Home / Berita / Opini / Benarkah Ikhwanul Muslimin Menolak Jihad?

Benarkah Ikhwanul Muslimin Menolak Jihad?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Lambang gerakan Ikhwanul Muslimin (islammemo)
Lambang gerakan Ikhwanul Muslimin (islammemo)

dakwatuna.com – Sebagai salah satu jamaah dakwah yang berkomitmen menegakkan kalimat tauhid, Ikhwanul Muslimin (IM) terus berusaha melebarkan sayap dakwahnya hingga ke seluruh pelosok dunia. Tak dipungkiri, jamaah ini terus berkembang hingga menjadi salah satu kelompok Islam terbesar di dunia. Pergerakannya yang syumul dan komprehensif dengan memasuki ranah dakwah politik, perekonomian, pendidikan, dan sosial budaya telah membuat jamaah bentukan imam as-Syahid Hasan Al-Banna ini mudah diterima oleh banyak kalangan. Mulai dari rakyat jelata hingga elit pejabat Negara sekalipun.

Keseluruhan ladang dakwah yang menjadi garapan Ikhwan itu bukannya tanpa celah untuk menjadikannya bahan olokan dan cibiran oleh kelompok lain. Bahkan dari kalangan islamis sendiri, tak sedikit yang mengoloknya. Misalnya, dakwah IM dianggap terlalu toleran dan ‘pro’ Barat, perjuangan dakwah melalui  parlemen dan demokrasi adalah ijtihad-ijtihad IM yang telah menyulut banyak kontroversi di kalangan ulama-ulama. Tak sedikit cibiran, cemoohan dan ejekan tertuju pada jamaah ini. Hanya karena IM terlibat dalam sistem demokrasi tanpa melihat jerih payah lain yang telah dilakukan oleh IM.

Sindiran acapkali datang dari ulama-ulama dan aktivis anti-demokrasi. Khususnya dari ulama dan aktivis Jihady. Mereka mempertanyakan ijtihad IM yang tidak mau berjuang lewat jalan jihad sebagaimana jalan yang telah dituntunkan oleh Rasul Muhammad Saw. Bahkan, tidak sedikit yang melabeli jamaah IM sebagai pendukung thagut dan sudah masuk kategori jamaah kuffur karena tidak menggunakan hukum Allah sebagai pedoman hidup. Mereka menganggap IM  sudah melenceng dari manhaj Rasul Saw. Mereka menyebut IM sebagai jamaah oprtunis karena sering “cari aman” dan “enggan” melaksankan jihad qital. Intinya, mereka mempertanyakan konsistensi dan komitmen IM terhadap syariat jihad yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana telah dituliskan dalam kitab suci al-Quranul Karim.

Dari sini, menarik untuk dicermati: Benarkah Ikhwanul Muslimin menolak jihad dan lebih menyukai demokrasi?

Tak kenal maka tak tahu. Sebelum memberikan justifikasi ini itu kepada IM, mari kita kenali seluk-beluk jamaah ini dari para penggagasnya. Dalam kitab Majmuaturrasail jilid 2 karangan imam as-Syahid Hasan al-Banna telah disebutkan terkait syariat jihad. Bahwa jamaah IM haruslah  memegang teguh syariat jihad. Jihad sebagai mutiara berharga yang hilang di tengah-tengah umat Islam, maka umat harus menjaganya. Karena esensi jihad yang sebenarnya adalah ujung tombak penggerak bagi kejayaan dan izzah Islam wal Muslimin. Hal inilah yang membuat Imam Hasan al-Banna menyoroti dan menyadarkan ummat terhadap pentingnya makna risalah jihad dan kewajiban atasnya berdasarkan kitabullah dan hadist-hadist shahih disertai pendapat para Ahli Fiqih.

Selain itu, Syaikh Fathi Yakan, salah satu aktivis IM dalam kitabnya Nahwa Wa’yin Harakiyyin Islami Abjadiyyatut Tashawwur al-Haraki lil Amalil Islami (Prinsip-Prinsip Gerakan Islam), pada prinsip yang kelima beliau mengatakan bahwa tarbiyah jihadiyah atau pendidikan jihad adalah satu elemen penting dalam gerakan Islam. Beliau memahami betul bahwa persepsi perjuangan jihad ini banyak dipahami berbeda-beda oleh setiap kelompok Islam. Ada kelompok yang menolak cara jihad secara keseluruhan. Mereka merasa cukup dengan perjuangan yang lebih rendah dari jihad secara fisik, semisal jihad melawan hawa nafsu, mencari nafkah, amar makruf nahi munkar, tanpa memikirkan sama sekali untuk jihad menggunakan senjata dalam mengubah tatanan masyarakat dan mewujudkan revolusi Islam. Ada juga kelompok Islam yang tidak mau kompromi dengan segala bentuk kerusakan. Satu-satunya jalan meraih kemenangan adalah dengan jihad qital atau jihad senjata. Ada juga  jamaah yang menganggap jihad qital hanya dapat dilakukan ketika syarat-syarat untuk melakukan jihad tersebut telah terpenuhi, misalnya ketika musuhnya jelas adalah orang-orang kuffar yang memerangi agama.

