Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Bila Tak Semua Bunga Wangi

Bila Tak Semua Bunga Wangi

ilustrasi (chamsona)
ilustrasi (chamsona)

dakwatuna.com Kehidupan rumah tangga merupakan sebuah biduk yang penuh pernik-pernik. Surat at-Tahrim menjelaskan salah satu pernik keluarga yang dilalui oleh Rasulullah saw sebagai teladan semua manusia.

Beliau adalah seorang manusia, bukan malaikat. Hal tersebut dimaksudkan agar siapapun bisa meniru sifat-sifat terpuji beliau yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Surat yang turun di Madinah ini menggambarkan sedikit masalah yang terjadi antara Rasulullah saw dan istri-istrinya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah membawa Maria al-Qibthiyah ke rumah Hafshah, dan beristirahat di sana ketika Hafshah sedang tidak berada di rumahnya. Kemudian Hafshah menjumpai Rasulullah berada dalam rumahnya dengan Maria. Hafshah pun cemburu. Maka seketika itu pula Rasul pun mengharamkan Maria untuk diri beliau. Namun, riwayat ini lemah karena beberapa periwayatnya yaitu Abdullah bin Syabib seorang yang kurang kuat hafalannya. Dan Abu Said ar-Rib’iy seorang yang pandai tapi mudah lupa dan terlalu banyak bicara dan bercerita sehingga tercampur-campur riwayatnya. Sebagaimana ditegaskan Abu Ahmad al-Hakim dalam bukunya Mîzân al-`I’tidâl fi Naqdi ar-Rijâl (lihat vol. 4/118).

Adapun sebab turun ayat ini yang shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim juga Abu Daud, Rasulullah dijumpai oleh Aisyah dan Hafshah sepulang dari rumah Zainab binti Jahsy dan mereka berdua menemukan tanda-tanda Rasulullah telah meminum madu dan jamuan yang istimewa di rumah Zaenab, mereka berdua pun cemburu. Untuk menyenangkan istri-istrinya Rasul pun mengharamkan madu. Maka turunlah teguran Allah, “Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (At-Tahrim: 1)

Kemudian tatkala beliau menjelaskan sebuah rahasia tertentu kepada Hafshah. Lalu Hafshah memberitahukannya kepada Aisyah dan mereka berdua sibuk membicarakannya. Turunlah teguran Allah berikutnya, “Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya, “Siapakah yang Telah memberitahukan hal Ini kepadamu?” nabi menjawab, “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (At-Tahrim: 3-5)

Adalah sebuah keistimewaan dan kebanggaan berada di dekat Rasulullah, berada di tengah-tengah kehidupan Rasulullah. Apalagi dengan status sebagai ahli baitnya. Menjadi orang pertama yang dekat dengan sumber turunnya hukum dari Allah. Namun, keistimewaan ini tak lantas membuat ahli bait Rasulullah kebal hukum dan bebas melakukan apa saja. Karena agama Islam, risalah yang dibawa Rasulullah tak mengenal kasta. Siapa pun yang baik dihargai kebaikannya dan yang salah harus di hukum atau setidaknya ditegur.

Teguran pertama yang diperuntukkan Rasulullah adalah sebuah teguran yang tegas. Apakah demi menyenangkan para istri, beliau bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. Sekaligus sebagai contoh untuk para umatnya, terutama dalam mengarungi kehidupan keluarga. Tak jarang demi menyenangkan hati istri seorang suami melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Dalam ayat ini, Rasul tidaklah melakukan maksiat atau melanggar larangannya, tapi beliau menahan dari sesuatu yang dibolehkan. Itu saja sudah mendapat teguran. Apalagi jika seandainya yang dilakukan adalah maksiat. Maka yang perlu diambil pelajaran adalah penyikapan terhadap perilaku istri yang kadang memiliki kecemburuan yang berlebihan, bahkan tak jarang sangat tidak beralasan. Penyelesaian yang baik bukanlah asal istri senang. Namun, perlu diperhatikan apakah melanggar norma agama selain tentunya dicari akar permasalahan yang sesungguhnya. Dan kemudian dibicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin. Bahwa permasalahan cemburu juga tak jauh berbeda dengan permasalahan salah paham antara pasangan suami istri dalam berkomunikasi. Kecuali jika memang benar suami telah benar-benar melanggar hak-hak istri. Bukan sekadar praduga atau prasangka, karena kita diminta untuk menjauhi keduanya.

Cerita dan pernik ini sebenarnya hanya sebuah mukadimah dari sebuah pesan inti yang sangat penting yang akan disampaikan Allah pada ayat berikutnya, ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6). Setiap kita diminta untuk menjaga diri dari terjerumus pada perbuatan yang bisa menyeret kita kepada neraka Allah yang penuh dengan azab yang mengerikan. Tanggung jawab ini yang paling pertama ditujukan kepada setiap kepala rumah tangga. Seorang laki-laki sejak mengucapkan ijab qabul maka tanggung jawab terhadap perempuan yang dinikahinya tak lagi berada di bawah bapaknya. Namun, pindah kepada dirinya selaku suaminya. Dan kelak jika punya anak laki-laki sampai mereka mencapai usia baligh dan perempuan sampai kelak mendapatkan pasangan hidupnya.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan mendidik orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Mendidik dengan mengenalkan mereka pada ajaran agama yang benar. Hal ini memang tidak ringan. Apalagi tanggung jawab dan kewajiban mencari nafkah juga dibebankan kepada laki-laki. Namun hal ini masih lebih baik baginya sebelum kelak ia menyesal sebagaimana orang-orang kafir menyesal di akhirat karena berbagai alasan mereka takkan pernah terampuni. Penyesalan yang demikian nantinya tidaklah berguna, “Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu Hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.” (at-Tahrim: 7)

