Home / Pemuda / Essay / Mari ‘Berbeda’

Mari ‘Berbeda’

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Berbeda. Kesan yang selalu ingin ditampilkan siapa saja. Menjadi berbeda pada zaman sekarang sepertinya sedang populer. Yup! Dengan berbeda banyak alasan yang bisa dikemukakan. Kita menjadi terkenal, diperhatikan banyak orang, ditanggapi setiap tindak-tanduk, menjadi bahan pembicaraan, dan lain sebagainya.

Tapi lihatlah, ternyata trend ‘berbeda’ benar-benar telah mengubah banyak mindset generasi muda pertiwi ini. Mereka ingin berbeda, karena itu mereka ikutan geng motor, berkelana kesana-kemari, urusan masa depan dan cita-cita dikesampingkan saja dulu. Urusan ibadah? Jangan tanya. Alasan yang dikemukakan selalu saja klasik. Yakni, ibadah bisa dimana saja, kok.

Mereka ingin berbeda, maka mereka ikutin semua gaya artis luar negri. Jangan tanya uang yang dihabiskan untuk operasi plastik. Toh artis luar sana yang mereka gemari juga operasi plastik. Untuk jadi yang beda, maka rugi dong kalau nggak ikut operasi plastik?.

Mereka ingin sekali berbeda. Maka mereka habiskan waktu seharian di depan komputer. Sibuk update status, komen, menanti like dan sebagainya di facebook. Sibuk mention sana mention sini. Hitung-hitung jumlah followers. Tugas kuliah? Ah, nanti saja. Waktukan masih panjang.

Mereka ingin berbeda. Maka kemana-mana, mau diajak mojok. Pegang sana, raba sini. Kayak gorengan gratis saja. Kalau nggak punya gandengan, maka akan dapat ledekan. Anak SMA kok nggak pacaran? Rugi lho, udah kuliah kok masih jomblo? Kasihan amat deh. Udah kerja kok masih nggak punya gandengan? Mau jadi apa nanti?

Benar-benar berbeda yang menakjubkan, bukan? Cocok sekali dengan apa yang setan inginkan. Tapi coba lihat, jika ada pemuda yang tekun, sopan, rajin ibadahnya, maka dia langsung saja jadi sasaran empuk sebagai tuduhan terhadap tindakan teroris. Coba saja ada gadis yang kemana-mana menutup aurat, menjaga pandangannya, berbicara yang penting-penting saja, maka dia langsung ditertawakan sebagai gadis kurang gaul. Tak memikat dan lain sebagainya.

Kelihatannya bukan hal aneh lagi jika zaman sekarang banyak orang tua yang bangga ketika anak mereka membawa pacar malam minggu di rumah. Banyak remaja merasa bangga jika sudah pernah mencoba merokok dan menonton film porno. Dan tambah miris lagi dengan pembagian kondom gratis tanpa sasaran yang jelas oleh beberapa pihak ataupun instansi terkait dengan tameng untuk memperkecil penyebaran HIV/AIDS. Namun, jika pembagiannya tanpa sasaran yang jelas, artinya siapa saja laki-laki yang sudah cukup umur bisa dapat, maka ini membuka peluang untuk melegalkan hubungan seks bebas. Aneh, kan? Untuk jadi berbeda banyak sekali orang yang memilih jalan aneh.

Maka tulisan ini dibuat bukanlah untuk orang yang secara berbeda ingin menjadi aneh. Tapi teruntuk orang-orang yang secara berbeda ingin tumbuh jadi pribadi yang bermakna, paham terhadap diri, dan bermanfaat bagi sekitar.

Berbeda tak mesti menuruti gaya yang sedang hangat-hangatnya. Untuk berbeda, maka perkara terkecil yang dapat dilakukan adalah lakukan apa saja yang sepatut dan sewajarnya harus dilakukan. Sesuaikan norma agama, masyarakat, atau bahkan negara. Itu tidak sulit. Karena jelas, melakukan hal yang sepatutnya dilakukan itu dimulai dari diri sendiri. Tak perlulah dulu kita menggurui orang lain kalau saja kita sendiri masih butuh berguru. Tak perlulah kita berdiri di barisan paling depan berkoar ini-itu sementara hati, iman dan akal kita masih kosong.

“Berbeda” berarti “berbenah dari diri kita”. Jangan malu untuk bertanya dan meluruskan niat. Tidak ada orang yang akan menertawakan orang yang telah memeluk erat jalan kebaikan. Belajar. Terus belajar. Pahami, lalu laksanakan. Mudah, bukan? Tentu saja mudah. Bahkan tak perlulah keluar banyak biaya seperti operasi plastik. Tak perlulah sakit karena panas-panasan seperti ikut konvoi dengan geng motor.

Kebaikan tak menuntut harga mahal. Tapi kebaikan akan menuntut cinta dan kesetiaan kita. Jika berlandaskan cinta maka melaksanakannya akan terasa ringan.

Tunggu apa lagi? Ayo berbenah diri. Pendidikan menuju kebaikan itu tak pernah berbatas. Dia adalah sebuah perjalanan panjang layaknya long live education. Sampai kapan kita benar-benar yakin telah menguasai segalanya? Tidak tahu pastinya, bukan? Makanya, tugas kita hanya berbenah, belajar, dan berbenah lagi. Berarti untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk sekitar.

Selamat mencoba dan selamat jadi yang “berbeda”.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.
  • asm_ganteng

    ijin copy di blog ya kk :)

Lihat Juga

Syaikh Salman Al-Ouda: Sedih, Ada Muslim Berhati Zionis