Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bersyukurlah!

Bersyukurlah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Bapak penjual jagung ‘godhok’. (Sriyono bin Nasiri)
Bapak penjual jagung ‘godhok’. (Sriyono bin Nasiri)

dakwatuna.com – Bersyukurlah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Berapa banyak manusia  yang merasa gersang dan kekurangan padahal Allah telah mencukupkannya. Lihatlah di sekitarmu, bandingkan keberlimpahan materi yang kau dapat dibanding mereka. Lihatlah kepada penjual asongan yang merintih gelisah karena belum ada satupun barang dagangan yang disambar pelanggannya. Seperti bapak penjual jagung rebus yang saya temui di hari senin sore itu.

Sore itu, saya pergi ke kota Salatiga. Ada seorang kawan yang menitipkan sebuah fotokopian. Maksud hati hendak mengambil sebuah buku hasil foto kopi, tetapi karena mengularnya orderan pelanggan, saya maklum kalau pesanan saya belum jadi. Melihat raut muka petugas foto kopi yang kusut karena sedari pagi melayani pelanggan, memencet-mencet tombol serta membuka tutup besarnya mesin fotokopi. Dengan halusnya mengatakan kepada saya, “Maaf mas, belum jadi. Mungkin nanti ba’da Isya’ baru selesai.” Seperti perdugaan saya awal tadi. Tidak tahu kenapa perasaan ikhlas yang saya terima. Memeras otak apa yang akan saya  lakukan 3 jam menunggu penantian sebuah buku yang sedang ngoyo diselesaikan.

Akhirnya, saya putuskan untuk menikmati suasana sore kota Salatiga dengan mengitari jalan-jalan utama. Terasa sebentar hanya 30 menit perjalan dari ujung ke ujung. Kuparkirkan motor kesayanganku di pinggir  majid kampus Islam yang terkenal di kota itu. Sekitar 3 meter menyeberang jalan, terdapat alun-alun kota yang ramai untuk muda-mudi berkumpul atau masyarakat kota yang sekedar melepas penat menghadapi hiruk-pikuk pekerjaannya.

Saya semangat untuk berjalan satu putaran di alun-alun yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Lapangan Pancasila. Kunikmati keterasinganku ditemani muda-mudi yang bercengkrama dengan teman-temannya. Memotret ornamen-ornamen yang menghiasi pinggir lapangan. Sesaat, di sebelah selatan dengan langkah yang berat seorang bapak yang sedang berjuang keras membanting tulang untuk menyambung hidup keluarga. Bapak itu bapak penjual jagung rebus yang tertati-tati mendorong gerobaknya di pinggir saya yang sedang berjalan. Mencoba menawarkan dan kubalas dengan halus, “Terima kasih, Bapak”

Tanpa merasa tersinggung, bapak itu mendorong sekuat tenaga sembari menawarkan ke pelanggan lain. Hanya ada satu anak kecil yang memanggil dan menjajakan uangnya. Sampailah bapak itu di pojok barat lapangan, kemudian diparkir dan sandarkan gerobak beratnya itu. Saya mencoba mengamati dari pinggir sekitar 2 meter sembari duduk di samping sebelah selatannya. Mengamati ramainya lapangan dan sesekali menoleh ke bapak itu dan kurasa dia mulai gelisah karena setengah jam berlalu tak satupun pelanggan menghampiri untuk membeli. Mungkin dalam lubuk hatinya berkata, “Bagaimana dengan nasib anak-anakku esok? Ya Allah, taburkan sedikit rezeki.”

Entah apa yang ada dalam pikiran saya. Antara sedih dan bersyukur. Sedih karena melihat kegundahan hati bapak itu, di lain sisi besyukur karena allah telah menganugerahkan rezeki yang selama ini jarang saya syukuri. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu bersyukur. Aamiin!

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,55 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
hamba Allah yang selalu mencari ridhonya

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization