Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Ini Tentang Kita (Refleksi Kebangkitan)

Ini Tentang Kita (Refleksi Kebangkitan)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Hari ini adalah peringatan hari  kebangkitan nasional, sudah seratus tahun lebih dari awal pergerakan pemuda. Namun, bukan cerita terdahulu tentang pergerakan sebelum proklamasi yang ingin saya ceritakan. Bukan pula cerita tentang kabinet Hatta yang memunculkan hari kebangkitan nasional pada hari ini. Tapi ini cerita tentang kita sebagai pewaris bangsa, sebagai mahasiswa dan ini untuk kita seorang muslim berjiwa Islam.

Ini tentang kita, senantiasa berpikir dalam menjalani hari dalam merancang konsep agenda satu sampai agenda lainnya. Namun sepertinya kita kebanyakan konsep dan berkoar koar dari forum satu ke forum satunya lagi dengan orang-orang itulah. Tak bosankah kita dengan rancangan agenda yang itu-itulah. Bukankah kita ini orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Sudah seyogyanya cara rancangan agenda pun sesuai dengan kondisi apa yang kita alami, bukan menjadikan konsep turunan menjadi harga mati tanpa dapat di ganggu gugat. Sepertinya para pendahulu negeri ini lebih merdeka jiwanya, dari pada kita sekarang ini. Terkukung dalam pikiran sendiri, sebelum atau belum di coba konsep yang akan kita jalani.

Ini tentang kita, sepertinya kita terlelap dari tidur panjang yang tak kunjung bangun. Bukan masalah tidurnya, namun cerita pengantar tidur seputar tragedi kemanusiaan yang membuat kita takut untuk bangun. Terlalu takut untuk bangun apabila memunculkan nama Sayyid Quthub untuk membangunkan tidur kita. Sepertinya perjalanan kita tak ada kata akhir, bertualang di alam mimpi dan berputar-putar di situlah. Perasaan was-was dalam organisasi dan akademik sering menjadi hal ke manapun bimbang. Di akademik mikiri organisasi, begitu pun sebaliknya namun perlu di garis bawahi bahwa itulah konsekuensinya. Cobalah kita untuk memahami tentang filosofi dari organisasi, pahamnya kita dengan organisasi ini akan menumbuhkan rasa. Rasa yang tak perlu kata mesra, karena rasa ini tanpa kosa kata.

Ini tentang kita, bukan maksud saya untuk menjadi guru kalian. Bukan, bukan yang seperti itu. Sebenarnya rasa dalam hati saya yang memaksa menuangkannya. Tak bisakah kita mengingat bahwa pemuda desa yang miskin, menjadi sebuah dasar kata dari ideologi pemimpin bangsa kita. Lantas bagaimana dengan kita, masih adakah yang mengganggu pikiran kita dalam berkontribusi di jalan dakwah ini bukankah tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kita bertindak untuk menjadi ini atau menjadi itu. Tak tergiurkah kita, dengan sebuah janji tentang konsekuensi aktivitas dakwah kita. Tak bisakah kita untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, penuh semangat, penuh senyum dan penuh dengan jiwa keimanan.

Ini tentang kita, tentang saya atau tentang kalian entahlah saya tak tahu. Namun ini tentang cerita pemuda yang berada di kampus. Menjadi pilihan antara mengabdi atau menjadi kuli di negeri sendiri. Yah ini sebuah pilihan bukan menjadi paksaan, karena kita hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan itulah adalah gambaran jiwa Islam kita. Namun apakah keikhlasan senantiasa mengumbar untuk di munculkan. Lantas kenapa masalah di internal senantiasa berkutat pada kita. Mungkin kita sudah lupa, bahwa sejujurnya ini hanyalah sebuah sebuah persepsi tentang wadah aktualisasi. Hakikatnya cinta kita kepada Islamlah yang membuat kita bergabung di sini, dakwahlah jalan juang kita, rasa ingin memperbaiki dirilah yang membuat kita di sini.

Ini tentang kita, sebuah kepercayaan yang harus di tanamkan kepada sesama muslim. Bukan rasa iri, dengki atau sombong yang senantiasa di tunjukkan. Lantas masalah apa yang ada di sini. Pada dasarnya ini menjadi refleksi kebangkitan terkhusus bagi mahasiswa muslim yang berada di kampus dan aktif di dunia keorganisasian Islam. Pada akhirnya pun saya percaya kebangkitan dari hati ini akan hadir di setiap jiwa kita untuk berkontribusi dan menyebarkan harum dan indahnya Islam.

Huruf yang tebal adalah transpirasi oleh kredo pertama KAMMI yang berbunyi “Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agung Pratama
Mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Unsri, aktif di KAMMI al-aqsho Unsri di department Kebijakan Publik. Menjadi manusia pembelajar dalam mengarungi dunia kampus, untuk menuai hasil besar.

Lihat Juga

Tadabbur Al-Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 37-40: Kebangkitan Setelah Kematian