Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Bagaimana Kita Berbeda Pendapat?

Bagaimana Kita Berbeda Pendapat?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Bagaimana Kita Berbeda Pendapat?"
Cover buku “Bagaimana Kita Berbeda Pendapat?”

Judul Buku Asli: Kaifa Nakhtalif

Judul Buku Terjemahan: Bagaimana Kita Berbeda Pendapat?

Penulis: Dr. Salman Al-Audah

Penerjemah: Nabil Abdurrahman, M.A

Penerbit Buku Asli: Muassasah Al-Islam Al-Yaum

Penerbit Buku Terjemahan: Mutiara Publishing

Tebal (Terjemahan): viii + 208 Halaman

Terbitan (Asli): 1433 H

Terbitan (Terjemahan): Pertama, Februari 2014

 

Cerdas Menyikapi Perbedaan

dakwatuna.com – Perbedaan pendapat di tengah-tengah kehidupan manusia adalah suatu hal yang menjadi kepastian. Setiap orang menerima informasi yang berbeda menggunakan potensi pendengaran dan penglihatan yang Allah Swt berikan sebagai bekalan bagi manusia. Setelah itu, akal (pemahaman) akan memberikan respon yang berbeda pula. Bahkan, kalau pun manusia dihadapkan pada satu objek yang sama, penilaian yang dihasilkan bisa berbeda. Maka, bagaimana lagi bila hal yang dijadikan objek penilaian itu berbeda dan berbeda pula masanya?

Di zaman Rasulullah Saw pun para sahabat sudah pernah menunjukkan adanya perbedaan pendapat ini. Hanya saja, sepanjang dasar dari pendapat mereka tidak keliru, maka perbedaan pendapat itu menjadi satu hal yang dimaklumi. Inilah yang terjadi di tengah para sahabat dalam menanggapi pesan Rasulullah, “Janganlah kalian shalat Ashar sebelum sampai di tempat Bani Quraidhah!”

Nah, bila ternyata perbedaan pendapat itu sudah terjadi di saat Rasulullah masih hidup, maka bagaimana lagi yang terjadi di tengah-tengah kita saat ini? Yang tidak lebih sempurna pemahaman agamanya dibanding para sahabat Rasulullah dahulu?

Dr. Salman Al-Audah menjelaskan dengan gamblang di dalam bukunya Kaifa Nakhtalif ini tentang apa-apa saja yang menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat, bentuk-bentuknya, dan bagaimana cara kita menyikapinya. Sungguh, apa yang beliau tuliskan pantaslah menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan sikap. Sebagaimana beliau sendiri mengatakan di akhir bukunya ini, “Ini adalah ajakan tulus untuk mengelola perbedaan, menghindari perdebatan yang mandul, kembali pada dasar-dasar umum dan kemashlahatan bersama, menjaga pesaudaraan dan moralitas, berprasangka baik kepada orang lain dan memilih kata-kata yang digunakan ketika berinteraksi dengan orang lain.”

Saya—secara pribadi—sangat mengapresiasi karya mulia Dr. Salman Al-Audah ini. Sikap beliau  berbeda dengan sebagian ulama’ yang juga menyerukan persatuan, tetapi tetap saja mengutamakan kelompoknya. Beliau mengajak umat Islam untuk bersatu dalam satu nama; Islam. Bukan nama kelompok. Bukan nama golongan. Bukan nama partai.

Selain itu, beliau menguraikan pesan-pesannya dengan perbandingan yang cukup menarik untuk diikuti. Beliau tidak berlepas diri dari sejarah yang terjadi pada masa Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para ulama’ masa akhir-akhir ini. Itu semua menggambarkan bahwa memang perbedaan pendapat ini tidak layak diperselisihkan. Perbedaan ini sifatnya kepastian. Hanya saja, cara kita menyikapinyalah yang perlu dipertanyakan.

Seutama-utamanya sikap adalah mencari persamaan, bukan perbedaan semata. Dalam buku ini, Dr. Salman Al-Audah menjelaskan tentang hal ini dengan bahasa yang sangat baik; halus, lembut, dan nyaman. Beliau dengan tegas membantah orang-orang yang merasa tidak bersalah terus-menerus melakukan perdebatan-perdebatan yang mandul sifatnya. Artinya, perdebatan itu dilakukan bukan untuk mencari kebenaran. Tetapi pembenaran semata. Dampak dari perdebatan-perdebatan seperti ini sangat besar. Ada banyak orang yang baru belajar untuk mengenali Islam, dan mereka bisa-bisa akan merasa bingung menyaksikan perdebatan-perdebatan semacam ini.

Maka, umat Islam harus punya kecakapan dalam mengelola perbedaan pendapat. Orang yang dalam ilmunya akan tergambar dari kebijaksanaan pemikiran, keluhuran akhlaknya, dan kelembutan lisannya. Sebaliknya, orang yang dangkal ilmunya biasanya akan terlihat seperti kereta yang kosong muatannya; berisik! Tetapi tidak membawa manfaat apa-apa.

Menurut saya, ilmu menyikapi perbedaan pendapat ini seharusnya menjadi bekalan wajib bagi setiap muslim. Agar kaum muslimin tidak terjatuh ke dalam lembah keburukan. Agar umat Islam terbebas dari bahaya saling mengkafirkan. Agar umat Islam terbebas dari pertumpahan darah. Padahal yang digaungkan adalah syahadat, takbir dan agama yang sama.

Demikianlah, karya Dr. Salman Al-Audah ini sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan-tujuan di atas. Kiranya, dengan banyaknya kita menggali ilmu pokok dalam agama, serta memiliki kecakapan dan kecerdasan dalam menyikapi perbedaan, terciptalah suasana yang kita dambakan. Suasana di mana umat Islam bersatu menegakkan agama. Meski berbeda pendapat, tetap saja persaudaran mengalahkan kedengkian, kebencian, dan rasa iri.

Ah.., itulah keindahan. Semoga Allah memudahkan ilmu bersarang di dalam benak kaum muslimin. Semoga Allah memberkahi kaum muslimin dalam perbedaan pendapat yang kerap terjadi. Semoga Allah menghindarkan kaum muslimin dari perpecahan disebabkan perbedaan pendapat.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Bagaimana Cara Menggerakkan Jari yang Benar Saat Tasyahud?

Organization