Home / Berita / Opini / Krisis Keteladanan

Krisis Keteladanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com – Indonesia dan beberapa negara Asia Tengara pernah mengalami krisis moneter (krismon) yang mencapai puncaknya pada tahun 1997. Dampak dari krisis ini  sangat terasa  pada perekonomian Indonesia. Fondasi ekonomi yang dibangun selama ini hancur berkeping-keping  dengan melejitnya harga tukar dolar dan terjungkalnya nilai rupiah. Harga bahan pokok melambung tinggi sementara daya beli masyarakat melemah karena melemahnya nilai uang yang mereka miliki. Yang sangat merasakan dampak krisis ini adalah rakyat biasa dengan penghasilan di bawah rata-rata. Hal ini juga berpengaruh pada stabilitas negara dengan banyaknya demonstrasi yang menuntut pemerintah bertanggungjawab atas krisis ini. Akhirnya, pemerintahan orde baru tumbang dan reformasi tumbuh seraya melanjutkan.

17 tahun lebih reformasi sudah berlalu. Namun dampak krisis itu masih terasa. Bahkan tahun kemarin,  nilai tukar dolar merangkak naik dan menyebabkan harga BBM “terpaksa” dinaikan lagi. Analisis pengamat ekonomi, “Kondisi ini akan berlangsung lama dan rakyat harus bersiap terus menghadapi dan “menikmati”  krisis ini agar tidak mengalami stress .” Inilah pilihan yang tepat bagi rakyat  kecil agar mereka bisa bertahan dan mempertahankan hidup dari gempuran krisis yang menghadang dan menghalang.

Bagaimana dengan krisis keteladanan? Hal ini dampaknya lebih dahsyat lagi dari krisis moneter karena akan merusak fondasi moral bangsa. Nilai keteladanan mengalami krisis  (hilang atau sulit) ditemukan di negeri ini (seperti barang langka saja). Pemimpin yang seharusnya memberikan keteladanan kebaikan pada rakyatnya justru melakukan tindakan yang berseberangan dengan keteladan itu. Gaya hidup  yang mewah dan kurang peduli dengan penderitaan rakyat merupakan warna kehidupan banyak pemimpin kita. Nilai moral, kejujuran dan kebenaran tidak lagi menjadi landasan bagi mereka dalam menentukan kebijakan negara.

Dalam dunia hukum, krisisnya lebih parah lagi. Penegak hukum sebagai benteng keadilan justru malah merusak kebenaran dan kekuatan hukum. Ketidakadilan dalam penegakan hukum terlihat jelas dan sering diberitakan melalui media. Tindak korupsi dan penyuapan sudah merupakan tradisi jahat yang masih tetap dipertahankan sehingga kita juga mendengar betapa banyak para hakim, jaksa dan pengacara yang tertangkap tangan menerima uang suap dan kini berurusan dengan hukum itu sendiri. Dan yang tidak tertangkap tentu lebih banyak lagi.

Keadilan hukum sangat mahal di negeri ini. Rakyat jelata yang melakukan kesalahan atau dosa “ringan”, ditanggapi sigap oleh  pendekar hukum. Berbagai jurus lihai mereka gunakan sehingga dengan mudah dan dalam waktu singkat, hakim dapat menjatuhkan  vonis hukum  dengan bangga pada orang-orang yang tak berdaya. Kita masih ingat, dengan kasus seorang nenek yang hanya mengambil  atau “terpaksa” mencuri beberapa buah kakau dijatuhi hukuman yang tidak manusiawi.

Bagaimana para penguasa atau pengusaha yang terbelit masalah? Perlakuan hukum padanya sangat luar biasa. Mereka datang ke KPK atau ke Jaksa ibarat orang yang  tak bersalah dengan tampilan penuh pesona disambut oleh kamera seperti pahlawan saja. Berbagai strategi dilakukan dengan harapan agar hukumannya ringan bahkan kalau bisa bebas tanpa syarat. Maka berbagai informasi yang tidak sedap kita dengar melalui media massa tentang adanya kongkalikong antara orang yang tersangkut perkara plus pengacara dengan oknum pejabat penegak hukum.

Semoga akrobatik yang tidak indah ini segera berlalu dengan hadirnya penegak hukum yang adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara hukum. Karena pertanggungjawaban tugas ini sangat berat dan langsung pada yang Maha Adil  di atas. Surga dan neraka sudah berbenah untuk menunggu kedatangan para penegak hukum. Memilih surga atau neraka? Pilihan bebas ada pada pengacara, jaksa dan hakim. Selamat bekerja, semoga Allah Swt melindungi penegak hukum yang bertaqwa.

Dalam dunia pendidikan juga tidak jauh berbeda -keteladan yang seharusnya ada justru tidak nampak jelas dalam dunia nyata. Apalagi kebijakan  pendidikan dipengaruhi oleh politik dan ekonomi (bisnis). Maka nilai teladan tidak lagi menjadi panglima dalam melaksanakan tugas itu. Hal ini juga berpengaruh pada para guru. Memang ada guru yang telah berusaha menjalankan perannya dengan baik sebagai guru teladan bagi anak didiknya. Namun jumlahnya sangat terbatas. Banyak guru hanya sekedar melaksanakan tugas. Menyampaikan ilmu tanpa memerhatikan nilai moral anak didik atau ada guru yang tak berdaya karena keterbatasan yang mereka miliki. Tanpa disadari, anak didik kehilangan kompas dan figur yang jelas dalam menapaki cita-cita mereka.

