Home / Berita / Nasional / Bang Maing, Seniman Besar yang Mewariskan Sabar

Bang Maing, Seniman Besar yang Mewariskan Sabar

Seniman Betawi Ismail Marzuki (inet) - (lembagakebudayaanbetawi.com)
Seniman Betawi Ismail Marzuki (inet) – (lembagakebudayaanbetawi.com)

dakwatuna.com – Jakarta. “Jangan pernah menjadi penyanyi,” kata Ismail Marzuki kepada putri angkat semata wayangnya, Rachmi Aziah. Suaranya pelan, sedikit tercekat, terhalangi maut yang tak sabar menjemput. Tak lama, pada 1958 itu sang maestro itu berpulang.

Kehidupan seniman yang dijalani Ismail Marzuki—pria Betawi yang akrab dipanggil Maing itu, memberinya keyakinan bahwa berkesenian belum mampu membuat seniman hidup berkecukupan. Dan itu pula yang harus dirasakan Rachmi Aziah. Kesulitan hidup dan deraan kemiskinan seolah tak hendak beranjak dari hidupnya.

Tidak hanya terlilit utang dan menjadi tuna wisma di hari tua, Rachmi juga sakit-sakitan. Untuk menopang hidup, nenek 63 tahun itu memaksakan diri berjualan kecil-kecilan. Untuk membantu suami yang bekerja serabutan, di depan rumah kontrakannya, Rachmi mencoba menggoda anak-anak SDN Kedaung, Perum Bappenas RT 01/ RW 06, Cinangka Wates, Kecamatan Sawangan Depok, untuk jajan.

“Saya berdagang kecil-kecilan untuk anak SD. Lumayan untuk bayar kontrakan,” ujar Rachmi, saat media massa menemani kedatangan pejabat Kota Depok, beberapa waktu lalu. Rata-rata ia meraih untung Rp 30 ribu per hari, yang dicukup-cukupkannya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rachmi mengaku sempat mendapat bantuan dana dari Kementerian Sosial untuk membeli rumah. Jumlahnya Rp 65 juta. Tapi dana itu akhirnya habis dalam upayanya mencari rumah. “Saya sudah kemana-mana. Tapi, tahu sendiri, sulit mencari rumah seharga Rp 65 juta sekarang,” ujar dia.

Umur yang kian uzur juga mengundang persoalan lain: penyakit. Setelah sempat diserang stroke, tahun lalu Rachmi juga dilarikan ke rumah sakit karena tersengat jantung koroner. Untuk penyakitnya itu, Rachmi dan keluarga terbebani biaya sekitar Rp 120 juta. Untunglah, pihak RS Medika BSD Tangerang cukup bijak. Saat itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Medika BSD, Prof Idris Idham, menegaskan, jika pasien benar-benar tidak mampu dan ingin menjalankan operasi jantung coroner, pihaknya akan membantu dengan membebaskan biaya sama sekali.Entah dengan cara bagaimana, akhirnya Rachmi pun bisa kembali ke rumah.

Para artis pun tak kurang solider. Empat tahun lalu, para artis seperti Titiek Puspa, Cornelia Agatha dkk pernah menggelar malam amal, khusus untuk Rachmi. Dengan berbagai cara, terkumpul uang sejumlah Rp 119,850 juta yang diserahkan langsung kepada Rachmi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya,” kata Bung Karno. Lalu, kerdilkah bangsa ini manakala ada keturunan langsung pahlawan nasionalnya hidup melarat? Melihat apa yang diperbuat masyarakat kepada Rachmi, rasanya tidak juga.

Meski belum mencukupi, sebenarnya pemerintah pun tidak abai dan menutup mata. “Ada bantuan Rp 1,5 juta per bulan,” kata Rachmi. Hanya benar, bantuan itu tidak datang setiap bulan. Kadang harus dirapel setiap tiga bulan, yang berakibat pada ngaretnya pembayaran sewa rumah Rachmi.

Atau barangkali kesengsaraan memang lekat dengan seniman Indonesia masa lalu? Ismail Marzuki sendiri semasa hidup harus rela dikritik, bahkan dihujat berbagai pihak. Dunia musik Indonesia—yang sempat dijaga para pemuja bangku sekolah, sempat meleceh musik Bang Maing hanya karena Ismail tidak pernah mengenyam pendidikan musik akademis. Kaum pemuja bangku sekolah itu menganggap karya Maing tidak layak disebut karya seni musik.

Tetapi jangan salah, ada pula yang mengkritik karya Ismail kebarat-baratan tanpa ukuran yang jelas. Di zaman Bung karno, sempat pula karya Bang Maing terlalu cengeng.

Padahal Bang Maing-lah yang mengantar haru kepada kita via ‘Indonesia Pusaka’, Gugur Bunga’, ‘ Rayuan Pulau Kelapa’, ‘Bisikan Tanah Air’ dan sebagainya.

Hati kita juga dibuatnya merona dengan lagu-lagu romantis semisal ‘Sepasang Mata Bola’, ‘Selendang Sutra’, ‘Melati di Tapal Batas Bekasi’, ‘Saputangan dari Bandung Selatan’, ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’, hingga ‘Tinggi Gunung Seribu Janji’, ‘Aryati’ atau ‘Juwita Malam’.

Tapi tak jarang pula semangat pendengar akan dibuat bergelora oleh lagu-lagu semacam ‘Gagah Perwira’, ‘Indonesia Tanah Pusaka’, atau ‘Halo-halo Bandung’ yang membangkitkan semangat. Lagu-lagu yang bahkan pada masa pendudukan Jepang pun pernah membuat Kepala Bagian Propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut dan melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang). Maing pun sempat diancam Kenpetai. Putra Betawi itu tak gentar. Malah pada 1945 itu lahirlah lagu ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’. Karya yang pantas membuat Maing dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Hidup yang murung itu juga yang dialami Rachmi. Yang membuat kita trenyuh, menurut Rachmi, kadang ada pihak yang mengatasnamakan keluarga untuk menjadi saluran bagi royalti karya Ismail Marzuki. Misalnya, saat sutradara film Merah Putih, Yadi Sugandi, berinisiatif membayarkan royalti karena menggunakan beberapa lagu Ismail Marzuki.

“Mereka katanya sudah membayar ke label PT Clarine Music Perkasa Rp 15 juta. Tapi kami tidak pernah menerima,” ujar Rachmi. Ia mengaku tidak tahu mengapa perusahaan itu menjadi saluran ‘royalti’ bagi karya ciptaan ayahnya, bukan melalui Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) seperti selama ini.

Saat 100 tahun kelahiran Maing diperingati, Mei ini, Rachmi tidak mau mempersoalkan soal dana itu. Mungkin karena ia juga tahu, setelah meninggal lebih dari 50 tahun, karya sang ayah kini sudah menjadi milik publik. Ada warisan yang nyata-nyata diturunkan sang ayah: kesabaran untuk hidup apa adanya. (BBC Indonesia/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Sabar, Syukur, dan Tawakkal Itu Mahal