umat Islam, seperti mereka yang telah menolak UU Pendidikan, UU Pornografi, UU Jaminan Halal, UU Perbankan Islam dst. umat Islam harus memilih pemimpin yang lebih mendekati pada kriteria kepemimpinan dalam Islam, yaitu Muslim, Mukmin, Shalih, dan Bertaqwa.

Allah swt berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf:96)

Memilih pemimpin tidak sekedar yang Muslim secara KTP saja, karena sepanjang perjalanan kepemimpinan bangsa Indonesia ini selalu dipimpin oleh Muslim, tapi sampai saat ini bangsa ini masih belum sesuai yang diharapkan bersama seperti yang saya uraikan di atas. Karena itu, kita tidak sekedar memilih pemimpin yang Muslim, karena Allah swt pernah menolak klaim orang Arab badui yang mengaku beriman. Allah swt berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:14)

Semoga umat Islam di Indonesia melek politik. Politik adalah bagian dari agama. Politik bagian dari kehidupan umat Islam, satu kesatuan tidak terpisahkan. Jangankan memilih presiden, makan saja Islam mengaturnya. Jangankan politik, ke WC saja Islam mengaturnya. Jika yang remeh-temeh saja Islam memberi bimbingan, maka hal yang besar dan menentukan nasib jutaan umat manusia, Islam jauh lebih memperhatikan dan memberikan arahannya.

Semoga negeri yang kita cintai ini menjadi negeri “baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur; negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo.” Aamiin

بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم, ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم, وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ulis Tofa, Lc
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?