Semua kita prihatin melihat kondisi anak didik  (terutama usia remaja) saat ini. Mereka cenderung menjadikan bintang film layar perak, artis sinetron dan bintang lapangan sebagai idola dan model hidupnya. Mulai artis Bollywood  yang tenar sampai artis Hollywood yang bersinar, bintang muda Indonesia berbakat sampai bintang muda Korea yang memikat. Mulai jago lapangan Indonesia bernama Andik Vermansyah yang kecil tapi lincah sampai pada bintang lapangan dunia yang bayarannya mahal seperti Lionel Messi yang sering menghiasi pemberitaan olahraga dan dunia hiburan. Mereka ini mengisi pikiran dan hati anak didik sehingga apa yang mereka perankan mulai dari gaya hidup, pergaulan bebas dan kesukaannya dijadikan model kehidupan anak didik.

Demikianlah dahsyatnya pengaruh krisis multi dimensi. Krisis keteladan plus krisis nilai  melilit Negeri ini sehingga berbagai masalah dan musibah datang mendera tanpa ada solusi nyata. Pantaslah negeri yang jumlah penduduknya rangking lima dunia ini dijuluki sebagai  “Negeri Seribu Masalah”. Negeri yang kaya namun rakyat menderita. Negeri yang merdeka tapi tak berdaya dan negeri yang hebat karena pemimpin suka berdebat. Apabila tidak segera diselamatkan, maka negeri ini akan hilang dalam peta dunia dan harapan kejayaan negeri ini  hanya dalam impian  dan kenangan semata.

Terobosan besar harus dilakukan melalui pembenahan pada sistem dan manajemen pendidikan. Karena dari sinilah akar masalah selama ini. Pendidikan kita belum mampu menghasilkan anak didik yang berkualitas. Baik keimanan atau penguasaan teknologinya.  Belum mampu menghasilkan anak didik yang cerdas intelektual dan cerdas secara emosional-spiritual atau anak didik yang memiliki akhlak mulia dan semangat cinta tanah air yang membara.

Sesungguhnya, pemimipin hari ini adalah hasil produk pendidikan masa silam. Agar masa depan negeri ini lebih cemerlang, maka siapkanlah pemimpin yang baik dan benar melalui pendidikan yang baik dan benar juga. Kita berharap perubahan kurikulum tidak hanya sebatas berubah nama. Namun esensi dan tujuan perubahan itu tampak dalam dunia nyata yang dapat menghasilkan sesuatu yang berharga dalam memperbaiki negeri tercinta .

Keseriusan Negara dalam mencetak guru melalui lembaga pendidikan dan seleksi yang ketat dalam penempatan seseorang menjadi guru merupakan sesuatu yang harus menjadi perhatian serius disamping juga meningkatkan kesejahteraan guru. Negara harus memberi motivasi dan sugesti yang besar pada guru  untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya berupa pelatihan, seminar dan studi banding ke daerah atau Negara yang sukses pendidikannya. Agar mereka professional dalam bekerja dan dapat tampil sebagai idola bagi anak didiknya. Dengan demikian, negeri ini akan maju seperti negeri jiran  yang sebelumnya justru belajar pada negeri ini.

Guru Harus Berbenah

Guru harus segera berbenah. Ya, membenahi dirinya agar bisa berubah. Membetulkan niatnya, memperbaiki kesalahannya, menguatkan motivasinya dan menapaki jalan ini penuh dedikasi yang indah. Kenapa demikian? Karena  harapan besar ada di pundak para guru profesional. Guru berperan sebagai  “juru selamat” yang bertugas  menyelamatkan negeri ini. Menyelamatkan  anak negeri untuk mengisi hari-hari yang berarti bagi persada negeri ini. Anak didik hari ini adalah pemimpin masa depan. Disinilah peran guru sangat signifikan dalam mempersiapkan anak didik untuk menjadi pemimpin masa depan yang mempunyai karakter yang mulia.

Oleh karena itu, guru harus dapat mengambil peran ini secara maksimal, menjalankan tugas ini dengan sepenuh hati, menjadikan profesi ini sebagai bentuk cinta negeri, berjuang melanjutkan cita-cita para pahlawan sebelum ini. Guru harus tampil dengan sebaik mungkin di hadapan anak didiknya sebagai lentera di malam hari dan sebagai penuntun di siang hari. Guru harus mampu menjadikan dirinya sebagai teladan bagi anak didiknya dan idola utama dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, kita berharap di masa yang akan datang akan lahir pemimpin yang baik dalam mengatasi krisis panjang negeri ini. Selamat berbenah dan bekerja untuk mendapatkan hasil yang membanggakan sebagai seorang guru yang luar biasa. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Ruang Lingkup Audit Syariah di Negara Berkembang