Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Menjadi “Biang” Perubahan

Menjadi “Biang” Perubahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Riak-riak gemuruh teriakan berkobar siang ini di depan kantor sebuah perguruan tinggi. embel-embel bendera, spanduk yang berisikan tuntutan mahasiswa terhadap pemegang kendali di perguruan tinggi itu. Orator-orator mulai berbicara panjang lebar di atas mimbar tuntutan, menyerukan tuntutan terhadap ketidakadilan birokrasi-birokrasi yang bukannya mempermudah memperoleh pendidikan melainkan seperti jalan-jalan yang bergelombang dan berlubang di mana seharusnya sudah sampai tujuan dalam waktu 30 menit akan tetapi mundur sampai 1 jam. Akhir kata-kata tuntutan berakhir di tanda titik yang kemudian Mahasiswa membubarkan diri dengan tertib.

Sepenggal momen aksi dari kisah mahasiswa-mahasiswa yang menyerukan tuntutan keadilan. Banyak yang beranggapan “untuk apa mahasiswa capek-capek berkoar-koar (berorasi) panjang lebar tapi toh akhirnya tidak ada yang mendengarkan termasuk juga pihak birokrasi”, akan tetapi ketahuilah kawan-kawan seperjuangan aksi yang kita lakukan bukan untuk mencari kebanggaan ataupun untuk mencari ketenaran di depan Mahasiswa lain akan tetapi mencari keadilan dari putusan birokrasi yang ada. Karena peranan inilah jika peran kita berubah yang seharusnya menjadi agent of change  menjadi Mahasiswa “Kupu-kupu” yang tak tahu ataupun tak mau tahu tentang problematika yang ada baik itu dalam tataran kampus ataupun dalam cakupan yang lebih luas, maka sia-sialah peranan Mahasiswa tersebut menjadi seberkas debu yang hilang ditiup oleh angin.

Peranan kita yang sering dikatakan agent of change inilah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan umat. Kita belum harus terjun di lapangan yang sebenarnya akan tetapi di dalam cakupan kita saja (kampus) kita harus dapat mengoptimalkan peranan-peranan penting sebagai Mahasiswa. Aksi unjuk rasa hanyalah sebagian potongan-potongan kecil dari bentuk perubahan besar yang akan kita lakukan di dalam kampus karena potongan-potongan lainnya telah menunggu untuk kita gabungkan menjadi potongan besar yang utuh. Kemudian potongan tersebut kita jadikan bentuk perubahan yang sebenarnya.

Gambaran kita sebagai Mahasiswa di kampus boleh jadi adalah gambaran untuk bangsa dan negara kita ke depannya. Ketika kita masih mementingkan diri sendiri di dalam kampus yang kemudian berujung ketika kita hanya mementingkan diri sendiri ketimbang urusan bangsa dan negara. Akankah bangsa kita akan memperoleh perubahan yang kita idam-idamkan sebagai generasi muda saat ini jika hanya memberikan potongan kecil tanpa memberikan potongan-potongan lainnya yang lebih berharga. Kembali kepada kita sebagai Mahasiswa sebagai agent of change dan generasi muda bangsa untuk menjadi “biang” perubahan bagi bangsa dan negara dimulai dari kampus kecil tercinta. Keep Hamasah dan Hidup Mahasiswa!!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Riski Ferli
Pemuda Kelahiran Kab, Muara Enim November 1994. Menempuh Studi di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Menulis kisah diatas lembaran-lembaran kehidupan yang selalu mengharapkan ridha Allah Swt. #FastabiqulKhairat

Lihat Juga

Peduli Muslim Aleppo, Mahasiswa dan Ormas Islam Yogyakarta Gelar Tabligh Akbar serta Aksi Penggalangan Dana