Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Munajat  Sang Guru

Munajat  Sang Guru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Teriakan murid-murid membuyarkan lamunannya di pagi itu. Begitu terlihat semangat muridnya untuk mengikuti pelajaran yang akan diajarkan oleh sang guru.

“Ibu guru… Ibu guru..” Teriak  murid-muridnya

“Bu guru nanti masuk ke kelas kami, kan?” Tanya salah satu di antara mereka

“Ya nak.. Setelah usai istirahat, kan?” Jawabnya dengan senyum seadanya

Terlihat senyum dan gerak tubuh murid sang guru menandakan kegembiraan yang benar-benar tulus. Terpancarkan semangat anak negeri yang luar biasa. Hari ini sang guru berkacamata ini masuk mengajar di kelas 3 pada jam ke 4 yakni setelah istirahat usai.

Bu Heni begitu ia dipanggil. Ia adalah salah satu relawan guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa yang  sudah 5 bulan  melaksanakan amanahnya di SD Negeri 5 Maginti Kab. Muna, Sulawesi Tenggara.  Ia mengajarkan pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) untuk kelas 1 sampai kelas 6.

Guru muda yang asal Medan, Sumatera Utara ini selalu penuh semangat dalam mengajar. Bu Heni selalu memberikan senyuman tulus dan kasih sayang kepada muridnya. Mengajar penuh kegembiraan dengan berbagai metode dan kreasi sehingga membuat ia selalu dinanti muridnya.

Namun, ada yang berbeda dengan bu Heni. Semangat yang diperlihatkan murid-muridnya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya dalam beberapa hari ini. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan semangatnya. Down. Itu yang dirasakannya. Walaupun begitu, ia tetap mempersiapkan lesson plan dalam mengajar. Namun hanya sebatas itu. Sedangkan semangat yang selalu dilihat murid-muridnya itu sirna ditelan kegersangan hati.

Pagi itu, ia mengingat semua yang telah dilaluinya hingga berada di tempat ini. Semua kenangan bersama murid-muridnya di Medan. Kemudian muridnya ketika di Bogor hingga kebersamaan selama 5 bulan ini dengan murid-murid SD 5 Maginti. Kenangan itu menyesakkan dadanya saat ia melihat kondisi dirinya sekarang. Tanpa terasa, mata bulatnya berkaca-kaca dan akhirnya terlihat dari balik kacamata itu mengalir butiran-butiran bening yang hangat. Mengaliri pipinya.

Mencari alasan…

Mencari tujuan…

Bahkan mempertanyakan keadaan diri? Mana Heni yang dulu? Mana Semangatmu? Lihat hatimu sekarang wahai Ibu guru?

Ya.. Ibu guru menjadi pelita bagi muridnya. Guru bukan sekedar mengajarkan pengetahuan saja. Guru mengajar dengan hati. Guru memberikan semangat yang terpancar dari dalam dirinya. Jika semangat itu hilang, maka engkau menjadi guru yang gagal.

Jika semangat mulai memudar, jika kelesuan mulai menghampiri, maka periksalah hatimu. Periksalah kedekatanmu dengan Sang Pemilik Hati.

Semua kalimat-kalimat itu tertuang dipikirannya. “Guru GAGAL… Astagfirullah.” Gumamnya. Tangisnya semakin tak tertahankan di sudut ruang perpustakaan itu. Buku-buku yang tersusun rapi menjadi saksi akan kesedihan yang melanda sang guru. Dan akhirnya ia bisa menguasai dirinya dan melaksanakan amanahnya di hari itu.

Namun, hatinya masih kelabu. Heni menumpahkan keluh kesahnya di sepertiga malam. Waktu dimana saatnya bermunajat untuk mengobati hati yang mulai tertutupi dosa-dosa, tanpa ia sadari. Menengedahkan kedua tangan memohon ampun atas segala khilaf dan dosa yang membuat hatinya mulai tertutupi serpihan-serpihan kabut sehingga aktivitas yang tulus dari hati menjadi pudar dan tak terlihat.

Ya Ilahi…

Hamba-Mu bermunajat kepada-Mu

dengan segala harap atas pintaku

mengadu akan kegundahan hati

 

Hamba yang hina

Menengadahkan kedua tangan ini

meminta belas kasihmu

Atas segala khilaf selama ini

 

Hamba-Mu bermunjat sebab tahu

ada yang hamba pertanggungjawabkan kelak

amanah yang hamba jalani saat ini

 

Hamba-Mu bermunajat sebab tahu

Engkau yang membolak-balikkan hati ini

Engkau pemegang segalanya

 

Mungkin hamba lupa memperbaiki niat di setiap waktu yang Engkau berikan

Sehingga semangat untuk memberikan yang terbaik pun mulai memudar

Mungkin hamba terlalu bangga akan kemampuan diri ini

Sehingga ada rasa gundah yang hamba tak tahu mengapa

 

Ya, Ilahi….

mereka adalah titipan-Mu kepadaku

mereka adalah putra-putri bangsa ini

mereka adalah para pembawa negeri ini ke depan

 

Bantu hamba-Mu ini memberikan yang terbaik untuk mereka

Bantu hamba memperbaiki diri dan niat hati

Berikan hamba kekuatan dan kesabaran

dalam memberikan Ilmu yang bersumber dari-Mu

 

Ya, Ilahi…

Hamba-Mu bermunajat sebab tahu

hamba adalah mahluk yang lemah di hadapan-Mu

dan membutuhkan pertolongan senantiasa dari-Mu

 

Ya Ilahi

Dengarkanlah pintaku

Amin..

 

Malam itu, ia seperti bersama Tuhannya. Hanya dia dan Tuhannya. Tangisnya tiada terbendung, memelas dan memohon kepada-Nya. Terlihat begitu ia menyesali akan segala hal yang telah dilakukannya beberapa hari ini kepada murid-muridnya. Pedih terlihat airmata yang terus mengalir hingga azan subuh berkumandang. Dan  ia menyadari waktunya untuk meminta kembali. Memohon belas kasihnya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heni Akhwat Damanik
Relawan Guru Sekolah Guru Indonesia - SGI Dompet Dhuafa Angkatan V. Penempatan Raha, Sulawesi Tenggara. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Muslim Nusantara Al- Washliyah Medan pernah aktif sebagai anggota Pengurus Daerah KAMMI Medan (2012-2013) ,dan menjadi sekertaris umum PK KAMMI UMN (2011-2012). Dan pernah juga aktif di BEM fakultas sebagai bendahara umum (2010-2011) dan BEM universitas (2009-2010) sebagai divisi pemberdayaan perempuan. Berikan apa yang bisa kau perbuat untuk Agama, bangsa dan Negerimu melalui pengabdian yang tiada henti sebagai guru karena menjadi guru adalah investasi dunia akhirat.

Lihat Juga

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan