Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pegang Teguhlah Jalanmu

Pegang Teguhlah Jalanmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (favim.com)
Ilustrasi. (favim.com)

dakwatuna.com Berjalan di jalan ini, akan tetapi jalan ini yang harusnya terus maju kini mulai melengkung dengan tujuan apapun itu. Langit siang memang akan terus berwarna biru dihiasi oleh awan-awan yang tak tentu mereka mau ke mana. sedikit demi sedikit awan tersebut akan berpindah dan di saat berpindah itulah mereka mungkin saja akan bercerai berai ataupun membentuk suatu kesatuan yang utuh.

Menilai apa yang telah terjadi saat ini memang amanah yang biasanya kita emban dalam jamaah ini bukanlah kehendak kita sendiri melainkan amanah yang kemudian datang tiba-tiba dan mau tidak mau harus kita pikul dalam sebuah kesatuan bersama jamaah. Sisi lainnya dalam diri kita memang menginginkan suatu amanah yang akan tetapi menjadi persoalan jika kita belum siap menghadapinya. Kita yang berada di dalam jamaah ini memang tidak akan ada yang siap untuk mengemban suatu amanah akan tetapi baiknya pula ketika amanah itu datang seperti tamu yang datang ke rumah ada baiknya pula kita sambut dengan ramah walaupun tamu tersebut tidak kita kehendaki dan begitupun dengan amanah seberat apapun amanah mau tidak mau harus kita sambut dengan ikhlas.

Komitmen terhadap amanah barangkali memang menjadi suatu persoalan di mana komitmen tersebut digeser oleh kepentingan-kepentingan yang barangkali bukan menjadi suatu konsep utama dalam jamaah tersebut. Akan tetapi kepentingan-kepentingan tersebut merupakan suatu cara tersendiri dalam usaha memperjuangkan jalan yang telah dibuat, di mana cara yang harusnya hanya menjadi cara kian kemari lebih condong di jadikan jalan eksistensi semata atau hanya menjadi angin yang lewat. Jalan yang memang sudah seharusnya kita lalui setelah kita benar-benar berkomitmen dengan amanah tersebut.

Bukan tidak baik pula jika amanah tersebut untuk mencari kepentingan tapi yang lebih baik pulalah kepentingan tersebut untuk jamaah yang benar-benar berkomitmen dengan jalan ini. Sekali lagi komitmen yang memang benar-benar diperlukan dalam amanah mengesampingkan egoisme individual saja. Mungkin di bawah ini merupakan suatu keinginan kita yang benar-benar berkomitmen dalam jalan ini.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa dalam taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan
keindahan bertawakkal kepada-Mu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat pada-Mu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Riski Ferli
Pemuda Kelahiran Kab, Muara Enim November 1994. Menempuh Studi di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Menulis kisah diatas lembaran-lembaran kehidupan yang selalu mengharapkan ridha Allah Swt. #FastabiqulKhairat

Lihat Juga

Kusmanto, Mutiara dari Timur Indonesia yang Memaknai Amanah dan Jabatan sebagai Jalan untuk Pengabdian