Namun, kemuliaan Allah sangat luas. Kasih sayangnya selalu terbentang bagi hamba-hamba-Nya. Karena di setiap usaha manusia senantiasa ada kekhilafan dan kesalahan. Karena itulah Dia menyuruh para hamba-Nya untuk mengetuk pintu tobat-Nya yang selalu terbuka kapan saja. “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (At-Tahrim: 8)

Surat yang cukup pendek ini ditutup dengan penuturan dua buah perumpamaan yang bertolak belakang. Yaitu perumpamaan perempuan yang buruk akhlaqnya serta tak tau bersyukur pada Allah dan suaminya. Mereka yang mendurhakai suaminya serta memusuhinya.

Dan perumpamaan perempuan yang mulia serta sabar da berpegang teguh terhadap ajaran agama Allah meskipun badai fitnah menerpa mereka, bahkan sampai siksaan fisik.

Allah memulainya dengan menuturkan kisah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke dalam Jahanam bersama orang-orang yang masuk (jahanam)”.”(At-Tahrim: 10)

Tak ada jaminan berada di tengah-tengah orang baik untuk menjadi baik, bila tak disertai keinginan baik dan kesungguhan memelihara kebiasaan baik. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth lah contohnya. Keberadaan mereka di tengah Nabi Allah tak menjadikan mereka berdua bersyukur dengan keadaan serta keistimewaan itu. Justru sebaliknya, mendustakan, mendurhakai bahkan memusuhi dakwah suami. Sekalipun suami mereka nabi takkan ada jaminan mereka bisa terbebas dan terlindungi dari siksa Allah yang maha pedih dan dahsyat.

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Asiah istri Firaun yang hidup di tengah kebengisan suaminya. Di tengah perilaku jahiliah kaumnya. Di tengah berbagai kebiasaan buruk suasana istana yang juga tempatnya berada. Namun, hal tersebut tak menjadikannya menyerah untuk mempertahankan iman. Bahkan menjadi sebuah motivasi yang kuat untuk membantu dakwah Nabi Musa as. Meskipun akhirnya harus berhadapan dengan kekejaman suaminya sendiri, Firaun; simbol dan icon thaghut yang terabadikan sepanjang masa. Beliau pun menemui Allah dalam keadaan syahid setelah disiksa Firaun. “Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (at-Tahrim: 11). Sekalipun ia bersuamikan seorang yang sangat durhaka pada Allah, hal tersebut tak membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan syurga Allah.

Selanjutnya surat ini ditutup dengan sebuah perumpamaan yang ideal bagi kaum beriman. Seorang perempuan yang lahir, hidup dan dewasa di tengah keluarga yang menjaga norma-norma agama, di tengah masyarakat yang sudah acuh dengan aturan dari Allah. Sehingga pada saat beliau menginjak dewasa siap dengan berbagai resiko berpegang teguh dengan ajaran Allah. Bahkan tatkala harus siap menghadapi cobaan yang berat menjadi seorang ibu tanpa seorang suami pun. Seorang ibu bagi orang yang ditunggu umatnya. Ibu bagi Isa al-Masih, utusan Allah untuk Bani Israel. Maryam yang suci dan senantiasa memelihara kesuciannya. Sepatutnyalah hal tersebut dicontoh dan ditiru oleh para perempuan sekarang. Juga bagi para ibu dan bapak dalam mendidik anak-anaknya terutama anak perempuan. Allah pun menegaskannya, “Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.“(At-Tahrim: 12). Keteguhan menjalankan ajaran, kesabaran dalam memikul cobaan Allah, menerima cercaan dan fitnah kaumnya serta kelembutannya membesarkan dan mengasuh anak satu-satunya sekaligus memotivasinya untuk berdakwah. Hal tersebut membuat nama Maryam tersemat sebagai salah satu wanita pilihan terbaik. Allah menegaskannya, “Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).“(Ali Imran: 42)

Setelah keluarga ayahnya disejajarkan dengan deretan nama nabi-nabi-Nya, “Sesungguhnya Allah Telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (Ali Imran: 33)

Berbahagialah orang-orang pilihan itu. Berbahagialah keluarga-keluarga pilihan yang dijadikan sampel dan teladan bagi umat-umat yang datang setelahnya.

Setelah nasihat yang Allah berikan ini semoga kita semua bisa mengambil ibrah dan pelajaran dengan baik. Sehingga hari-hari kita ke depan semakin penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Amin.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 6,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Saiful Bahri, MA
Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran, Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Ketua PPMI Mesir, 2002-2003. Wakil Ketua Komisi Seni Budaya Islam MUI Pusat (2011-Sekarang). Ketua Asia Pacific Community for Palestine, di Jakarta (2011-Sekarang). Dosen Sekolah Tinggi Idad Muallimin An-Nuaimy, Jakarta (2011-Sekarang), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) (2013-Sekarang), Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta (2011-2013)

Lihat Juga

Kritik Terhadap Studi Al-Quran Hadits Fazlur Rahman