Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Singkirkan Gadget, Tangkaplah Ilmu

Singkirkan Gadget, Tangkaplah Ilmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (mtv.in.com)
Ilustrasi. (mtv.in.com)

dakwatuna.com Sebuah sunnatullah kejayaan dan kemenangan akan tiba dengan proses yang panjang. Begitu pula dengan kemenangan dakwah. Ketika menyadari kerja keras telah dipersembahkan dan doa telah dipanjatkan namun juga kekuasaan tidak dapat direbut bahkan kekalahan beruntun tidak dapat dielakkan maka muhasabah jangan luput untuk dieja kembali. Introspeksi pada niat dan cara yang sudah dilakukan. Sudah sesuaikah dengan keridaan Allah dan sunah nabi? Atau sudahkah kita telah mencapai syarat-syarat kemenangan itu? Syarat-syarat untuk kita layak mendapatkan pertolongan Allah.

Biarlah. Biarlah waktu berjalan terus sambil kita tak abai untuk berkomitmen melahirkan generasi-generasi mendatang dari rahim tarbiyah dan pantas memimpin bangsa ini. Sekalipun kita nantinya tak pernah merasakan hasil atau sentuhan keadilannya. Tetaplah bekerja sembari berbenah. Berbenah mulai dari hal yang paling sederhana dulu misalnya. Contoh, sudahkah halaqah sebagai sarana tarbiyah berjalan dengan semestinya? Sudahkah halaqah sesuai dengan adab-adabnya?

Di dalam halaqah terdapat proses pembinaan karakter pribadi muslim berupa majelis ilmu, evaluasi ibadah, penyebaran informasi-informasi penting tentang dakwah dan perkembangan umat, dan transfer keteladanan. Dalam proses itu perlu interaksi yang tak bisa disepelekan dan perhatian penuh antara murabbi (pembina) dan mutarabbi (binaan). Sayangnya di zaman modern seperti ini, perhatian itu sangat mudah teralihkan dengan adanya gadget di tangan para peserta halaqah.

Kita sering kali beralasan di dalam gadget itu terdapat semua yang dibutuhkan dalam pertemuan seperti Al-Quran, tool pengolah kata, software hadits, ebook-ebook Islami, dan lain sebagainya. Namun menafikan bahwa di dalamnya juga terdapat segala hal yang dengannya kita mudah terbujuk dengan sekali sentuh. Seperti aplikasi permainan, chatting, Facebook, Twitter, Path, sms, BBM, galeri foto, email, dan situs berita.

Kita tak bisa menjamin ketika materi halaqah sedang disampaikan, salah seorang peserta halaqah sedang asyik-masyuk bermain-main dengan salah satu aplikasi gadget pintar di atas. Padahal dalam petunjuk pelaksanaan halaqah disebutkan bahwa ketika halaqah dibuka semua peserta berkonsentrasi dengan agenda halaqah dan tidak diperkenankan sibuk dengan agenda pribadinya. Mari kita berkaca kepada para salaf dan khalaf saat melingkar seperti ini.

Allah swt berfirman dalam surat Qaaf ayat 37, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Ibnu Alqayyim Aljauziyah sewaktu membahas ayat di atas dalam kitab Miftahu Darussa’adah yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kunci Kebahagiaan menyebutkan bahwa untuk terbukanya pintu ilmu dan hidayah bagi seorang hamba maka ia harus mempunyai hati dan menggunakan pendengarannya.

Orang yang tidak mempunyai hati tidak dapat mengambil faedah dari setiap ayat yang lewat di hadapannya. Orang yang mempunyai hati juga tidak dapat mengambil manfaat hati jika tidak menghadirkan hatinya dan tidak konsentrasi terhadap apa yang disampaikan. Orang yang menghadirkan hati juga tidak dapat manfaat kecuali ia memasang telinga dan memusatkan perhatian kepada apa yang diajarkan kepadanya.

Nasihat Ibnu Alqayyim Aljauziyah ini dapat diterapkan di halaqah para kader dakwah, agar mereka bisa mengambil manfaat atau buah dari halaqah yang mereka selenggarakan. Dengan menerapkan tiga hal ini tentunya: pertama, kebersihan dan penerimaan hati; kedua, menghadirkan dan mencegah hati ngelantur atau tidak konsentrasi; ketiga, memasang telinga dan melakukan zikir.

Ulama zaman sekarang mengisyaratkan hal yang sama ketika membahas halaqah ini. Dr. Abdullah Qadiri Alahdal yang menulis buku tentang adab-adab halaqah, menyebutkan bahwa selain adab-adab pokok halaqah berupa: serius dalam segala urusan; berkemauan keras memahami akidah salaf; istiqamah; menjauhkan diri dari sikap fanatik buta; menghindari ghibah; melakukan islah; dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, juga terdapat adab yang lebih spesifik dalam halaqah antara lain memiliki kesiapan secara jasmani, ruhani, dan akal; membersihkan hati dari akidah dan akhlak yang kotor; memperbaiki dan membersihkan niat, dan bersemangat menuntut ilmu.

Tiada beda antara ulama salaf dan khalaf. Maka ketika halaqah telah memenuhi adab-adabnya Insya Allah halaqah tersebut menjadi halaqah yang muntijah atau berhasil guna. Yang darinya sebagaimana disebut oleh Ustadz Rahmat Abdullah terlahir generasi baru. Generasi yang siap memikul beban dakwah dan menegakkan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, di bawah naungan Al-Quran dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

Generasi yang terikat dengan ilmu. Ilmulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pun antara manusia dan manusia lainnya. Ilmulah yang menjadikan manusia itu siapa-siapa. Jika tanpa ilmu maka bukanlah siapa-siapa. Sebuah kisah yang ditulis Ibnu Alqayyim Aljauziyah dalam buku yang sama menegaskan hal ini.

Seorang khalifah Bani Abbas sedang bermain catur. Ketika pamannya meminta izin masuk, ia mengizinkannya setelah menutup meja catur. Begitu sang paman duduk, ia bertanya, “Paman, apakah engkau telah membaca Al-Quran?”

Jawabnya, “Tidak.”

Ia bertanya lagi, “Apakah engkau telah menulis sebuah hadits?”

“Tidak,” jawabnya.

“Apakah engkau telah membaca fikih dan perbedaan pendapat para ulama?” tanyanya.

Kembali ia menjawab, “Tidak.”

Sang khalifah bertanya lagi, “Apakah engkau telah mempelajari bahasa Arab dan sejarah?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Setelah mendengar semua jawaban ini, sang khalifah berkata, “Bukalah meja ini dan lanjutkan permainan!”

Di sini sopan santunnya dan rasa malunya kepada sang paman hilang. Teman bermainnya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, engkau membuka meja catur itu di hadapan orang yang patut kau hormati?”

Sang khalifah berkata, “Diamlah! Di sini tak ada siapa-siapa.”

Singkirkanlah gadget, tangkaplah ilmu, jadikanlah halaqah yang berhasil guna, halaqahnya para salaf, lalu jadilah generasi yang diharapkan umat, dan darinya lahirlah para pemimpin bangsa. Tunggulah waktu itu pasti akan datang. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: inet)

Konsep Ilmu Dalam Islam

Organization