Pada prinsipnya, Syaikh Fathi Yakan telah menanamkan agar dirinya dan kaum muslimin untuk tetap teguh memegang jalan jihad sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna dalam Majmuatur Rasail.

Setelah kita paham akan kandungan ajaran dan tokoh IM, sekarang kita buktikan apakah benar IM enggan melaksanakan jihad qital sebagaimana yang dituduhkan? Tentu, kita ingat dengan perang Afghanistan. Perang besar yang melibatkan berbagai kekuatan besar dunia. Yaitu Uni Soviet, Amerika, dan Umat Islam. Perang Afghanistan ini sejatinya sudah dimulai sejak era tahun 1970-an. Ketika itu, Uni Soviet melakukan invasi atas Negara Afghanistan untuk menguasai minyak dan sumber daya alam agar tetap mempertahankan hegemoninya sebagai salah satu Negara adikuasa di dunia selain Amerika.

Para ulama saat itu, termasuk Syaikh Bin Baz di Saudi menyerukan fatwa wajibnya Jihad fi Sabilillah membela kaum muslimin di Afghanistan. Pasukan jamaah jihad di Afghanistan mencapai puncaknya setelah Sayyid Quthb yang merupakan pembesar IM di Mesir menulis kitabnya yang berjudul Ma’alim fi al-Tariq (Petunjuk Sepanjang Jalan) dari bilik penjara. Buku Sayyid Qutub ini telah mengisnpirasi jamaah jihadi dan kaum muslimin secara besar-besaran untuk berduyun-duyun berangkat ke Afhganistan guna melaksanakan syariat jihad membela kaum muslimin yang tertindas.

Tak ayal, jamaah IM menjadi fraksi terbesar dalam kelompok jihad di perang Afghanistan tersebut. Mereka melebur dan bergabung bersama jamaah Islam lainnya seperti Salafi Jihadi. Tak ketinggalan, kader IM yang memiliki ruh jihad tinggi, yakni Syaikh Abdullah Azam dan Muhammad Quthb (adik Sayyid Quthb) ikut melakukan eksodus dari Mesir untuk turut serta berjihad melawan penjajah.

Sekarang, kita simak realita kedua yang akan kita awali dengan sebuah pertanyaan, “Siapakah yang saat ini berkomitmen mempertahankan dan berjuang untuk membela tanah Palestina dari tangah penjajah Israel?”Jika kita cerdas dan mau jujur, jawaban hanya mengerucut pada satu kata, yaitu Hamas (Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah).  Hamas didirikan oleh Syaikh Ahmad Yassin yang telah berbaiat menjadi anggota cabang IM di Palestina. Latar belakang berdirinya Hamas juga tak lepas dari sikap Fatah, kelompok Islam terdahulu yang ada di Palestina dan terlalu bersikap lunak dengan penjajah Israel. Sampai saat ini, Hamas tetap komitmen menjadi sayap IM di Palestina dan tak kenal kompromi terhadap Israel. Bahkan, seringkali Israel mengajukan permohonan gencatan senjata tatkala kalah perang dengan brigade al-Qassam, sayap militer Hamas.

Saudaraku sekalian, kenalilah orang lain terlebih dahulu sebelum memberikan vonis-vonis negatif kepada mereka. Bisa jadi, mereka adalah orang baik yang terkadang kebaikannya sulit dilihat hanya karena mata kita yang pedih lantaran terkena setitik debu kejelekan.

Silahkan ambil kesimpulan. Semoga Allah merahmati. Barakallahu fii Umrik.

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Fauzan ‘Adziimaa
Mahasiswa master kampus NTUST, Taiwan dan merupakan alumnus kampus ITS Surabaya. Sejak menjadi mahasiswa telah aktif di Lembaga Dakwah Kampus JMMI ITS dan berbagai kegiatan kemahasiswaan lainnya seperti himpunan, klub keilmiahan, dll.

Lihat Juga

Pangeran Turky Al-Faishal (aljazeera.net)

Hamas Bantah Pernyataan Al-Amir Turky Al-Faishal

Figure
Organization