Home / Berita / Opini / Menanti Pemimpin Sejati

Menanti Pemimpin Sejati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 - (lensaindonesia.com)
Pasangan Capres dan Cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2014 – (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Sejatinya yang menjadi pemimpin adalah orang yang terbaik di negeri ini. Baik kepribadiannya, baik kemampuan memimpinya dan juga baik pemahaman agamanya. Memimpin bukanlah pekerjaan mudah. Tidak bisa jika hanya mengandalkan semangat yang membara dan harta yang melimpah apalagi hanya sekedar bermodalkan wajah atau popularitas melalui media masa. Namun memimpin merupakan kerja besar dan luar biasa yang hanya bisa diemban oleh “orang besar” dan orang yang “luar biasa “ juga. Maka tidak semua orang yang bisa dan mampu menjadi pemimpin karena begitu besarnya amanah dan begitu beratnya pertanggungjawabannya pada rakyat dan Tuhannya.

Di negeri ini, banyak orang yang berminat dan berambisi menjadi pemimpin. Mereka berusaha mengambil hati rakyat dengan slogan-slogan indah dan memesona. Seperti slogan “ Pembela wong cilik”, “ Pembawa Pembaharuan” , ”Penyambung suara rakyat” dan banyak lagi slogan yang memikat namun itu hanya ada sebelum mendapat suara , setelah menjabat, mereka lupa dengan slogan yang selama ini didendangkan – sibuk berpikir mengembalikan biaya besar yang dikeluarkannya. Selama kampanye, mereka berusaha dekat dengan rakyat, suka menyapa, membantu kesulitan dengan pembagian sembako, lantang menyuarakan kepahitan rakyat bahkan rajin datang ke rumah ibadah untuk mendapatkan simpati massa.Tetapi ketika kursi jabatan sudah ditangan dan kekuasaan sudah dalam gengaman, kebiasaan mulia ini secara perlahan hilang dalam kehidupannya. Begitulah kebanyakan pemimpin zaman sekarang yang hanya butuh rakyat pada saat tertentu saja. Maka tipe pemimipin semacam ini tidak bisa diharap untuk mengubah nasib rakyat.

Model pemimpin mana yang dibutuhkan rakyat? Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah pemimpin sejati- pemimpin yang memahami makna kepemimpinan, kewajiban dan tanggung jawabnya dalam memimpin. Berusaha untuk melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik dan benar sebagai wujud kesetiaan pada rakyat. Ketika dirinya dipilih menjadi pemimpin, dia tidak berpesta pora bak seorang olah ragawan merayakan kemenangan atau syukuran kebahagian seperti artis yang berhasil meraih piala citra. Namun justru dirinya tidak terlalu menampakkan kebahagian sembari memohon pada yang Maha Kuasa untuk membantu dirinya melaksanakan amanah. Menjadi peminpin bagi dirinya adalah sebagai sarana ibadah dan panggilan jiwa untuk bisa berbuat membangun negeri tercinta.

Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang tidak mementingkan diri pribadi dan kelompok atau partainya tetapi mengutamakan kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Ketika amanah sudah dipundak maka baju partai dibukanya dan atribut politik disimpannya. Dirinya siap meninggalkan jabatan tertinggi di partainya dan berkonsentrasi memangku jabatan penuh dari rakyat sebagai bentuk kesungguhannya dalam mengemban amanah rakyat.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat dan tidak membuat jarak karena jabatannya. Pemimpin yang melayani bukan minta dilayani, bekerja sepenuh hati, berusaha maksimal mensejahterakan rakyat. Pemimpin yang besar karena kerja nyata bukan dibesar-besarkan oleh media massa.Pemimpin yang selalu bekerja dan terus bekerja sembari beribadah untuk mendapat hasil kerja yang maksimal bagi rakyatnya.

Lalu timbul pertanyaan, apakah masih ada pemimpin seperti ini? Melihat kenyataan yang ada memang sangat sulit untuk mendapatkan pemimpin sejati. Pemimpin yang bekerja dengan hati, dan memimpin dengan nurani. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas , tentang sosok pemimpin sejati yang telah hadir di bumi ini sebagai teladan yang berarti bagi pemimpin setelah dirinya. Sebut saja Abu Bakar Shiddiq yang menagis ketika dilantik dan siap menerima kritikan keras dari rakyat. Umar bin Khatab yang bekerja pagi dan petang, blusukan sampai tengah malam untuk memastikan tidak ada seorangpun rakyatnya yang tidak makan dan hidup dalam kelaparan . Umar bin Abdul Aziz yang tidak mau memakai fasilitas Negara untuk kepentingan diri dan keluarganya sekalipun hanya lampu penerangan yang sangat sederhana ketika bicara dengan anak kandungnya.

Ditengah sulitnya mencari pemimpin sejati, kita tentu tetap berharap akan hadir pemimpin seperti ini atau yang mendekati sifat pemimpin sejati diantara tiga ratus juta rakyat Indonesia. Sebagai panduan dalam memilih,pemimipi sejati, kita harus mengetahui sifat dan karakter pemimpin sejati itu.diantaranya adalah :

  1. Siddiq, yaitu pemimpin yang jujur dalam perkataannya, benar dalam perbuatannya. Pemimpin yang tidak terlalu ambisi meraih kursi,Dia mendapatkan jabatan dengan jujur dan benar, menjauhi money politik dan menjadikan nilai kebenaran dan kejujuran sebagai panglima di dalam bekerja. Pemimpin yang berusaha menjadi teladan bagi rakyat, siap menderita ketika kondisi susah dan tidak bermewah dengan uang Negara.
  2. Tabligh, yaitu, pemimpin yang dapat menyampaikan kebenaran, transparansi dalam masalah keuangan dan bekerja dengan semangat saling mengingatkan. Pemimpin yang berusaha memberikan pencerahan pada rakyat dengan keteladanan yang nyata. Pemimpin yang tidak hanya pandai bicara namun sigap dalam bekerja. Mengatur dan menata tugas dengan bijaksana sehingga menghasilkan program kerja yang berpihak pada rakyat biasa.
  3. Cerdas, yaitu pemimpin yang cerdas dalam memimpin, tidak hanya cerdas dari segi intelektual saja ( pintar dan pandai ) namun juga harus cerdas secara emosional ( memiliki karakter yang baik ) dan juga cerdas secara spiritual ( rajin beribadah ) bahkan dia juga harus cerdas dalam menghadapi berbagai persoalan yang melilit negeri ini dan menimpa rakyatnya. Pemimpin yang memiliki kecerdasan yang paripurna ini, akan mudah melangkah melaksanakan amanah dengan memaksimalkan segala potensi negeri untuk kesejahteraan rakyatnya.
  4. Amanah, yaitu pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengemban kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya. Dia akan berusaha melaksanakan tugas dengan baik dan benar sesuai dengan undang-undang . Ketika rakyat memilih dirinya untuk memimpin daerah maka yang bersangkutan berusaha untuk menyelesaikan amanah sampai habis masa jabatannya dan melaksanakan program yang telah dijanjikan pada rakyat sebagai bentuk tanggung jawab moralnya.

Sebentar lagi rakyat memilih. Kedaulatan penuh ada di hati dan pikiran rakyat. Mau memilih siapa? Itu hak rakyat dengan rahasia. Namun kita sangat berharap, kini saatnya hadir pemimpin sejati yang bekerja dengan semangat cinta dalam mewujudkan keharmonian hidup yang membahana.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Jakarta Magnet Kepentingan, Warga Jakarta Harus Rasional Pilih Pemimpin